KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keenganan Akseptor KB Untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi IUD Di Puskesmas

26 October 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah. Masalah utama yang dihadapi diIndonesia adalah dibidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan Program Keluarga Berencana.
Program KB ini dirintis sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970 terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini salah satu tujuannya adalah penjarangan kehamilan mengunakan metode kontrasepsi dan menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk.
Pendapat Malthus yang dikutip oleh Manuaba (1998) mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengembangkan sumber daya alam laksana deret hitung, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret ukur, sehingga pada suatu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia telah menjadi kenyataan.
Berdasarkan pendapat di atas, diharapkan setiap keluarga memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan berkenaan dengan hal tersebut. Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi “Keluarga berkualitas 2015” untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sarwono, 2003 ).
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara ini kegiatan Keluarga Berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Bila dilihat dari cara pemakaian alat kontasepsi dapat dikatakan bahwa 51,21 % akseptor KB memilih Suntikan sebagai alat kontrasepsi, 40,02 % memilih Pil, 4,93 % memilih Implant 2,72 % memilih IUD dan lainnya 1,11 %. Pada umumnya masyarakat memilih metode non MKJP. Sehingga metode KB MKJP seperti Intra Uterine Devices (IUD). Implamt, Medis Operatif Pria (MOP) dan Medis Operatif Wanita (MOW) kurang diminati. (www. bkkbn. go. id, 2005).
Berdasarkan data dari BKKBN propinsi Lampung akseptor aktif IUD sebanyak 13,01%. Kabupaten Kota Madya Metro jumlah peserta KB aktif IUD 2.541 orang atau 14,61 % dari seluruh metode KB. Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas ........... ....... ...... tahun 2010, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) adalah 4.037 jiwa, sedangkan yang menjadi peserta KB aktif adalah 3.632 jiwa. Dengan perincian sebagai berikut : KB Pil 1.341 orang atau 36,92 %, KB Suntik 1.174 orang atau 32,32 %, KB Implant 548 orang atau 15,08 %, KB IUD 395 orang atau 10,87%, KB MOW 146 orang atau 4,01 %, KB MOP 18 orang atau 0,49%, KB Kondom 10 orang atau 0,27 %.
Berdasarkan prasurvey di Puskesmas ........... ....... ...... bahwa pengguna alat kontrasepsi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang khususnya IUD dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi, usia, paritas, pendidikan. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur) yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan pil, suntik dan kondom. Namun pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD), susuk (Implant) dan kontap (Vasektomi dan Tubektomi). Metode ini lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil, kondom maupun suntikan(www.bkkbn.go.id,1998). Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang mempengaruhi Keenganan Akseptor KB untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi IUD ” .

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil prasurvey di Puskesmas ........... ....... ...... dari jumlah peserta KB aktif 3,632orang yang hanya menjadi peserta KB IUD hanya 10,87%. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi, usia, paritas, pendidikan. Dengan demikian peneliti ingin mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ........... Kecamatan ....... ...... tahun 2010” .

1.4 Pertanyaan Peneliti
1.4.1 Apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ...........?
1.4.2 Apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ........... ?
1.4.3 Apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD diPuskesmas ...........?
1.4.4 Apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ...........?

1.5 Tujuan
1.5.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
b. Untuk mengetahui apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
c. Untuk mengetahui apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
d. Untuk mengetahui apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD.

1.6 Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas ........... Kecamatan ....... ......
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna peningkatan pelayanan kontasepsi IUD demi terciptanya metode kontraswpsi efektif dan berjangka panjang.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat kontrasepsi IUD dan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.
3. Bagi akseptor IUD (Responden)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat setempat untuk mengerti dan memahami tentang fungsi, manfaat, serta efektifitas kontrasepsi IUD sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi IUD semakin bertambah.
4. Bagi Peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman dan wawasan dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah.
5. Bagi Peneliti Lain
Agar dapat dijadikan masukan dalam penelitian serupa dan dapat lebih memperdalam penelitian yang sudah ada.
1.6 Ruang Lingkup
Ruang Lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Objek Penelitian : Faktor- faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
2. Subjek Penelitian : Seluruh akseptor KB di wilayah Pusksesmas ........... Kecamatan ....... ......
3. Lokasi Peneliti : Wilayah Puskesmas ........... Kecamatan ....... ......
4. Waktu Penelitian :
5. Jenis Penelitian : Studi Deskriptif dengan pendekatan cross sectional
6. Alasan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas ........... ....... ...... Tahun 2010


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.40

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Memilih Penolong Persalinan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mortalitas dan Morbiditas pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah yang besar dinegara miskin dan berkembang seperti Indonesia. Menurut Women Of Our World 2005 yang diterbitkan oleh Population Reference Bureau (2005) Angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 230 kematian per 100.000 kelahiran hidup, angka ini masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan beberapa Negara ASEAN.
Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena hamil, bersalin dan nifas. Sebagian besar dari komplikasi – komplikasi tersebut sebenarnya dapat ditangani melalui penerapan teknologi kesehatan yang ada. Namun demikian banyak faktor yang membuat teknologi kesehatan kurang dapat diterapkan mulus ditingkat masyarakat diantaranya ketidaktahuan, kemiskinan, rendahnya status sosial ekonomi perempuan, terbatasnya kesempatan memperoleh informasi dan pengetahuan baru, hambatan membuat keputusan, terbatasnya akses memperoleh pendidikan memadai dan kelangkaan pelayanan kesehatan yang peka terhadap kebutuhan perempuan juga berperan terhadap situasi ini.
Faktor-faktor inilah yang menyebabkan masih banyak masyarakat Indonesia berorientasi pada pertolongan persalinan oleh dukun dengan segala keterbatasannya (Sarwono 2006).
Salah satu upaya pemerintah dalam rangka mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu adalah dengan mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap Ibu yang membutuhkan. Untuk itu sejak tahun 1990 telah ditempatkan bidan di desa dengan polindesnya. Dengan penempatan bidan di desa ini diharapkan peranan dukun makin berkurang sejalan dengan makin tingginya pendidikan dan pengetahuan masyarakat dan tersedianya fasilitas kesehatan, namun pada kenyataanya masih banyak persalinan yang tidak ditolong oleh bidan melainkan oleh dukun. Departemen kesehatan RI memperkirakan bahwa pertolongan persalinan oleh dukun masih mendominasi terutama didaerah pedesaan yaitu mencapai 75% sampai 80% (Manuaba 1998).
Masih banyaknya pengguna jasa dukun disebabkan beberapa faktor yaitu lebih mudahnya pelayanan dukun bayi, terjangkau oleh masyarakat baik dalam jangkauan jarak, ekonomi atau lebih dekat secara psikologi, bersedia membantu keluarga dalam berbagai pekerjaan rumah tangga serta berperan sebagai penasehat dalam melaksanakan berbagai upacara selamatan (Manuaba, 1998).
Keadaan tersebut menuntut peningkatan pelayanan kebidanan yang bermutu sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan masyarakat yang semakin meningkat.
Untuk kabupaten ..............., cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sekitar 4.283 (71,5%) dari 5.986 persalinan. Yang paling rendah cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah di Puskesmas ............. Pada tahun 2005 jumlah persalinan diwilayah kerja puskesmas ............ adalah 158 orang, dari jumlah tersebut 92 (58,61%) ditolong oleh dukun dan 66 (41,39%) ditolong oleh bidan. Dan pada tahun 2006 jumlah persalinan mencapai 177 orang dimana 84 (47,81%) ditolong oleh bidan dan 93 (52,19%) ditolong oleh dukun. Dengan demikian rata-rata pemilihan pertolongan persalinan oleh dukun di wilayah kerja puskesmas ............ pada dua tahun terakhir (2005-2006) sekitar 53,21%. Dari pertolongan persalinan oleh dukun ini menimbulkan berbagai masalah diantaranya partus lama mencapai 5%, infeksi 3,6% dan kematian bayi baru lahir 2% (profil kabupaten ...............).
Sarana kesehatan yang tersedia diwilayah kerja Puskesmas ............ yaitu Polindes 4 buah. Tenaga bidan di Puskesmas ............ 3 orang, setiap bulannya pertolongan persalinan rata-rata 3 sampai 4 orang (Profil Puskesmas ............).
Berdasarkan permasalahan-permasalahan diatas penulis tertarik mengadakan penelitian untuk menggali faktor-faktor apa yang mempengaruhi Ibu dalam memilih penolong persalinan.

B. Perumusan Masalah
Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi Ibu dalam memilih penolong persalinan diwilayah kerja Puskesmas ............ Kabupaten ............... ........... ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Ibu dalam memilih penolong persalinan diwilayah kerja Puskesmas ............ Kabupaten ............... ............
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang penolong persalinan.
b. Untuk mengetahui sikap Ibu terhadap penolong persalinan.
c. Untuk mengetahui penghasilan Ibu yang mendukung dalam pengambilan keputusan untuk memilih penolong persalinan.
d. Untuk mengetahui jarak rumah Ibu dengan penolong persalinan.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas kesehatan kabupaten ...............
Sebagai masukan tentang kualitas pelayanan KIA dan dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan.
2. Bagi Puskesmas ............
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang bagaimana Ibu memilih bidan dan dukun bayi sebagai penolong persalinan yang dapat dijadikan sebagai masukan dalam peningkatan kualitas pelayanan kebidanan.
3. Bagi Institusi Pendidikan.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian pustaka bagi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan penelitian lebih lanjut.
4. Bagi Peneliti.
Menambah wawasan dan pengetahuan dalam penelitian dan meningkatkan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Ibu dalam memilih penolong persalinan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.39

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Anemia Dalam Kehamilan Di BPS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI Negara-negara ASEAN lainnya. Menurut SDKI tahun 2002/2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kehamilah hidup, sementara itu di negara tetangga Malaysia sebesar 36 per 100.000 kelahiran hidup, di Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, bahkan di Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menurunkan AKI, termasuk diantaranya program safe Motherhood yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1988, upaya ini telah berhasil menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup ditahun 1985 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997.
Tiga pesan kunci MPS adalah setiap persalinan ditolon oleh tenaga kesehtan terlatih, setiap komplikasi obsterti dan neontal mendapat pelayanan yang adekut dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dari penatalaksanaan MPS, target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. (www.hanyawanita.com:2006)
Frekuensi ibu hami dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5% sedang di Amerika 6%. Kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terdapat ibu hamil merupakan perdisposis anemia divisiensi di Indonesia (Saifuddin, 2006 : 281). Menurut WHO kejadian anemia kehamilan berkisar antara 20% sampai 89% dengan menetapkan Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Hoo Swie Tjiong menemukan angka anemia kehamilan 3,8 % pada trimester 1,13% trimester II < dan 24,8 % pada trimester III. Akrib Sukarman menemukan sebesar 40,1 % di Bogor. Bakta menemukan anemia hamil sebesr 50,7 % di Pukesmas Kota Denpasar sedangkan Shindu menemukan sebesar 33,4 % di Pukesmas Ngawi. Simanjutak mengemukakan bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia kekurangan gizi. Pada pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat adalah karena kekurangan zat besi yang diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi (Manuaba, 1998 : 29)
Jika persediaan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persedian Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volum 30 % sampai 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningktan sel darah 18 % sampai 30 dan Hemoglobin sekitar 19 %. Bila hemoglobin ibu sebelum sekitar 11 gr % maka fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5 sampai 10 gr % (Manuaba, 1998 : 30).
Akan tetapi dalam kenyataan tidak semua ibu hamil yang mendapatkan tablet zat besi meminumnya secara rutin, hal ini bisa disebabkan kerena faktor ketidak tahuan pentingnya tablet zt besi untuk kehamilannya. Dampak yang diakabitkan minum tablet zat besi penyerapan/respon tubuh terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidaki terjadi peningkatan kadar HB sesuai dengan yang diharapkan. Faktor ini yang berhubungan dengan anemia adalah adanya penyakit infeksi bateri, parasit, usus seperti cacing tabang, malaria. Faktor sosial ekonomi yang rendah juga memang peranan penting katiannya dengan aspun gizi ibu selama hamil (http://www.bppsdm.depkes.go.id).
Berdasarkan hal-hal di tas penulis merasa tertarik untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia di BPS ........... ........ ...... ........... ......

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pernyataan di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana tingkat pengetahuan Ibu Hamil tentang anemia di BPS ........... ........ ...... Lampung-Timur?”.

C. Ruang Lingkup
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu hamil Trimester III dengan usia kehamilan di atas 37 minggu
3. Objek Penelitian : Ibu hamil Trimester III dengan usia kehamilan di atas 37 minggu yang mengalami anemia di BPS ........... ........ .......
4. Lokasi Penelitian : BPS ........... ........ ......
5. Waktu Penelitian : April s/d Mei 2008
6. Alasan : Karena masih ada ibu hamil dengan anemia di BPS ........... ........ .......

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil di BPS ........... ........ .......
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil dengan anemia di BPS ........... ........ ...... ........... .....
b. Untuk mengetahui berapa banyak ibu hamil yang mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan di BPS ........... ........ ...... ........... .....
c. Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi ibu hamil dengan anemia di BPS ........... ........ ...... ........... .....

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan penerapan hasil studi
2. Lokasi penelitian
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan penatalaksanaan anemia
3. Bagi institusi pendidikan
Untuk menambah refrensi perpustakaan dan untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
4. Bagi penelitian lain
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian di tempat ini.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.38

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas Di BPS Wilayah Kerja Puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang lamanya kira-kira 6 minggu (Maternal Neonatal, 2002)
Dalam masa nifas diperlukan suatu asuhan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis serta memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Pada asuhan masa nifas yang berhubungan dengan nutrisi, ibu nifas mempunyai kebutuhan dasar yaitu minum vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
Vitamin A adalah suatu vitamin yang berfungsi dalam sistem penglihatan, fungsi pembentukan kekebalan dan fungsi reproduksi (Depkes RI, 2007). Vitamin A perlu diberikan dan penting bagi ibu selama dalam masa nifas. Pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, sehingga meningkatkan status vitamin A pada ibu yang disusuinya.
Pada tahun 1998, badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa ibu dan bayi yang disusuinya akan mendapatkan manfaat dari pemberian satu kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) yang diberikan paling lambat 60 hari (8 minggu /2 bulan) setelah melahirkan. Berbagai studi menunjukkan bahwa, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi (200,000 SI) seperti yang direkomendasikan sebelumnya dirasakan kurang memadai. Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative Goup (IVCG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya menerima 400,000 SI atau dua kapsul dosis tinggi @ 200,000 SI. Pemberian kapsul pertama dilakukan segera setelah melahirkan, dan kapsul kedua diberikan sedikitnya satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian.
Pedoman nasional yang ada saat ini merekomendasikan bahwa 100% ibu nifas menerima satu kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI paling lambat 30 hari setelah melahirkan. Walaupun begitu data NSS di beberapa Propinsi menunjukkan bahwa cakupannya hanya berkisar 15 – 25% saat ini, ibu nifas mungkin mendapatkan kapsul vitamin A bila mereka melahirkan di Puskesmas atau rumah sakit. Walaupun begitu tidak tertutup kemungkinan ibu nifas mendapatkan kapsul vitamin A melalui kader atau bidan di desa saat mereka melakukan kunjungan rumah.
Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, mayoritas ibu masih melahirkan dirumah, sering terjadi bahwa bidan ataupun mereka yang membantu kelahiran tidak selalu memiliki akses akan kapsul vitamin A. Selain itu kunjungan rumah oleh kader untuk memberikan kapsul vitamin A jarang dilakukan. Banyak ibu maupun petugas kesehatan yang tidak tahu mengenai adanya program pemerintah mengenai pemberian kapsul vitamin A ibu nifas (Buletin Kesehatan dan Gizi, 2004).
Menurut Data Dinas Kesehatan Metro Januari 2009, cakupan pemberian vitamin A yang paling rendah adalah di Puskesmas Iringmulyo yaitu 212 (30,76%) dari 689 sasaran. Untuk itu peneliti ingin mengetahui cakupan pemberian vitamin A di BPS Wilayah Kerja ............. Tahun 2009.
Berdasarkan pra survai yang peneliti lakukan pada bulan Februari di 3 BPS Wilayah Kerja Puskesmas ............. yaitu BPS D dengan jumlah persalinan 3, BPS F dengan jumlah persalinan 4, dan di BPS M dengan jumlah persalinan 4, ternyata dari ke-3 BPS hanya ada 2 BPS yang memberikan vitamin A pada ibu nifas.
Dari data Dinkes tentang cakupan vitamin A pada ibu nifas dan hasil pra survei pada 3 BPS di Wilayah Kerja Puskesmas ............. peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang "Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas ............. Tahun 2009".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah penelitian yaitu "Bagaimana Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas ............. Tahun 2009"?

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitin ini, ruang lingkup penelitiannya adalah sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas .............
3. Objek Penelitian : Pemberian vitamin A
4. Lokasi Penelitian : Kecamatan .............
5. Waktu Penelitian : Maret – April 2009
6. Alasan Penelitian : Karena cakupan pemberian vitamin A yang paling rendah adalah di Puskesmas ............. yaitu 212 (30,76%) dari 689 sasaran. Hasil prasurvey dari 3 BPS hanya 2 BPS yang memberikan vitamin A pada ibu nifas.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas ..............

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu dari perkuliahan, metode penelitian yang didapat di Akademi Kebidanan ..............

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.37

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Analisis Perbedaan Berat Badan Sebelum Dan Sesudah Menggunakan KB Suntik Di BPS

ANALISIS PERBEDAAN BERAT BADAN SEBELUM DAN SESUDAH MENGGUNAKAN KB SUNTIK DI BPS

Laju pertambahan penduduk di Indonesia dimasa ini kurang mengembirakan. Hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2004 mencapai 1,26% sedangkan jumlah kelahiran pertahun 1000 penduduk mencapai 20,02%. Adanya program KB diharapkan ada keikutsertaan dari seluruh pihak dalam mewujudkan keberhasilan KB di Indonesia. Kontrasepsi hormonal seperti suntik memiliki daya kerja yang lama, tidak membutuhkan pemakaian setiap hari tetapi tetap efektif dan tingkat reversibilitasnya tinggi. Namun setiap metode kontrasepsi tentu mempunyai efek samping tersendiri, metode hormonal seperti suntik memiliki efek samping salah satunya adalah perubahan berat badan.
Tujuan untuk mengetahui perbedaan berat badan ibu sebelum dan sesudah menggunakan KB suntik di BPS ........... tahun.
Desain penelitian ini bersifat analisis komparasi dengan pendekatan dua mean dependen (paired sample), teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dan sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mengalami kenaikan berat badan setelah menggunakan KB suntik yang ada di BPS ........... yaitu berjumlah 60 orang. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara/langsung, yaitu dengan menggunakan timbangan berat badan. Analisa data univariat dan bivariat, yaitu dengan menggunakan uji-t.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berat badan responden yang ada di BPS ........... rata-rata (mean) sebelum diberikan suntikan KB adalah 54,77 dan rata-rata (mean) sesudah diberikan suntikan KB adalah 57,08 yang berarti rentang antara sebelum dan sesudah adalah (2,3 2). Ada perbedaan suntikan KB terhadap berat badan ibu di BPS ........... tahun (p value=0,000).
Saran yang dapat penulis sampaikan bagi akseptor KB untuk dapat memanfaatkan fasilitas serta sarana dan prasarana yang diberikan oleh petugas kesehatan dalam menurunkan angka fertilitas dan menjarangkan kelahiran bayi salah satunya adalah dengan rutin melakukan menggunakan KB suntik tanpa harus khawatir secara berlebihan terhadap efek samping yang dapat ditimbulkan dari alat kontrasepsi KB seperti KB suntik.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.36

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Analisa Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Kelas Ibu Di Posyandu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI di negara-negara ASEAN lainnya. Menurut SDKI tahun 2002/2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, sementara itu di negara tetangga Malyasia sebesar 36 per 100.000 kelahiran hidup, di Singgapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, bahkan di Vietnam 160 per 100.000 kelahiran hidup. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menurunkan AKI termasuk diantaranya program Safe Matherhood yang telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1988 dengan keterlibatan aktif dari berbagai sektor pemerintah, organisasi non-pemerintah dan masyarakat serta dengan dukungan dari berbagai badan internasional, walaupun menunjukkan penurunan yang bermakna, namun target nasional untuk menurunkan AKI menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010 masih jauh untuk dicapai.
Tiga pesan-pesan kunci MPS “Making Pregnancy Safer” yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. Dari pelaksanaan MPS target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi lahir 15 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus. Sesungguhnya tragedi kematian ibu tidak perlu terjadi karena lebih dari 80% kematian dapat dicegah melalui kegiatan yang efektif, misal pemeriksaan kehamilan pemberian gizi yang memadai dan lain-lain (www. Hanya wanita. Com/2006).
Mengajarkan senam membantu pemulihan fisik mendorong istirahat, dan relaksasi rutinitas fisik kemudian dibuat pada masa antenatal untuk meningkatkan kesehatan fisik dan membantu mencegah masalah. Dalam program penekanan diberikan pada wanita hamil yang belajar rileks dan nafas dalam selama kontraksi. Thomas dan Grantly Dick Read menawarkan program persalinan dan menjadi orang tua mencakup pendidikan relaksasi dan pernapasan, sama halnya dengan bentuk pendidikan lain, telah ada gerakan dari pengajar didaktik authoritarian menjadi pendekatan terpimpin nyeri punggung bawah lazim terjadi pada kehamilan dengan insiden yang dilaporkan bervariasi kira-kira 50% di Inggris (Mantk 1994) sampai mendekati 70% di Australia (Bullock Sasyton 1988) Manhe melaporkan bahwa 16% wanita-wanita yang diteliti mengeluh nyeri punggung yang hebat dan 36%. Dalam kajian Ostgaard et al, tahun 1991 melaporkan nyeri punggung yang signifikan faktor predispasis meliputi penambahan berat badan. Nyeri punggung terdahulu pada kehamilan merupakan predikrar nyeri punggung pada kehamilan berikutnya (McEvoy et al 2001).
Materi persiapan senam untuk menjadi orang tua umumnya dibatasi hanya untuk senam abdanmen dan senam dasar panggul dan banyak ibu meminta bimbingan lanjutan dan senam dasar panggul dan banyak ibu meminta bimbingan lanjutan untuk mendapatkan senam yang bermanfaat, telah tercatat bahwa hampir 45% dari ibu –ibu usia subur mengikuti senam (Sady dan Carpter 1989), 42% dari 1.000 wanita yang melakukan senam yang di survai melanjutkan aktivitas selama mereka hamil. Ibu-ibu yang senam tidak teratur sering menjadi lebih sadar tentang kesehatan ketika hamil dan memutuskan untuk mengikuti program senam untuk memperbaiki kesehatan dan kebugaran (Hammer Etal, 2000)
Sesungguhnya senam bukanlah hal yang aneh dan luar biasa wanita-wanita di negara maju amat menyukai senam dan dalam latihan fisik baik selagi hamil maupun diluar kehamilan untuk menjaga fisik dan mentalnya. Di Indonesia hal ini baru disadari dari kelompok masyarakat kota-kota besar moderen dan maju, demikian pula halnya dengan latihan senam hamil. Latihan senam hamil yang diberikan di rumah sakit dan di rumah dengan waktu –waktu senggang secara teratur, bila tidak ada keadaan yang sangat patologis akan dapat menuntun wanita hamil ke arah persalinan yang fisiologis, perasaan takut, ketegangan jiwa dan fisik dapat menyebabkan otot dan persendian kaku sehingga berjalan tidak wajar, untuk mengatasi hal tersebut di atas agar memperoleh ketenangan dan relaksasi yang sempurna menghadapi peristiwa persalinan diperlukan 3 hal yaitu : kepercayaan pada diri sendiri, kepercayaan pada penolong dan latihan senam hamil (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. 1998)
Secara statistik telah tercatat bahwa ada tingkatan kesejahteraan psikologis yang telah tinggi yang lebih tinggi perbaikan citra tubuh dan penurunan ketidak nyamanan fisik pada ibu hamil yang menunjukkan tanda stres selama melahirkan lebih rendah dari ibu yang tidak senam. (Macphail et al 2000) menyimpulkan bahwa penurunan kemungkinan resiko melahirkan sesaria pada wanita senam yang nalipara Eileen Bryashow. 2007).
Dari dari kota Metro pelaksanaan kelas ibu dilaksanakan setiap satu bulan sekali dengan pertemuan kelas ibu 3 kali, pertemuan pertama menjelaskan materi, setelah materi selesai dilakukan evaluasi dan tanya jawab, kemungkinan dilakukan senam hamil.
Sarana kelas itu di wilayah kerja Posyandu ............ 21 ....... ...... adalah lembar kelas ibu, kaset dan tipe, bantal dan tiker untuk senam hamil serta kursi dan meja untuk ibu hamil.
Pelaksanaan kelas ibu, bidan sebagai fasilitator, senam hamil (kelas ibu) merupakan program baru dari Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, maka penulis ingin menganalisis pelaksanaan senam hamil di Posyandu ............ 21 ....... .......

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah pada karya tulis ilmiah ini yaitu "Analisa Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Kelas Ibu di Posyandu ............ 21 ....... ...... Tahun 2008".

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Sifat peneliti : Analitik
2. Subyekt Peneliti : Ibu yang melaksanakan senam hamil
3. Obyek Peneliti : Pelaksanaan senam hamil
4. Tempat Penelitian : Posyandu ............ 21 ....... ......
5. Waktu : April – Mei 2008
6. Alasan Penelitian : Dalam Pelaksanaan Senam Hamil Ada Tingkat Kesejahteraan Psokologis, dan Penurunan Ketidaknyamanan Fisik Pada Ibu Hamil yang Menjalani Rutin Dibandingkan dengan yang Baik.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan pelaksanaan senam hamil di kelas ibu di Posyandu ............ 21 ....... .......

E. Manfaat
Hasil penelitian diharapkan memberi manfaat:
1. Untuk Ibu
Untuk menambah pengetahuan bagi ibu tentang pentingnya manfaat senam hamil
2. Bagi Petugas Kesehatan
Untuk dapat meningkatkan program yang sudah berjalan
3. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan penerapan hasil studi


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.35

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (RDB) Di Puskesmas

16 October 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditandai dengan demam mendadak, pendarahan dikulit maupun dibagian tubuh lainnya yang dapat menimbulkan syok bahkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dengan perantara nyamuk Aedea Agypti. (Krianto, 2009).
Tentu mencegah selalu lebih baik daripada mengobati artinya kita perlu selalu waspada dengan keberadaan nyamuk penyebab demam berdarah. Nyamuk Aedes Agypti senang sekali tumbuh dan berkembang di genangan air yang bersih, seperti penampungan air, bak mandi, pot bunga, dan gelas. Mungkin tempat – tempat tersebut pernah dikira sebagai lingkungan yang dipilih hewan ini. Oleh karena itu populasi nyamuk ini meningkat di musim hujan. (Satari, 2009)
Penyakit demam berdarah di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1958 sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia. Mulai saat itu penyakit inipun menyebar luas kepenjuru Indonesia. Kejadian luar biasa (KLB) terjadi pada tahun 1998 dimana Departemen Kesehatan RI mencatat sebanyak 2.133 korban terjangkit penyakit ini dengan jumlah korban meninggal 1.414 jiwa.
Demam berdarah banyak ditemukan didaerah tropis dan sub tropis. Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita demam berdarah di tiap tahunnya. Word Health Organization (WHO) mencatat Negara Indonesia sebagai Negara dengan kasus demam berdarah tertinggi di Asia Tenggara.. (www.Datinkes.worpress.com.2010).
Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia selama tahun 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data sementara direktorat pengendalian penyakit bersumber binatang kementerian kesehatan, jumlah kasus dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) selama tahun 2009 sebanyak 137.600 kasus dengan 1.170 kematian, sedangkan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tahun 2008 sebanyak 126.600 kasus dengan 1.1784 kematian. (http://www.pdpersi.co.id.2010).
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatera Utara pada tahun 2009 berjumlah 3.210 penderita yang meninggal 38 orang, itu data yang terkumpul hingga November daerah penderita terbanyak adalah dengan 1.275 orang dan 10 orang yang meninggal dunia. (www.google.2010).
Ketika penulis PBL (Praktek Belajar Lapaangan) di Puskesmas pada tahun 2009 lalu, penulis pernah melihat masyarakat melaporkan bahwa didaerahnya ada yang menderita kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), dan berdasarkan data laporan sementara Puskesmas Tahun 2009, jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dari bulan Januari – November sebanyak 70 orang dan 3 orang yang meninggal.
Pada tanggal 21 Januari 2011 penulis melakukan survey ke Puskesmas , jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) bertambah 5 orang di bulan Desember, jadi jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas pada tahun 2009 sebanyak 75 orang, dan masuk kedalam 10 penyakit terbesar di Puskesmas ini. (Sumber:data Laporan Puskesmas . 2009).
Berdasarkan latar belakang diatas penulis berpendapat bahwa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tergolong tinggi di Puskesmas . Maka dari itu penulis tertarik melakukan penelitian Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lingkungan III Kelurahan I Kecamatan Perjuangan Wilayah Kerja Puskesmas 2011.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lingkungan III Kelurahan I Kecamatan Perjuangan Wilayah Kerja Puskesmas 2011.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lingkungan III Kelurahan I Kecamatan Perjuangan Wilayah Kerja Puskesmas 2011.
1.3.2 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang tanda atau gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lingkungan III Kelurahan I Kecamatan Perjuangan Wilayah Kerja Puskesmas 2011.
1. Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas ditinjau dari penyebabnya.
2. Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas ditinjau dari pencegahannya.
3. Diketahuinya Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Pengobatan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas ditinjau dari pengobatannya.

1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Masyarakat
Sebagai masukan atau informasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lingkungan III Kelurahan I Kecamatan Perjuangan Wilayah Kerja Puskesmas 2011.
b. Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat memberikan informasi tentang bagaimana Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lingkungan III Kelurahan I Kecamatan Perjuangan Wilayah Kerja Puskesmas 2011.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.34

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Manfaat Mengkonsumsi Air Putih Bagi Kesehatan Tubuh

ABSTRAK

Air sangat penting bagi kehidupan. Manusia bisa hidup dengan makanan namun manusia tidak anak bisa hidup tanpa air, dalam hidup manusia air mempunyai banyak peranan yang sangat penting mulai dari mandi, mencuci, memasak, sampai semua aktivitas manusia erat hubungannya dengan air. Begitu juga dengan tubuh manusia hampir diseluruh tubuh manusia terdiri atas air, dapat juga dikatakan air terdapat pada sel hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang manfaat mengkonsumsi air putih bagi kesehatan tubuh yang dilakukan di Dusun VIII Desa Kecamatan Tahun 2011 yang dimaulai pada tanggal 12 – 13 Mei 2011. Dengan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, menyajikan, menganalisa dan menginterpretasi. Yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah semua masyarakat yang tinggal di Dusun VIII Desa Kecamatan dengan jumlah populasi sebanyak 300 responden dan peneliti mengambil sebanyak 66 responden untuk dijadikan sampel. Penelitian ini menggunakan data primer yang didapat dengan membagikan lembar kuesioner kepada responden dengan jumlah pertanyaan sebanyak 30 pertanyaan. Adapun hasil dari penelitian ini adalah dari 66 responden didapati sebanyak 16 responden (24,24%) mempunyai pengetahuan baik, sebanyak 12 responden (18,18%) mempunyai pengetahuan cukup, sebanyak 26 responden (39,4%) mempunyai pengetahuan kurang dan sebanyak 12 responden (18,18%) mempunyai pengetahuan sangat kurang. Bagi masyarakat bukanlah pendidikan yang tinggi yang menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan yang baik, namun kemauan dan motivasi untuk mencari berbagai macam informasi melalui berbagai media, baik media cetak, media elektronik maupun yang lainnya sehingga dapat meningkatkan pengetahuan.
Referensi : Sebanyak 10 buku 2003 - 2009
Kata Kunci : Pengetahuan + Manfaat Air Putih Bagi Kesehatan Tubuh

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air sangat penting bagi kehidupan. Manusia bisa hidup tanpa makanan namun manusia tidak akan mampu hidup tanpa air, dalam hidup manusia air mempunyai peranan yang sangat penting mulai dari mandi, mencuci, memasak dan semua aktifitas manusia sangat erat hubungannya dengan air.
Setiap orang mutlak membutuhkan air bersih dan sehat, namun untuk memperoleh air yang dapat dikonsumsi bukanlah hal ynag gampang, apalagi di kota-kota besar dimana terjadi pencemaran yang dapat memperburuk keadaan. Kondisi seperti ini, agak berbeda dengan di desa. Meski di daerah pedesaan belum terdapat saluran air bersih, namun air tanah yang ada masih cukup kondisinya. Meski demikian, kondisi ini akan lebih baik jika mesyarakat mengetahui persyaratan air bersih dan laya untuk kebutuhan rumah tangga.
Ancaman pencemaran terhadap kualitas air di negara kita sudah serius dan merisaukan. Pencemaran air baik dari limbahindustri. Limbah rumah tangga maupun rumah manusia. Di Negara-negara berkembang menurut laporan World Health Organization sedikitnya 30.000 orang meninggal setiap harinya karena kekurangan air bersih dan fasilitas sanitasi yang kurang sehat. Di daerah rawan banjir seperti Jakarta, sumber air minum penduduk bersumber dari sumur gali dan sumur pompa, sumber-sumber air minum tersebut jelas tidak terhindar dari kotoran,zat-zat atau benda-benda pencemar yang terbawa oleh banjir. (Sumanto,tahun 2008).
Tahun 2009, tersebut sebuah penelitian ilmiah yang berkaitan dengan pengaruh air minum bagi manusia. Penelitian The Indonesian Religional Hydration Study (THIRST) yang dipimpin Prof.Dr.Ir.Hardiansya MS menemukan, sebanyak 46,1% dari 1200 penduduk Indonesia di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur Sulawesi Selatan mengalami dehidrasi ringan, sedangkan jumlah remaja yang mengalami dehidrasi ringan lebih tinggi dibanding orang dewasa yaitu 49,5%, berbanding 42,5% ditemukan pula penyebab tingginya dehidrasi karena rendahnya tingkat pengetahuan responden akan pentingnya fungsi air bagi tubuh di Desa Dusun VIII Kecamatan Tahun 2011. berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan ditemukan sebanyak 32 responden masih menggunakan air yang berwarna kuning dan berbau.
Dari data diatas maka permasalahan adalah: masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat air bagi tubuh.

1.2. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti membuat permasalahan Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang manfaat mengkonsumsi air putih bagi kesehatan tubuh manusia di Desa Dusun VIII Kecamatan Tahun 2011

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1.Tujuan Umum
- Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang manfaat mengkonsumsi air putih bagi kesehatan tubuh.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang syarat air minum yang memenuhi standar kesehatan berdasarkan Pengetahuan
1.3.2.2 Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan jika tubuh mengalami kekurangan cairan berdasarkan Pendidikan
1.3.2.3 Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang manfaat mengkonsumsi air putih bagi kesehatan tubuh berdasarkan pekerjaan
1.3.2.4 Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang tentang manfaat mengkonsumsi air putih bagi kesehatan tubuh berdasarkan sumber informasi.

1.4. Manfaat Penelitian
1. Masyarakat dapat memahami dampak yang ditimbulkan jika tubuh mengalami kekurangan cairan
2. Bagi peneliti dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang manfaat air putih sebagai sumber kehidupan
3. Bagi institusi dapat dijadikan sebagai referensi/bacaan dari perpustakaan akademi keperawatan.
4. Dari data yang diperoleh dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya dibidang kesehatan, terutama tentang manfaat air putih bagi kesehatan tubuh.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.33

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Tingkat Pengetahuan Lansia Tentang Gizi Yang Dibutuhkan Tubuh

ABSTRAK
Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia akan membawa dampak terhadap sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah. Implikasi ekonomi yang penting dari peningkatan jumlah penduduk adalah peningkatan dalam ratio ketergantungan usia lanjut.
Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk usia lanjut. Secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan yaitu : perubahan penampilan bagian wajah, tangan, dan kulit, perubahan bagian dalam tubuh seperti : sistem saraf, perubahan pancaindra, perubahan antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajar ketrampilan baru.
Perubahan – perubahan tersebut pada umumnya mengarah kepada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga kepada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari – hari. Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengan kesehatan fisik yaitu rentanya terhadap berbagai penyakit, karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar.
Berbagai penyakit yang berhubungan dengan ketuaan antara lain Diabetes Mellitus, Hipertensi, Jantung Koroner, Reumatik dan Asma sehingga menyebabkan aktivitas bekerja terganggu. Penelitian ini bekerja untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Lansia Tentang Gizi Yang Dibutuhkan Tubuh. Penelitian ini berjenis deskriptif dimana dari 50 responden didapati 26 responden (52%) yang berpengetahuan kurang sebanyak 2 responden (4%), yang berpengetahuan baik dan yang berpengetahuan cukup sebanyak 22 responden (44%).
Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan Lansia Tentang Gizi
Daftar Pustaka : 12 Referensi (1997 – 2008)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat diseluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh jumlah penduduk. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun. Pada tahun 1980 : 55,30 tahun, pada tahun 1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun 2000 : 64,05 tahun. (BDS. 2000)
Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia akan membawa dampak terhadap sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah. Implikasi ekonomi yang penting dari peningkatan jumlah penduduk adalah peningkatan dalam ratio ketergantungan usia lanjut (old age ratio dependency). Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk usia lanjut.
Secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan yaitu perubahan penampilan bagian wajah, tangan, dan kulit, perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf, perubahan panca indra, perubahan antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajar keterampilan baru. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari.
Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengan kesehatan fisik, yaitu rentannya terhadap berbagai penyakit, karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar. Menurut data SKRT ( Survey Kesehatan Rumah Tangga) masih tinggi. SKRT tahun 1980 menunjukkan angka kesakitan penduduk usia 55 tahun keatas 25,7 persen. Berdasarkan SKRT tahun 1986 angka kesakitan usia 55 tahun 15,1 %. Dalam Penelitian Propil Penduduk Lanjut Usia di Kodya Ujung Pandang ditemukan bahwa lanjut usia menderita
Berbagai penyakit yang berhubungan dengan ketuaan antara lain diabetes mellitus, hipertensi, jantung koroner, reumatik dan asma sehingga menyebabkan aktifitas bekerja terganggu. Tekanan darah tinggi adalah penyakit kronis yang banyak diderita lanjut usia, sehingga mereka tidak dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari- hari. Jadi langkah yang tepat untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit pada lansia adalah dengan pemenuhan gizi yang memenuhi kebutuhan tubuh.
Kebutuhan gizi pada lanjut usia perlu dipenuhi secara adekuat untuk kelangsungan proses pergantian sel dalam tubuh, mengatasi proses menua, dan memperlambat terjadinya usia biologis kebutuhan kalori dasar akibat kegiatan fisik kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat. Kebutuhan kalori pada lanut usia untuk melebihi 1200 kalori. Sebaiknya disesuaikan malam kegiatannya. Kebutuhan protein normal usia lanjut adalah 1 gram / kg BB / hari.
Makanan yang mengandung lemak hewani harus dikurangi, misalnya daging sapi, daging kerbau, kuning telur, otak, dan lain- lain. Lanjut usia disarankan mengkonsumsi makanan tambahan yang banyak mengandung kalsium ( ca ) atau zat kapur, kebutuhan kalsium lanjut usia adalah 14,1 Mg / kg BB / hari.
Zat besi perlu diberikan untuk kelancaran pembentukan darah. Lanjut usia perlu diperhatikan berikan buah- buahan untuk mendapatkan vitamin, untuk menghindari konstipasi ( sembelit ). Pada lanjut usia perlu diberikan cukup makanan yang mengandung serat, misalnya beras tumbuk, akar – akar hijau, kacang – kacangan, buah-buahan, serta banyak minum ( 1500 – 2000 cc ) yang sekaligus berguna membantu kerja ginjal.
( Nugroho, 2008, hal 102 )
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang tingkat pengetahuan lansia tentang gizi yang dibutuhkan oleh tubuh di Desa ........ dusun II

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan permasalahan yang timbul adalah bagaimana pengetahuan lansia tentang gizi yang diperlukan oleh tubuh.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan lansia tentang gizi yang diperlukan oleh tubuh
1.3.2. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan lansia terhadap yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia.
2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan lansia terhadap zat gizi yang dibutuhkan

1.4. Manfaat Penelitian
1 Bagi Lansia
Yaitu dapat menambah pengetahuan dan menjadi acuan bagi lansia tentang pemenuhan gizi yang tepat.
2. Bagi peneliti
Yaitu dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti terutama tentang pemenuhan gizi yang tepat yang dibutuhkan lansia.
3. Bagi Instansi
Yaitu dapat dijadikan bahan acuan dan referensi di perpustakaan

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.32

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Penanganan Asma Pada Anak di Desa

ABSTRAK

Asma merupakan penyebab kematian kedelapan di America Serikat didapat relevan asma sekitar 3% di Inggris sekitar 5% dan pada tahun 2000 menyebutkan lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh kematian di dunia masing-masing infeksi paru 7,2% PPOK 4,8% tuberkulasis 3,0% kanker paru trakhea bronkus 2,1% dan asma 0,3% asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus oleh berbagai macam pencetus di sertai dengan timbulnya penyempitan luas saluran nafas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan responden tentang penanganan asma pada anak. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu sampel penelitian ini dengan 35 responden dimulai pada tanggal 20 Mei – 25 Mei 2011. Hasil penelitian yang diperoleh tingkat pengetahuan responden tentang penanganan asma pada anak di Dusun III Desa Kabupaten mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 18 responden (51,4%) berdasarkan pendidikan mayoritas SD sebanyak 10 responden (28,6%) berdasarkan pekerjaan mayoritas bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 26 responden (34,3%) berdasarkan usia mayoritas berusia 31 – 35 tahun sebanyak 12 responden (34,3%) berdasarkan sumber informasi mayoritas dari teman sebanyak 25 responden (71,4%). Dari hasil penelitian dapat di simpulkan pengetahuan ibu tetang penanganan asma pada arak cukup di anjurkan kepada ibu-ibu supaya lebih mencari informasi tentang penanganan asma.
Kata Kunci : Pengetahuan + Penangan Asma.
Daftar Pustaka: 9 Referensi (2003 – 2008)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran napas mengalamai penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangasangan tertentu yang menyebabkan peradangan. Pada suatu serangn asma, otot polos dari bronci mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakkan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil di ammeter saluran udara (disebut bronkokons triksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernapas. Asma merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai pada anak. Kejadian asma meningkat di hampir seluruh dunia, baik negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Peningkatan ini diduga berhubungan dengan meningkatnya industri sehingga tingkat polusi cukup tinggi.
Penyakit asma mengenai semua umur meski kekerapannya lebih banyak pada anak-anak dibandingkan dewasa. Asma lebih banyak diderita anak laki-laki, pada usia dewasa lebih banyak pada perempuan. Resiko dan tanda alergi atau asma dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandungan pun mungkin sudah dapat terdeteksi. Alergi dan asma dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan tumbuh dan kembang anak secara optimal. Perbedaan prevelensi asma pada anak di kota biasanya lebih tinggi dibandingkan di desa terlebih pada golongan sosiotetonomi rendah dibandingkan sosioekonomi tinggi pada hidup di kota meningkatkan resiko terjadinya asma baik prevelensi, morbiditas (perawatan dan kunjungan ke instansi gawat darurat) maupun mortalitasnya (lingkungan dalam rumah glongan sosioekonomi rendah mendukung pencetus asma).
Walaupun berdasarkan pengalaman klinis dan berbagai penelitian. Asma merupakan penyakit yang sering ditemukan pada anak, tetapi gambaran klinis asma pada anak sangat berpariasi bahkan berat tingginya serangan dan sering-tidaknya serangan berubah-ubah dari waktu ke waktu akibat kelainan ini kadang kala tidak terdiagnosis atau salah diagnosis sehingga menyebabkan tidak adekuat. Umumnya gejala klinis ditandai dengan adanya sesak napas dan megi (nafas berbunyi). Kelompok anak yang patut diduga asma adalah anak-anak yang menujukkan batuk dan atau megi yang timbul secara episodie, cenderung pada malam/dini hari musiman setelah aktivitas. Serta adanya riwayat asma dan atopi pada pasien dan keluarga.
Asma merupakan penyebab kematian kedelapan. Penelitian di Amerika Serikat mendapatkan prevelansi asma sekitar 3%, sementara di Inggris angkanya adalah sekitar 5%. Penelitian pada guru-guru di India menghsilan prevelensi asma sebesar 4,1%, sementara laporan dari Taiwan menunjukkan angka 6,2%. National Health Interview Survey Amerika Serikat malaporkan bahwa setidaknya 7,5% juta orang penduduk negeri itu mengidap bronchitis kronik, lebih dari 2 juta orang menderita amfisema dan setidaknya 6,5 juta orang menderita slah stu bentuk asma. Di tahun 1981 di Amerika Serikat dilaoprkan ada 60.000 kematian akibat PPOM dan keadaan yang berhubungan dengannya. Laporan ogranisasi kesehatan dunia (WHO) dalam World Health Report 2000 menyebutkan lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh kematian di dunia, masing-masing infeksi paru 7,2% PPOK 4,8%, Tuberkulosis 3,0%, kanker paru/trakea/bronkus 2,1% dan asma 0,3%.
Peningkatan penderita asma broncihial juga terjadi di Indonesia. Penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuisioner ISAAC (international Study On Asthma and Alergy In Children) tahun 1995 menunjukkan prevelensi asma masih 2,1% dan meningkat tahun 2003 menjadi dua kali lipat lebih yakni 5,2%.
Data jumlah pasien asma yang masuk ruangan gawat darurat RS Persahabatan Jakarta mengalami pengingkatan dari 1.653 pasien pada 1998 menjadi 2.210 pasien pada 2000. Ini menunjukkan penderita asma belum mengenal penyakitnya dan asmanya belum terkontrol dengan baik. Menurut survey dari berbagai Rumah Sakit, jumlah penderita asma di sejumlah provinsi yakni Bali 2,4%, Jatim 7%, Jakarta untuk anak-anak 16,5%, Malang untuk anak-anak 22%, Jakarta Timur untuk dewasa 18,3% dan Jakarta Pusat 7%. Majalah Health Today.
Dengan melihat hasil dari berbagai pendapat dan pendataan yang dilakukan terhadap bahaya asma pada anak yang kejadiannya tinggi serta cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini yang melatar belakangi penulis melakukan penelitian mengenai “Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Penanganan Asma Pada Anak Di Batang Kuis Desa Dusun III”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas di dapat rumusan masalah yaitu “Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Penanganan Asma Pada Anak Di Batang Kuis Desa Dusun III”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui “Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Penanganan Asma Pada Anak Di Batang Kuis Desa Dusun III”.
1.3.2 Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan asma pada anak berdasarkan pendidikan.
- Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan asma pada anak berdasarkan pekerjaan.
- Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan asma pada anak berdasarkan umur.
- Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan asma pada anak berdasarkan informasi.
1.3.3 Manfaat Penelitian
- Untuk Penulis
Sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan tentang penanganan asma pada anak.
- Untuk Instansi
Sebagai bahan masukan bagi Akademi Keperawatan Harapan Mama dalam bidang penelitian.
- Untuk Orang tua
Agar masyarakat lebih mengerti tentang penanganan asma pada anak.
- Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya agar hasil penelitiannya nanti lebih baik dari yang sekarang.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.31

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia

ABSTRAK

Di Sumatera Utara ditemukan penduduk yang berusia diatas 60 tahun ke atas berjumlah 631.604, sedangkan didaerah ditemukan penduduk Lansia diatas 60 tahun keatas yaitu berjumlah 61.108. Sedangkan hasil survey yang dilakukan peneliti di Dusun VIII Desa Kecamatan Tuan Kabupaten dijumpai 55 orang lansia. Lansia beresiko tinggi terhadap osteoporosis. Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui tindakan keluarga dalam pencegahan osteoporosis pada lansia berdasarkan persepsi, respon terpimpin, mekanisme dan adaptasi. Osteoporosis adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa berkurangnya kepadatan masa tulang yang berakibat meningkatnya resiko patah tulang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner dengan jumlah populasi 55 responden. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tindakan berdasarkan persepsi baik berjumlah 34 responden (61,8%), cukup berjumlah 16 responden (29,1%), kurang berjumlah 5 responden (9,1). Tindakan berdasarkan respon terpimpin baik berjumlah 42 responden (76,4%), cukup berjumlah 8 responden (14,5%), kurang berjumlah 5 responden (9,1%). Tindakan berdasarkan mekanisme baik berjumlah 25 responden (45,4%), cukup berjumlah 21 responden (38,2%), kurang berjumlah 9 responden (16,4%). Sedangkan yang melakukan tindakan berdasarkan adaptasi baik berjumlah 43 responden (78,2%), cukup berjumlah 8 responden (14,5%), kurang berjumlah 4 responden (2,3%). Dengan demikian diharapkan bagi keluarga agar lebih memperhatikan kesehatan keluarga khususnya lansia dengan tindakan osteoporosis yang tepat.
Kata Kunci : Tindakan+Keluarga+Pencegahan+Osteoporosis + Lansia
Daftar Pustaka : 12 referensi (2004 – 2007),

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penuaan sering diikuti dengan penurunan kualitas hidup sehingga status lansia dalam kondisi sehat atau sakit. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan, penurunan berbagai kemampuan organ, fungsi dan sistem tubuh ada umumnya tanda proses menua mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan menimbulkan masalah pada usia sekitar 60 tahun.
Menurut WHO, pada tahun 2009 osteoporosis menduduki peringkat kedua dibawah penyakit jantung sebagai masalah kesehatan utama dunia. Menurut data Internasional Osteoporosis Foundation lebih dari 30% wanita diseluruh dunia mengalami resiko seumur hidup untuk patah tulang akibat osteoporosis, bahkan mendekati 40%, sedangkan pada pria, resikonya berada pada angka 13%.
Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2009, dampak osteoporosis di Indonesia sudah dalam tingkat yang harus diwaspadai, yaitu mencapai 19,7% dari populasi.
Penyebab osteoporosis dipengaruhi oleh berbagai faktor dan pada individu bersifat multifaktoral seperti gaya hidup tidak sehat, kurang gerak, tidak berolahraga serta pengetahuan mencegah osteoporosis yang kurang akibat kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari mulai anak-anak sampai dewasa, serta kurangnya asupan kalsium. Maka kepadatan tulang menjadi rendah sampai terjadinya osteoporosis.
Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada orang tua juga dapat menyebabkan osteoporosis. Kekurangan magnesium juga dinyatakan sebagai salah satu penyebab osteoporosis. Magnesium terlibat dalam 300 lebih fungsi tubuh, selain untuk membantu metabolisme kalsium dan vitamin D, magnesium juga berperan langsung dalam mencegah pengeroposan tulang.
Persoalan osteoporosis pada lansia erat hubungannya dengan kemunduran produksi beberapa hormon pengendali remodeling tulang, seperti kalsitonim dan hormon seks. Dengan bertambahnya usia, hanya produksi beberapa hormon tersebut akan merosot, hanya saja penurunan produksi beberapa osteoblast, sehingga memungkinkan terjadinya pembentukan tulang, akan mengendur aktivitasnya setelah seseorang menginjak usia ke 50 disusul tahun terakhir adalah testosteron pada kurun waktu usia 45-53 tahun.
Jika dihitung secara kasar maka dengan pertambahan usia harapan hidup pada tahun 2000 diperkirakan ada sekitar 14,7% dari 15,5 juta lansia yang beresiko patah tulang osteoporosis dengn perkiraan biaya sekitar US$ 2,7 miliar, sehingga pada tahun 2015 diperkirakan jumlah lansia 24 juta dengan resiko patah tulang osteoporosis sebanyak 352.850 dengan estimasi biaya US$ 3,2 miliar.
Menurut data statistik pada tahun 2011 diperkirakan jumlah penduduk lansia diatas 60 tahun ke atas di Sumatera Utara yang dalam keadaan kesehatan baik sebanyak 242.99, yang dalam keadaan kesehatan cukup sebanyak 215.787 dan dalam keadaan kesehatan yang kurang sebanyak 172.818. Jadi jumlah penduduk lansia yang diatas 60 tahun adalah 631.604, sedangkan jumlah penduduk lansia diatas 60 tahun keatas di yang dalam keadaan baik sebanyak 21.703 dan dalam keadaan cukup sebanyak 19.222, sedangkan yang dalam keadaan kesehatan kurang sebanyak 20.183. Jadi jumlah total keseluruhan penduduk lansia yang 60 tahun keatas adalah 61.108. (http://www.datastatistik – Indonesia.com).
Berdasarkan survey yang dilakukan di Dusun VIII Desa dijumpai 55 orang lansia. Maka disinilah peneliti tertarik untuk meneliti “Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia di Dusun VIII Desa Kec. Tuan Tahun 2011”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adapun yang menjadi perumusan masalah peneliti adalah “Bagaimana Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia di Dusun VIII Desa Kec. Tuan Kab. Tahun 2011”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui “Tindakan Keluarga Dalam Pencegahan Osteoporosis Pada Lansia di Dusun VIII Desa Kec. Tuan Kab. Tahun 2011”.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan persepsi.
2. Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan respon terpimpin.
3. Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan mekanisme.
4. Untuk mengetahui tindakan keluarga terhadap pencegahan osteoporosis berdasarkan adaptasi.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Menambah pengetahuan / wawasan bagi penulis tentang osteoporosis.
2. Bagi keluarga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi keluarga dalam rangka mengevaluasi pengetahuan mereka dalam meningkatkan upaya-upaya untuk mengetahui pencegahan osteoporosis.
3. Dari data yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya dibidang kesehatan, khususnya osteoporosis pada lansia.
4. Bagi institusi sebagai referensi / bacaan di perpustakaan Akademi Keperawatan.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.30

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Prilaku Sikap dan Tindakan Keluarga Tentang Pencegahan DBD di Wilayah Kerja Puskesmas

ABSTRAK

Demam berdarah adalah salah satu penyakit infeksi yang serius, yang dikenal pula dengan sebutan DBD (Demam Berdarah Dengue) Indrawan 2007. DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 atau DEN-4 yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD lainnya.
Penelitian ini bersifat deskriftif dengan menggunakan data primer yang diambil dari hasil pengamatan (angket) dan data skunder yang diambil dari hasil pengamatan (observasi), dan wawancara (interviuw) di Wilayah Kerja Puskesmas Perjuangan, sample yang diambil sebanyak 30 orang.
Dari hasil penelitian ini berdasarkan prilaku didapatkan mayoritas berkelakuan baik 23 responden 77%, berdasarkan sikap mayoritas bersikap baik 15 responden 50%, berdasarkan tindakan mayoritas bertindak baik 19 responden 63%, prilaku, sikap, tindakan keluarga tentang pencegahan DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Perjuangan priode Mei sampai dengan Juli 2011, mayoritas berprilaku, sikap dan bertindak baik.
Diharapkan kepada semua pihak keluarga agar berprilaku bersikap dan bertindak dalam menangani demam berdarah.
Kaca Kunci : (Prilaku, Sikap, dan Tindakan pencegahan DBD)
Daftar Pustaka : (8 Reprensi tahun 2005-2009)

BAB I
PENDAHULUAN

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang dibawah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti biasanya ditandai dengan demam yang bersifat birasik selama 2 – 7 hari. Atechia dan adanya manifestasi pedarahan.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk (www.google.com).
Di Indonesia demam berdarah dari 1 Januari – 10 Agustus 2005 di seluruh Indonesia mencapai 38.635 orang sebanyak 539 penderita diantaranya meninggal dunia menurut catatan dinas kesehatan Sumatera Selatan. Jumlah kasus DBD di Sumatera Selatan sebanyak 286 kasus pada Januari dan 159 kasus pada awal sampai pertengahan Februari 2005. Jumlah penderita sejak Januari 2005 mencapai 445 kasus. Palembang merupakan kota dengan jumlah penderita DBD terbanyak yaitu 192 orang pada Januari, dan 57 orang pada Januari.
Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan didaerah tropis dan subtropics Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD ditiap tahunnya sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009. Word Health Organization (WHO) mencatat Negara Indonesia sebagai negara dengan kasus demam berdarah tertinggi di Asia Tenggara, dari jumlah keseluruhan kasus tersebut sekitar 95% terjadi pada anak.
Di Sumatera Utara, Mei 2009 tercatat 1349 kasus demam berdarah dengan angka kematian 17 orang, jumlah tersebut hasil rekapitulasi setiap Kabupaten / Kota. dari data itu diketahui angka kesakitan atau insiden rate (1A) hingga Mei 2009 ada 10.37% dari 100.000 penduduk dan angka kematian atau case fatality (CPR) mencapai 1.26%. (http://berita sore.com/2000).
tahun 2010 diprediksi puncak terjadinya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada bulan Juli, untuk itu masyarakat dihimbau agar selalu menjaga kebersihan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Sedangkan kecamatan yang terbanyak jumlah penderita DBD yaitu Helvetia, Sunggal, Johor Baru, Denai kota, sementara berdasarkan insiden rate (angka kejadian) dibanding jumlah penduduk yaitu Kecamatan Baru berdasarkan kasus berada di Kecamatan Helvetia (http.detinkesulsel.Word Press.com).
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatera Utara pada tahun 2009 berjumlah 3.2.10 penderita yang meninggal 38 orang itu adalah data yang terkumpul hingga November daerah penderita terbanyak adalah dengan 1275 orang dan 10 orang yang meninggal.
Dilihat dari angka kematian diatas satu persen, maka penyakit DBD lebih berbahaya dari Flu HINI, kata Kepala Dinas Kesehatan dr Sandra Syafei SpoG Kepala Seksi Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit yang bersumber dari binatang (P3B2) Suhardiono SKM,Mkes, jumlah

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana Prilaku Keluarga Tentang Pencegahan Demam Berdarah di wilayah Kerja Puskesmas Tahun 2011.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuam Umum
Untuk mengetahui prilaku sikap dan tindakan keluarga tentang pencegahan demam berdarah diwilayah Kerja Puskesmas Tahun 2011.
1.3.2 Tujuan Khsus
- Untuk mengetahui prilaku keluarga tentang pencegahan demam berdarah dengue di wilayah Kerja Puskesmas Tahun 2011.
- Untuk mengetahui sikap keluarga tentang pencegahan demam berdarah dengue di wilayah Kerja Puskesmas Tahun 2011.
- Dan untuk mengetahui tindakan keluarga tentang pencegahan demam berdarah dengue di wilayah Kerja Puskesmas Tahun 2011.

1.4 Manfaat Penelitian
- Hasil Penelitian ini dapat digunakan untuk masukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penyakit demam berdarah dengue, baik gejala, penyebab, pencegahan maupun pengobatan.
- Sebagai informasi ilmu pengetahuan masyarakat khususnya kasus penyakit demam berdarah dengue yang ada dilingkungannya.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.29

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Prilaku Pasien Penderita Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Terapi Hemodialisa Di RSU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Ginjal adalah salah satu organ sistem kemih atau uriner (traetsu urinalius) yang bertugas menyaring dan membuang cairan, sampah metabolisme dari dalam tubuh seperti diketahui setelah msel-sel tubuh mengubah, makanan menjadi energi, maka akan dihasilkan pula sampah sebagai hasil sampingan dari proses metabolisme tersebut yang harus dibuang segera agar tidak meracuni tubuh (Vita Health, 2008. hal 1.1)
Gagal ginjal (renal atau Kidncy Falture) adalah kasus menurun fungsi ginjal yang terjadi secara akut (kambuhan) maupun kronis (menahun). Dikatakan gagal ginjal akut (acute renal falture), tetapi kemudian dapat kembali normal setelah penyebabnya dapat segera diatasi. Gagal ginjal kronis sama dengan hipertensi, penyakit ikutan yang saling berkaitan, termasuk silent killer yaitu penyakit mematikan.
Gagal ginjal juga bisa juga sebagai akibat penyakit ginjal turunan. Namun, menurut Dr, Tunggul Situmorang SpPd. RGIT, Direktur Utama Rs. Eikini, kalau dulu. Penderita radang ginjal kronis tahap akhir disebabkan oleh radang ginjal menahun. Sekarang sudah penyebabnya ke komplikasi penyakit metabolik dan penyakit generatif .
Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal yang cukup tinggi. Menurut data dari Penetri (Persatuan Netrologi Indonesia) di perkirakan ada 70 ribu penderita ginjal di Indonesia, indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal cukup tinggi. Namun yang terdeteksi menderita gagal ginjal kronis tahap terminal dari mereka yang menjalani cuci darah (emodialim) hanya sekitar 4 ribu – 5 ribu saja ini dari jumlah penderita ginjal yang mencapai 4500 orang. Banyak penderita yang meninggal dunia akibat tidka mampu berobat dan cuci darah yang bianya sangat mahal ”kata Sri Soedarsono Ketua Yayasan Pembinan Asuhan Bunda (YPAB) Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) di sela acara peringatan ulang tahun Ke-16 Rumah sakit tersebut. Ditambahkan oleh dr. Rully MA Roesli PhD, SpPd-KGH Internis Neurologis Ny R.A Habibie yang juga ketua yayasan peduli ginjal dalam seminar ”Hidup Sehat Dengan Gagal Ginjal” di Semarang, gagal ginjal tergolong jenis penyakit dengan gejala yang kurang jelas, khususnya pada stadium awal. Gagal ginjal bisa semua menyerang semua golongan umur pria dan wanita tidak memandang tingkatan ekonomi. (Vita Health,2008, hal 9).
Di negara maju, angka penderita gangguan ginjal cukup tinggi. Di Amerika Serikat misalnya angka kejadian penyakit gagal ginjal meningkat tajam dalam 10 tahun. Tahun 1996 terjadi 166.000 kasus. GGT (gagal ginjal tahap akhir) dan pada tahun 2000 menjadi 372.000 kasus. angka ini diperkirakan, amsih akan terus naik. Pada tahun pada tahun 2010 jumlahnya diperkirakan lebih dari 650.000 kasus.
Selain diatas, sekitar 6 juta hingga 20 juta individu di Amerika diperkirakan mengalami GGK (gagl ginjal kronis) tahap awal. Hal yang sama juga terjadi di Jepang di negeri Sakura itu, pada akhir tahun 1996 di dapatkan sebanyak 167.000 penderita yang menerima, terapi pengganti ginjal. Sedangkan tahun 2000 terjadi peningkatan lebih dari 200.000 penderita. (Santoso Djoko, 2008. Hal 2).
Hingga tahun 2015 diperkirakan sebanyak 36 juta orang warga meninggal akibat gagal ginjal, penyajit ginjal kronik merupakan penyakit yang diderita oleh 1 dari 10 orang dewasa. Di Indonesia, kata rachmat penyakit gagal ginjal kronik semakin banyak diderita masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari data kunjungan ke poli ginjal, hipertensi di rumah sakit dan semakin banyaknya penderita yang harus mengalami cuci darah.
Pada tahun 2008 jumlah pasien mencapai 2260 orang, salah satu faktor penyebab meningkatnya angka penderita gagal ginjal dari tahun ke tahun di dunia ini salah satunya. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap infeksi dini penyakit tersebut. (http://vida-ners. Blogspot.com).
Bila seseorang mengalami penyakit ginjal kronik sampai pada stadium 5 atau telah mengalami penyakit ginjal kronik (gagal ginjal) dimana laju filtrasi glomerulus (15 ml/menit) ginjal tidak mampu lagi menjalankan seluruh fungsinya dengan baik maka dibutuhkan. Terapi untuk menggantikan fungsi ginjal. Hingga saat ini dialisis dan transplantasi ginjal adalah tindakan yang efektif sebagai terapi untuk gagal ginjal terminal (Nikon D. Cahyaningsih, 2009. hal:1).
Karena fungsi ginjal yang demikian kompleks dan penting apabila satu fungsinya tidak dapat dilakukan, ginjal dapat dianggap gagal dan mempunyai akibat yang menyengsarakan dan berlarut-larut. Gagal ginjal bisa terjadi sewaktu-waktu tetapi umumnya gagal ginjal terjadi secara bertahap dan bisa diperlambat atau dihentikan jika dilakukan pemeriksaan secara dini. (Milriy, 2002).
Di Sumatera Utara tepatnya di rumah sakit umum pusat Haji Adam malik. Jumlah penderita GGK yang menjalani Hemodialisa pada bulan Desember yang berjumlah 186 orang.
Ketika Penulis meninjau PBI (praktek belajar lapangan pada tahun 2009 lalu. Penulis melihat bahwa penderita gagal ginjal yang menjalani terapi hemodaralisa bukan saja orang dewasa diatas 40 tahun keatas melainkan ada yang berusia 25 tahun. Penulis berpikir bahwa perilaku pasien juga sangat berpengaruh dalam menjalani terapi hemodralisa, setelah dilakukan survey pada tanggal 22 – 28 Maret 2011, penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisa di RSU pada tahun 2009 jumlah 238 orang dan bulan Maret 2011 jumlah pasien cuci darah berkisar 40 orang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat di rumusan masalah Bagaimana ” Prilaku Pasien Penderita Gagal Ginjal Kronik yang menjalani terapi Hmodialisa di RSU Tahun 2011 ”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui ” Prilaku Pasien Penderita Gagal Ginjal Kronik yang mengalami terapi Hemodialisa di RSU Tahun 2011 ”
1.3.2 Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui pengetahuan pasien penderita gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa
- Untuk mengetahui sikap pasien penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa
- Untuk mengetahui tindakan pasien penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa

1.4 Manfaat Penelitian
- Sebagai wahana bagi penulis untuk memperoleh informasi tentang riset keperawatan bagi mahasiswa/i sebagai bahan masukan yang penting untuk dikembangkan pada penelitian selanjutnya
- Bagi penderita gagal ginjal kronik :
Sebagai informasi tentang bahaya penyakit gagal ginjal dan pentingnya tindakan hemodialisa bagi hidup penderita gagal ginjal kronik
- Bagi instansi ( RSU )
Supaya dapat melihat faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat penderita gagal ginjal kronik untuk mengalami hemodialisa
- Untuk Peneliti
Adanya pengalaman baru bagi peneliti dan sebagai bahan rujukan atau contoh bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.28

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Peran Perawat Dalam Melaksanakan Tindakan Imobilisasi Pada Pasien Caesarea di Rawat Inap RSU

ABSTRAK

Imobilisasi merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat perawatan pasien bedah postpartum persalinan caesar. Imobilisasi keperawatn adalah imobilisasi yang dilakukan perawat untuk memperlancarkan peredarahan darah, mempercepat terjadinya partus dan menghindari komplikasi lainnya. Peran merupakan prilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status, jenis – jenis peran menurut Mareno dapat dibedahkan menjadi 3 macam yaitu : peran psikosomatik, peran sosial, dan peran psikodramatik. Faktor – faktor yang mempengaruhi tindakan – tindakan yaitu : persepsi, respon terpimpin, mekanisme, dan adopsi. Penelitian ini dilakukan di RSU dari Juni 2011 sampai dengan selesai. Jenis penelitian yang digunakan yaitu bersifat deskriptif yaitu dengan 15 responden, tindakan imobilisasi pada pasien Caesar berdasarkan pemberi asuhan keperawatan, mayoritas baik yaitu sebanyak 15 responden (100%), berdasarkan advokat mayoritas baik yaitu 15 responden (100%), berdasarkan edukator mayoritas baik sebanyak 13 responden (87%), minoritas cukup sebanyak 2 responden (13%), berdasarkan kolaborasi mayoritas baik sebanyak 14 responden (93%), minoritas kurang sebanyak 1 responden (7%), berdasarkan konsultan mayoritas baik sebanyak 14 responden (93%), minoritas cukup sebanyak 1 responden (7%), berdasarkan pembaharui mayoritas baik sebanyak 14 responden (93%), minoritas cukup sebanyak 1 responden (7%). Jadi dapat disimpulkan bahwa peran perawat dalam melaksanakan tindakan imobilisasi pasien Caesar di rawat inap RSU adalah mayoritas baik, dengan demikian diharapkan kepada perawat khususnya perawat RSU agar lebih meningkatkan peran perawat dalam melaksanakan tindakan imobilisasi pasien Caesar, baik dalam mengikuti pelatihan, berdiskusi, berkolaborasi atau berbagi informasi dari teman yang lebih berpengalaman.
Kata Kunsi : Imobilisasi + Caesar
Daftar Pustaka : 7 Referensi (2001 – 2009).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang dan mobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas. Mobilisasi parsial. Beberapa klien mengalami kemunduran selanjutnya berada diantara rentang mobilisasi –mobilisasi. Tetapi pada klien lain, berada pada kondisi imobilisasi mutlak dan berlanjut sampai jangka waktu tidak terbatas.
Mobilisasi atau imobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah teratur dan mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup, hal ini penting untuk kemandirian klien.
Mobilisasi merupakan faktor yang menonjol dalam mempersepsi pemulihan pasca beda post partum persalinan caesar.
Di sekitar kesehatan sendiri, upaya yang dilakukan akan lebih mengutamakan upaya kuratif, promotif, tanpa meninggalkan preventif dan rhabilitatif. Tindakan bedah sectio caesaria merupakan upaya untuk mengobsti (kuratif) suatu penyakit dan meringankan untuk dapat menyelamatkan nyawa ibu maupun janin. Bedah caesar kadar menjadi alternatif perslainan yang mudah dan nyaman.
Imobilisasi keperawatan adalah mobilisasi yang dilakukan perawat untuk memperlancarkan peredaran darah, mempercepat terjadinya platus dan menghindari komplikasi lainnya. Tindakan imobilisasi dibantu oleh perawat agar pasien mau melakukan tindakan mobilisasi dini dengan mengabsikan rasa malas dan sedikit nyeri juga rumor yang berpendapat bahwa jika banyak bergerak setelah operasi maka jahitan operasi akan lepas.
Menurut WHO tentang 3.509 kasus sectio caesar pada tahun 2009, indikasi sectio caesaris adalah disporporsi repcio peluik (21%), sedangkan indikasi lain adalah gawat janin (14%) plasenta pravis (11%), sectio caecaris (30%), preelamsi dan hipertensi (7%).
Nmaun berkat kemajuan antibiotik, tranfusi darah, anartesi dan tehnik operasi lebih sempurna kecenderungan untuk melakukan operasi ini tanpa dasar indikasi yang cukup kuat.
Survei sederhana pernah dilakukan oleh Prf. Dr. Gulardi dan Dr. A Bassalomah terhadap 64 rumah sakit di Indonesia hasilnya tercatat 18.665 kelahiran pada tahun 2009. dari angka kelahiran tersebut, sebanyak 19.5%, 27.3% diantaranya merupakan operasi caesar karena danya komplikasi chepao pelvis disprotion/CPO (ukuran lingkar pinggul ibu tidka sesuai tingkat kepala janin).
Berikutnya operasi caesar akibat pendarahan hebat yang terjadi selama persalinan sebanyak 11.8%-21% dan kelahiran caesar karena janin sungsang berkisar 43%-81.7%. data lain yang didapat dari RSUP N. Cipto mengunkusumo Jakarta. Tahun 2000-2009 menyebutkan bahwa dari jumlah persalinan sebanyak 404/bulan 30% diantaranya merupakan persalinan caesar, 52.5% adalah kelahiran spontan, sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti occum dna forsep. Berdasarkan persentase kelahiran caesar tersebut, 13.7% disebabkan oleh gawat janin (denyut jantung janin lemah menjelang persalinan) dan 24% karena ukuran janin terlalu besar sehingga tidak dapat melewti pinggul ibu. Sisanya sekitr 13.9% dilakukan tanpa melakukan pertimbangan medis.
Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawaan dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebtuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas penulis mengambil penelitian yang berjudul peran perawat dalam melaksanakan tindakan imobilisasi pada pasien caesar di ruang rawat inap di R.S. .

1,3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui peran perawat dalam melaksanakan tindakan imobilisasi pasien caesar di rawat inap di R.S. .
1.3.2 Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui peran perawat dalam melaksanakan tindakan mobilisasi pasien caesar
- Untuk mengetahui distribusi definisi caesar
- Untuk mengetahui peran perawat dalam memberi informasi tentang tindakan imobilisasi pasien caesar berdasarkan posisi imobilisasi yaitu
1. Posisi litothomy 4. Tansderenburg
2. Gena Pectoral 5. Posisi Fowler
3. Dorsal Recumbent 6. Posisi Sims

1.4 Sasaran
Adapun sasaran penelitian ini para perawat di rawat inap di RS.
1.5 Waktu Penelitian
Waktu penelitian pelaksanaan pada bulan Juni 2011
1.6 Manfaat Penelitian
Merupakan bahan informasi dan menambah pengetahuan untuk penelitian kasus tersebut.
1.7 Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan peneliti bersifat deskriptif yaitu peran perawat dalam melaksanakan tindakan imobilisasi pasien caesar di rawat inap di RS. , .


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.27

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Peran Keluarga Pada Remaja Putri Dalam Memberikan Informasi Tentang Menstruasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menstruasi pertama sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa. Seorang anak yang akan menginjak usia remaja akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, baik dalam ukuran bentuk tubuh, maupun psikologis dan fungsi sosial. Perubahan-perubahan tersebut tidak terjadi secara spontan, tetapi melalui proses yang cepat setelah menstruasi pertama.
Menstruasi merupakan siklus bulanan yang normal terjadi pada wanita subur. Menstruasi pertama bisa menjadi saat yang meresahkan bagi remaja putri, seringkali disertai dengan perasaan takut, cemas dan membingungkan. Perasaan semacam ini disebabkan karena kurangnya atau salahnya informasi yang didapat anak mengenai menstruasi.
Biasanya anak perempuan belajar tentang menstruasi dari ibunya, tetapi sebagian ibu enggan untuk membicarakan hal ini secara terbuka karena masih banyak masyarakat yang menganggap menstruasi adalah permasalahan yang tabu. Hal inilah yang menyebabkan anak memandang menstruasi sebagai suatu masalah yang negatif.
Pada sebagian remaja putri menganggap menstruasi yang dialaminya sebagai satu beban baru atau sebagai tugas baru yang tidak menyenangkan, mereka merasa dibatasi kebebasan dirinya karena mereka tidak bisa berenang atau berolahraga. Bahkan meraka harus mencuci dan membersihkan darah menstruasinya sendiri. Semua ini menjadi pengalaman baru yang kurang menyenangkan bagi dirinya.
Peranan orang tua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternative jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh remaja putrinya. Orang tua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternative supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orang tua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban diluar lingkaran orang tua dan nilai yang dianutnya ini bisa berbahaya jika lingkungan baru memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orang tua.
Dari permasalahan di atas, peneliti merumuskan masalah pentingnya peran keluarga pada remaja putri dalam memberikan informasi tentang menstruasi.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah yaitu Bagaimana Peran Keluarga Pada Remaja Putri Dalam Memberikan Informasi Tentang Menstruasi.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui peran keluarga pada remaja putri dalam memberikan informasi tentang menstruasi.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui peran keluarga pada remaja putri dalam memberikan informasi tentang menstruasi tentang tanda dan gejala yang menyertai menstruasi.
b. Untuk mengetahui peran keluarga pada remaja putri dalam memberikan informasi tentang tindakan kebersihan (hygiene) saat mengalami menstruasi.
c. Untuk mengetahui peran keluarga terhadap perubahan psikologis remaja putri yang mengalamai menstruasi.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Keluarga
Memudahkan bagi orang tua dalam proses penyampaian informasi pada remaja putri tentang menstruasi.
1.4.2 Bagi Peneliti
- Untuk menambah wawasan bagi peneliti tentang kesehatan reproduksi wanita khususnya tentang menstruasi.
- Penelitian ini memberikan motivasi diri peneliti dalam menggali berbagai informasi tentang sistem reproduksi wanita khususnya tentang menstruasi.
- Sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya untuk memudahkan melakukan penelitian dibidang kesehatan khususnya tentang menstruasi.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai referensi diperpustakaan untuk menambah informasi bagi pembaca tentang menstruasi.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan dan Kedokteran No.26

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI