KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Hubungan Sikap Ibu Terhadap Poskesdes, Tabulin Dan Dukungan Keluarga Dengan Pertolongan Persalinan Di Desa

10 November 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang besar artinya bagi pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia. (Depkes RI, 2009)
Program kesehatan ibu dan anak yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak serta menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan program kesehatan ibu dan anak untuk memanfaatkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efisien. (Depkes RI, 2008)
Menurut Suparmanto (2007) ada 4 (empat) strategi utama Depkes dalam pembangunan kesehatan. Keempat strategi itu 1) menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat; 2) meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas; 3) meningkatkan system surveilans, pemantauan, dan informasi kesehatan; 4) meningkatkan pembiayaan kesehatan. Dari seluruh startegi itu dibuat 17 sasaran prioritas dalam upaya mendukung pencapaian strategi. Diantaranya yaitu seluruh desa menjadi desa siaga; setiap orang miskin mendapat pelayanan kesehatan yang bermutu; setiap bayi, anak, ibu hamil, dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit; serta tersedia tenaga kesehatan yang kompeten.
Pembentukan desa siaga untuk menunjang upaya penurunan AKI dan AKB serta mengatasi permasalahan kesehatan lain. Hal ini dilakukan dengan menempatkan bidan dan melatih para kader dari masyarakat. Saat ini sedang dilakukan inventarisasi desa-desa mana yang ada dan tidak ada bidan. Depkes akan merekrut dan menempatkan bidan di desa yang tidak ada bidan. Tahun 2006 sudah dibentuk 12.000 desa siaga. Tahun 2007 ditargetkan terbentuk 30.000 desa siaga, tahun 2008 bertambah 16.000 desa siaga, dan tahun 2009 ada 12.000 desa siaga. Keterbatasan tenaga kesulitan untuk mencapai sasaran, misalnya penurunan AKI adalah keterbatasan tenaga dan infrastruktur. (Moedjiono, 2007)
Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya AKI, dan AKB. Berdasarkan data SDKI 2007 AKI di Indonesia menunjukkan angka 228 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut data BPS tahun 2007, AKB di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup, dan menurut (Depkes RI, 2008)
Di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 AKI maternal menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu mencapai 98 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan AKB mencapai 38 per 1.000 kelahiran hidup (Dinkes Prov. Jabar, 2008)
Sedangkan jumlah kematian ibu pada tahun 2008 di Kabupaten ............ sebanyak 28 dari 18.873 kelahiran hidup dan AKB mencapai 20 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dilihat dari penyebab kematian ibu, terbanyak disebabkan oleh perdarahan (25%), eklampsi (7,14%), infeksi (7,14%) dan lain-lain (60,71%) (Dinkes Kab. ............, 2009).
Hasil dari beberapa studi serta pengamatan atas peristiwa kematian ibu maternal, mengungkapkan bahwa penyebab utama kematian dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung dan penyebab tidak langsung, penyebab langsung biasanya terkait erat dengan kondisi kesehatan ibu sejak proses kehamilan, proses persalinan dan proses pasca persalinan. Sedangkan penyebab tidak langsung lebih terkait dengan kondisi sosial, ekonomi, geografi serta perilaku budaya masyarakat yang terangkum dalam 4 Terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu sering/rapat) dan 3 Terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat merujuk, dan terlambat mendapat pelayanan). (Depkes RI, 2008)
Pada penelitian lainnya mengungkapkan adanya hubungan positif yang sangat erat secara statistik antara penolong persalinan oleh tenaga kesehatan dengan angka kematian maternal. Semakin tinggi cakupan pertolongan kesehatan oleh tenaga kesehatan yang kompeten maka angka kematian ibu maternal akan mengalami penurunan dan sebaliknya bila cakupannya rendah maka angka Maternal Mortality Rate (MMR) akan meningkat. (Depkes RI, 2008)


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.137

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga (Suami) Tentang Infertilitas Di Kelurahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menopause merupakan suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Kondisi ini merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai berakhirnya masa subur seorang wanita. Dikatakan menopause bila siklus mensturasinya telah berhenti selama 1 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Retnowati Noor, 2001)
Sebuah Tinjauan psikologis oleh Sofia Retnowati Hoor, mengatakan bahwa ada wanita pada masa menopause mengalami gangguan fisik, seksual, sosial, dan gangguan psikologis, dan ada juga wanita tanpa mengalami berbagai keluhan baik fisik, psikologis, dan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sebagai akibat penilaiannya terhadap menopause.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan adanya perbedaan yang signifikan antara kecemasan menghadapi menopause pada wanita bekerja dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita tidak bekerja, dimana wanita bekerja kecemasannya lebih rendah (rata-rata 71,024) dari pada wanita tidak bekerja (rata-rata 103,585). Juga di Kabupaten Sidoardjo ditemukan, sebagian besar wanita tidak bekerja mengalami kecemasan ringan (36,2%) dan wanita bekerja tidak mengalami kecemasan (37,3%).
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita bekerja tidak mudah mengalami kecemasan menghadapi menopasue, karena wanita bekerja lebih mempunyai kesibukan yang dapat mengalihkan keluhan-keluhan yang dirasakannya menjelang menopause, sehingga kecemasannya lebih rendah daripada wanita tidak bekerja.
Bagi wanita yang menilai dan menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan dan berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Tuhan yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak mengalami stres (Hawari, 1996).
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, setres) yang dialami manusia sangat di tentukan oleh bagaimana individu menilai, peristiwa yang dialaminya. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat yang dapat menambah rasa cemas ibu menopause adalah saat mengalami menopause, antara lain : wanita yang mengalami menopause otomatis akan “menjadi tua” atau “waktunya sudah dekat”, kehilangan daya tarik seksualnya, periode menapouse sama dengan periode goncangan jiwa Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinan karena kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Maka sangat perlu wanita yang mengalami menopause mencari informasi yang objektif mengenai segala sesuatu yang menyangkut menopause khususnya bagi wanita yang belum mengalami menopause hal ini sangat penting. (Retnowati Noor, 2001).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia, 18 % di Cina dan 10 % di Jepang da Indonesia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat lebih meningkatkan kadar Estrogen di dalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, ehingga ketika masa menopause tiba jumlah Estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindome menopause (Liza, 2011).
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Sumatera satu kota di Indonesia, keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan rendahnya kadar estrogen atau androgen di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan nyeri senggama (93,33 %), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44 %), vagina kering (93,33 %), dan keputihan (75,55 %), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas pada vagina (84,44 %), nyeri berkemih (77,77 %), inkontenensia urin (68,88 %), (Hadrians, dkk, 2005).
Namun menurut Reiz (1993) apabila keluhan yang dialami menjelang dan ketika menopause dihadapi dengan tenang, maka akan dapat mengatasi gejolak dalam hidupnya, perkawinan, penyakit, dan situasi stress.
Menurut survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 terdapat ibu menopause dari umur 40 tahun ke atas berjumlah 327 orang.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta menerapkan ilmu-ilmu kesehatan yang telah di dapat selama pendidikan di Akademi Kebidanan .....................
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan menopause dan dapat referensi kepustakaan Akademi Kebidanan .....................
D.3. Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi ibu tentang menopause di Kelurahan ...........

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.136

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menopause merupakan suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Kondisi ini merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai berakhirnya masa subur seorang wanita. Dikatakan menopause bila siklus mensturasinya telah berhenti selama 1 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Retnowati Noor, 2001)
Sebuah Tinjauan psikologis oleh Sofia Retnowati Hoor, mengatakan bahwa ada wanita pada masa menopause mengalami gangguan fisik, seksual, sosial, dan gangguan psikologis, dan ada juga wanita tanpa mengalami berbagai keluhan baik fisik, psikologis, dan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sebagai akibat penilaiannya terhadap menopause.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pasuruan adanya perbedaan yang signifikan antara kecemasan menghadapi menopause pada wanita bekerja dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita tidak bekerja, dimana wanita bekerja kecemasannya lebih rendah (rata-rata 71,024) dari pada wanita tidak bekerja (rata-rata 103,585). Juga di Kabupaten Sidoardjo ditemukan, sebagian besar wanita tidak bekerja mengalami kecemasan ringan (36,2%) dan wanita bekerja tidak mengalami kecemasan (37,3%).
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita bekerja tidak mudah mengalami kecemasan menghadapi menopasue, karena wanita bekerja lebih mempunyai kesibukan yang dapat mengalihkan keluhan-keluhan yang dirasakannya menjelang menopause, sehingga kecemasannya lebih rendah daripada wanita tidak bekerja.
Bagi wanita yang menilai dan menganggap menopause itu sebagai peristiwa yang menakutkan dan berusaha untuk menghindarinya, maka stres pun sulit dihindari. Ia akan merasa sangat menderita karena kehilangan tanda-tanda kewanitaan yang selama ini dibanggakannya. Sebaliknya bagi wanita yang menganggap menopause sebagai suatu ketentuan Tuhan yang akan dihadapi semua wanita, maka ia tidak mengalami stres (Hawari, 1996).
Menurut pendekatan kognitif, dalam ilmu psikologis, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, setres) yang dialami manusia sangat di tentukan oleh bagaimana individu menilai, peristiwa yang dialaminya. Beberapa mitos yang berkembang di masyarakat yang dapat menambah rasa cemas ibu menopause adalah saat mengalami menopause, antara lain : wanita yang mengalami menopause otomatis akan “menjadi tua” atau “waktunya sudah dekat”, kehilangan daya tarik seksualnya, periode menapouse sama dengan periode goncangan jiwa Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinan karena kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Maka sangat perlu wanita yang mengalami menopause mencari informasi yang objektif mengenai segala sesuatu yang menyangkut menopause khususnya bagi wanita yang belum mengalami menopause hal ini sangat penting. (Retnowati Noor, 2001).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir diseluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57 % di Malaysia, 18 % di Cina dan 10 % di Jepang da Indonesia dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Pola makan wanita Eropa dan Amerika dapat lebih meningkatkan kadar Estrogen di dalam tubuh dibandingkan dengan wanita Asia, ehingga ketika masa menopause tiba jumlah Estrogen drastis menurun menyebabkan tingginya sindome menopause (Liza, 2011).
Menurut hasil penelitian Departemen Obsetri dan Ginekologi di Sumatera satu kota di Indonesia, keluhan masalah kesehatan yang dihadapi oleh perempuan menopause terkait dengan rendahnya kadar estrogen atau androgen di dalam sirkulasi darah, sehingga muncul keluhan nyeri senggama (93,33 %), keluhan pendarahan pasca senggama (84,44 %), vagina kering (93,33 %), dan keputihan (75,55 %), keluhan gatal pada vagina (88,88%), perasaan panas pada vagina (84,44 %), nyeri berkemih (77,77 %), inkontenensia urin (68,88 %), (Hadrians, dkk, 2005).
Namun menurut Reiz (1993) apabila keluhan yang dialami menjelang dan ketika menopause dihadapi dengan tenang, maka akan dapat mengatasi gejolak dalam hidupnya, perkawinan, penyakit, dan situasi stress.
Menurut survei pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 terdapat ibu menopause dari umur 40 tahun ke atas berjumlah 327 orang.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Kota .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang menopause di Kelurahan .......... Kecamatan .......... Selatan Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis serta menerapkan ilmu-ilmu kesehatan yang telah di dapat selama pendidikan di Akademi Kebidanan .....................
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan menopause dan dapat referensi kepustakaan Akademi Kebidanan .....................
D.3. Bagi Tempat Peneliti
Penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi ibu tentang menopause di Kelurahan ...........

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.135

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas di Desa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infertilitas (kemandulan) merupakan masalah kesehatan, dimana pasangan suami istri tidak mengetahui kalau pasangannya mengalami infertilitas dan penyebab terjadinya infertilitas. Infertilitas ini membutuhkan perhatian di seluruh dunia maupun di Indonesia, karena banyaknya pasangan infertil di Indonesia khususnya pada wanita yang pernah kawin tapi tidak mempunyai anak. Sedangkan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang ditemukan kasus infertil baik dari laki-laki maupun perempuan sekitar 80% jumlah pasangan infertil diperoleh ± 400 juta pasangan (Siswono, 2003).
Faktor-faktor organik/psikologi merupakan penyebab terjadinya infertilitas karena kekakuan yang berlebihan (emotion stress) dapat juga menurunkan kesuburan wanita. Selain itu pendapat umum mengatakan bahwa ketegangan jiwa/kecemasan dapat menyebabkan spasmus di daerah antara uterus dan tuba (utero-tubal junction). Di negara Jugoslavia ditemukan 678 kasus dengan keluhan sterilias, 544 kasus (81,6%) disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor penanggulangan infertilitas dan subfertilitas yang mempunyai kadar psikologi sebaiknya dilakukan dengan pendidikan psikologi (Prawirohardjo, 2003).
Saat ini diketahui diketahui bahwa sekitar 10% pasangan usia subur yang telah menikah menderita infertilitas primer, 10% lainnya mengalami infertilitas sekunder, yaitu ketidakberhasilan untuk hamil lagi setelah mempunyai satu atau dua anak. Dalam masalah infertilitas pasangan ini, diketahui bahwa 64% penyebabnya datang dari pihak istri, yaitu 15% karena tuba, 21% karena ovulasi, 8% karena endometrosis, 8% karena masalah vagina, serviks, korpus dan endometrium, 8% psikogenetik, dan 15-20% penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), 16% penyebab yang multifaktorial dari suami maupun istri (Henderson, 2006).
Menurut Worlth Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Halini di alami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengelami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali pernah hamil.
Beberapa daerah di Indonesia, wanita seringkali disalahkan menjadi penyebab infertilitas yang tidak bisa hamil. Padahal, masalah infertilitas dapat berasal dari pihak laki-laki, perempuan ataupun interaksi keduanya. Menurut penelitian PERSI di Jakarta, 36% infertilitas diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% ada pada si ibu.
Pada tahun 1985 diperoleh data jumlah infertilitas di Indonesia sebanyak 12% pasangan, jumlah ini sama dengan 3 juta pasangan menikah, dari jumlah tersebut 10% mengalami infertilitas primer, atau belum terjadi kehamilan walaupun pasangan tersebut mengalami bersenggama teratur dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut. 10% lainnya akibat infertilitas primer, atau belum berhasil lagi untuk hamil, umumnya 32,7% hamil dalam satu bulan 57% hamil dalam 3 bulan, 72,1% hamil dalam waktu 6 bulan, 85% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan (Robert, 2003).
Pada bulan April-Mei 2011 di Desa .......... Kecamatan .......... ditemukan jumlah pasangan yang menderita infertilias sebanyak 35 orang dari lingkungan Desa .......... yang jumlah penduduknya sekitar 924 rumah tangga.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Bagamanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Infertilitas Di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagamanakah gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
d. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011 berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Ibu
Sebagai sumber informasi khususnya bagi ibu-ibu tentang seberapa banyak penyebab infertilitas di Desa .......... Kecamatan .......... Tahun 2011.
D.2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi dan bahan bacaan di perpustakaan serta sebagai bahan penelitian selanjutnya.
D.3. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama pendidikan dan menambah wawasan dan pengalaman. Sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan D.III Keperawatan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.134

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Situasi dan kondisi Indonesia dalam bidang kependudukan saat ini masih sangat memprihatinkan. Dengan jumlah yang sangat besar yaitu sekitar 215 juta jiwa. Pada tahun 2007 menduduki urutan ke-4 dari seluruh dunia.kepesatan penduduk Indonesia tersebut merupakan fenomena yang memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Keadaan ini sangat mempengaruhi masalah kualitas sumber daya manusia karena masih dijumpainya penduduk yang sangat miskin, yang sangat memerlukan bantuan untuk sekedar hidup.
Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menangani masalah ini adalah dengan menggalakkan dan mengaktifkan kembali program keluarga berencana nasional Indonesia untuk pembangun-an yang berorientasi pada masa depan yang lebih baik.
Pembangunan Keluarga Berencana Nasional diarahkan kepada terwujudnya “Keluarga Berkualitas 2015” yang pada hakikatnya dimaksudkan untuk mewujudkan keluarga-keluarga Indonesia yang mempunyai anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya (BKKBN, 2006).
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi yang mengandung hormon untuk mencegah terjadinya konsepsi. Keuntungan dari pemakaian AKDR ini selain lebih efektif, tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI bagi ibu yang menyusui, penyulit tidak terlalu berat, dan pulihnya kesuburan setelah pencabutan alat kontrasepsi berlangsung baik (Manuaba, 1998).
Berdasarkan data dari Negara Amerika Serikat jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR di dunia 13,6% dan di negara maju PUS yang menggunakan alat kontrasepsi masih rendah sebanyak 7,6% dan di negara-negara yang sedang berkembang sudah mengalami peningkatan dengan jumlah 14,5% (Statistik, 2008).
Dari hasil laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) melaporkan jumlah PUS yang telah menggunakan kontrasepsi AKDR sebanyak 4,8%, sedangkan di Medan jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR sebanyak 2,586%. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih sangat rendahnya minat PUS terhadap AKDR (Statistik, 2008).
Di wilayah Pemko ......... tercatat jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR sejumlah 17,10% dan data yang diperoleh dari Kelurahan ......... mendapat urutan ke-4 menggunakan AKDR sebanyak 99 orang (1,5%) dan dilaporkan jumlah PUS sebanyak 1,605 orang.
Rendahnya minat PUS terhadap AKDR tentunya tidak terlepas dari rendahnya dukungan suami untuk menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Sehingga sangat perlu pemahaman yang baik tentang AKDR bagi pasangan usia subur (Depkes, 2000).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui Gambaran pengetahuan Ibu terhadap AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran pengetahuan Ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan tahun 2011?”

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran pengetahuan Ibu Tentang Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan paritas.
d. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan pekerjaan.
e. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang AKDR di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengalaman dan mengembangkan pengetahuan penulis dalam melakukan penelitian
D.2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan di perpustakaan dan sebagai bahan masukan bagi peneliti yang akan datang.
D.3. Bagi Tempat Penelitian
Menambah pengetahuan bagi Ibu di Kelurahan ......... Kecamatan ......... Selatan Tahun 2011.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.133

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gerakan Nasional peningkatan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Upaya penting ini, keberhasilannya perlu di dukung dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat. Para ibu, sebagai pelopor peningkatan kualitas sumber daya Indonesia, patut menyadari dan meningkatkan pengetahuannya untuk menunjang gerakan ini (Winkjosostro,1999).
Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktekkan bagaimana menyusui bayi yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu-ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu-ibu yang baru melahirkan anak yang ke-2 dan seterusnya. Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapar berhasil dalam menyusui. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi sejak dini dan dukungan serta bimbingan yang optimal dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan yang merawat ibu selama hamil, bersalin dan masa nifas (Ziemeretal,1999).
Dengan mengikuti dan mempelajari segala pengetahuan mengenai
laktasi, diharapkan setiap ibu hamil, bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal, sehingga bagi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumber daya manusia yang berkualitas tinggi (Winkjosostro,1999).
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan hidup karena kehadiran buah hatipun terjadi. Prioritas pertama saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya. Masa-masa menyusui tersebut sering kali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila ibu memberikan ASI-nya dengan cara yang benar (Winkjosostro,1999)
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susupun mengalami sumbatan. Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran. Penyebab penting dari mastitis ini adalah pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang buruk. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik pada payudaranya (Sally I, 2003).
Selalu pastikan tindakan menyusui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Pengurutan sebelum laktasi adalah salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui dapat pula membantu membuat posisi menyusui menjadi lebih baik (Henderson Christine, 2005).
Ada sejumlah faktor yang telah diduga dapat meningkatkan resiko mastitis yaitu teknik menyusui yang buruk mengakibatkan pengeluaran ASI yang tidak efisien, pekerjaan diluar rumah yang menyebabkan interval menyusui yang panjang sehingga kekurangan waktu untuk pengeluaran ASI yang adekuat dan trauma pada payudara karena penyebab apapun yang dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu sehingga dapat menyebabkan mastitis (Sally I, 2003).
Organisasi kesehatan dunia (2008) memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang terdiagnosis menderita mastitis. The American Society memperkirakan 241.240 wanita Amerika Serikat terdiagnosis mastitis. Sedangkan di Kanada jumlah wanita yang terdiagnosis mastitis adalah 24.600 orang dan di Australia sebanyak 14.791 orang.
Di Indonesia diperkirakan wanita yang terdiagnosis mastitis adalah berjumlah 876.665 orang dan di Sumatera Utara berkisar 40-60% wanita terdiagnostik mastitis (http://www.kompas.online.com/2008).
Berdasarkan hasil survei lapangan ditemukan jumlah penderita mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2008 (Januari-Desember) sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan ibu post partum tentang mastitis terutama dalam teknik menyusui yang baik.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis berkeinginan untuk mengnagkat permasalahan tentang “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan pendidikan
3. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan pekerjaan.
4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu post partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan ......... ......... Periode Tahun 2011 berdasarkan informasi.

D. Manfaat Penelitian

D.1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian yang selanjutnya tentang mastitis dan dapat dijadikan bahan bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa/i Akbid/Akper ......... ..........
D.2. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan bagi ibu post partum untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan dan pengobatan mastitis.
D.3. Bagi Petugas Kesehatan
Masukan bagi petugas kesehatan di tempat penelitian untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada penderita mastitis di Klinik Bidan ......... ..........
D.4. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengolahan penulis dalam hal melakukan suatu penelitian khususnya dalam masalah pengetahuan ibu post partum tentang mastitis di Klinik Bidan ......... ..........

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.132

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Pada Masa Nifas Tentang Mastitis

A. LATAR BELAKANG
Sejak empat dekade yang lalu hingga saat ini jumlah wanita yang memilih menyusui sendiri bayinya mulai berkurang. Jumlah terendah terjadi di tahun¬tahun awal 70-an ketika kurang dari 40% yang memilih Air Susu Ibu (ASI), dan pada minggu keenam setelah melahirkan, kurang dari 20% memberikan ASI kepada bayinya. Sejak itu kemudian ada kecenderungan untuk kembali memberikan ASI, khususnya diantara wanita kelas menengah, dan sekarang 75% wanita mulai menyusui bayinya, dan 35% masih menyusui 3 bulan kemudian (Jones, Derek Llewellyn, 2005).
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan bahwa ASI dapat memberikan perlindungan bagi bayi dalam menurunkan risiko untuk terjadinya diare, infeksi telinga dan radang selaput otak (meningitis) bakteri. Juga mampu melindungi terhadap diabetes, kegemukan dan asma. Pada penelitian sebelumnya, juga disebutkan manfaat ASI dalam mencegah terjadinya sepsis (infeksi berat) pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Bukan hanya itu saja, sang ibu juga memperoleh manfaat yang tidak kalah besarnya. Menyusui mampu untuk menurunkan risiko untuk menderita kanker indung telur dan kanker payudara, dan menurunkan risiko terjadinya patah tulang panggul dan osteoporosis (keropos tulang) saat menopause nantinya. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan akan perlindungan pada ibu dalam menurunkan risiko untuk menderita Rematoid Arthritis hingga 30% (baby-kids.blogspot.com, 2005).
Pada tahun 2003 Universal Childern Foundation (UNICEF) menyatakan bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sampai usia enam bulan dapat mencegah kematian 1,3 juta anak berusia di bawah lima tahun. Suatu penelitian di Ghana yang diterbitkan jurnal Pediatrics menunjukkan, 16% kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22% jika pemberian ASI dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi (Kompas, 2007).
Menurut Wisnuwardhani (2005) masalah yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak sebelum persalinan (periode antenatal), masa pascapersalinan dini (masa nifas/laktasi), dan masa pascapersalinan lanjut. Masalah menyusui dapat timbul pula karena keadaan-keadaan khusus. Salah satu masalah yang cukup serius selama masa menyusui yaitu peradangan pada payudara atau disebut juga mastitis. Mastitis adalah peradangan yang terjadi pada payudara wanita menyusui dalam masa nifas. Bagian yang terkena mastitis umumnya menjadi merah, bengkak, nyeri dan panas, selain itu temperatur badan ibu meninggi dan kadang disertai menggigil. Kejadian ini biasanya terjadi 1-3 minggu setelah melahirkan, akibat lanjutan dari sumbatan saluran susu. Bila mastitis berlanjut, dapat terjadi abses payudara. Ibu tampak sakit lebih parah, payudara lebih merah dan mengkilap, benjolan tidak lagi sekeras pada mastitis, tetapi mengandung cairan (pus).
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik menyusui yang buruk merupakan penyebab penting terjadinya mastitis. Mastitis dan abses payudara terjadi pada semua populasi dengan atau tanpa kebiasaan menyusui. Insiden yang dilaporkan bervariasi dan sedikit sampai 33% wanita menyusui, tetapi biasanya di bawah 10% (WHO, 2003).
Pada tahun 2005 Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa jumlah kasus infeksi payudara yang terjadi pada wanita seperti kanker, tumor, mastitis, penyakit fibrocustic terus meningkat, dimana penderita kanker payudara mencapai hingga lebih 1,2 juta orang yang terdiagnosis, dan 12% diantaranya merupakan infeksi payudara berupa mastitis pada wanita pasca post partum. Data ini kemudian didukung oleh The American Cancer Society yang memperkirakan 211.240 wanita di Amerika Serikat akan didiagnosis menderita kanker payudara invasive (stadium I-IV) tahun ini dan 40.140 orang akan meninggal karena penyakit ini. Sebanyak 3 persen kasus kematian wanita di Amerika disebabkan oleh kanker payudara. Sedangkan di Indonesia hanya 0,001/100.000 angka kesakitan akibat infeksi berupa mastitis (Depkes RI, 2007).
Masalah-masalah menyusui yang sering terjadi adalah putting susu lecet atau nyeri. Sekitar 57% dari ibu-ibu menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada puttingnya dan payudara bengkak. Payudara bengkak sering terjadi pada hari ketiga dan keempat sesudah ibu melahirkan, karena terdapat sumbatan pada satu atau lebih duktus laktiferus dan mastitis serta abses payudara yang merupakan kelanjutan atau komplikasi dari mastitis yang disebabkan karena meluasnya

4 peradangan payudara. Sehingga dapat menyebabkan tidak terlaksananya ASI eksklusif (Soetjiningsih, 1997).
Menurut hasil Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0 – 2 tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi seperti infeksi gastro-intestinal, pernafasan dan virus (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Dari hasil survei awal yang penulis lakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Desember 2007 hingga April 2008 diperoleh data bahwa ibu yang mengalami mastitis berjumlah 21 orang (19,44%) dari total ibu post partum yang ada yaitu sebanyak 108 orang.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Pada Masa Nifas Tentang Mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008”
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1. Diketahui bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat dari teknik menyusui yang buruk merupakan penyebab penting terjadinya mastitis.
2. Diperoleh sekitar 57% dari ibu-ibu menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada puttingnya dan payudara bengkak
Didapatkan jumlah ibu post partum yang mengalami mastitis sebanyak 21 orang (19,44%).

C. MASALAH / PERMASALAHAN
1. Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya pengetahuan ibu-ibu post partum pada masa nifas tentang mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
2. Permasalahan
a. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengertian mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
b. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan penyebab mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
c. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pencegahan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
d. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengobatan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
e. Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan tindakan terhadap mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?

D. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui “Pengetahuan Ibu Post Partum pada masa nifas Tentang Mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008”
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengertian mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
b. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan penyebab mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
c. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pencegahan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.
d. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas berdasarkan pengobatan mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008?
e. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum pada masa nifas
berdasarkan tindakan terhadap mastitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2008.

E. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan ini dapat bermanfaat bagi:
1. Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
2. Petugas Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat khususnya ibu-ibu post partum (menyusui) pada masa nifas mengenai pentingnya pengetahuan mengenai infeksi yang dapat terjadi pada saat menyusui.
3. Petugas Kesehatan
Diharapkan petugas kesehatan dapat lebih meningkatkan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu hamil dan post partum pada masa nifas tentang manfaat dan keuntungan menyusui bagi bayinya dan cara menyusui yang benar.
4. Penulis
Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.131

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari dan sama dengan 37 minggu dengan berat badan lahir rendah yaitu kurang dari 2500 gram (Surasmi, 2003). Di negara maju seperti Amerika Serikat, kelahiran bayi prematur terus meningkat per tahunnya, di Indonesia kelahiran bayi prematur justru diikuti kematian si bayi, kelahiran bayi prematur tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sejak tahun 1961 WHO (World Health Organization) telah mengganti istilah prematur dengan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) atau Low Birth Weight Baby. Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada lahir waktu lahir disebut bayi prematur. Seorang bayi prematur belum berfungsi seperti bayi matur, oleh sebab itu bayi akan banyak mengalami kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya (Prawirohardjo, 2004)
Setiap tahun diperkirakan bayi lahir sekitar 350.000 bayi prematur atau berat badan lahir rendah di Indonesia. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat ini 30 juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi kronik dan sekitar 80% ibu hamil menjalani anemia difisiensi gizi. Tingginya yang kurang gizi mengakibatkan pertumbuhan janin terganggu sehingga beresiko lahir dengan berat badan di bawah 2500 gram (Manuaba, 2003).
Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah rentan mengalami berbagai komplikasi, baik sesaat setelah dilahirkan dan dikemudian hari, jika tidak langsung mendapat perawatan yang tepat, inilah yang banyak dikhawatirkan para ibu, terutama yang tengah menanti kelahiran si bayi, tidak ada cara pasti untuk benar-benar mencegah kelahiran bayi prematur.
Bayi prematur membutuhkan dukungan nutrisi yang khusus oleh karena derajat imaturitas biokomianya yang tinggi, laju pertumbuhannya yang cepat dan dapat terjadi insiden komplikasi medik yang lebih besar. Bayi yang lahir prematur juga harus diberi vaksinasi agar terhindar dari penyakit menular mematikan. Pemberian imunisasi ini harus dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter, demikian juga dengan pemberian makan semi padat (Muchtar, 2004).
Untuk bayi yang lahir secara prematur dengan berat badan diatas 2000 gram, anak sudah bisa mendapatkan ASI dari si Ibu, tetapi juga ada bayi yang belum bisa menyerap ASI, saluran cerna yang belum matang juga akan menimbulkan dampak pada bayi prematur. Bayi prematur diharuskan dibuat di inkubator, karena bayi tersebut seharusnya masih berada di dalam kandungan dengan segala kenyamanannya berjuang beradaptasi dengan dunia luar. Inkubator untuk menjaga suhu bayi supaya tetap stabil, akibat sistem pengaturan suhu dalam tubuh bayi prematur belum sempurna, maka seharusnya bisa naik dan turun secara drastis. Ini tentu bisa membahayakan kondisi kesehatannya. Selain itu otot-ototnya pun relatif lebih lemah, sementara cadangan lahir cukup bulan (Muchtar, 2004).
Masalah yang harus dihadapi oleh semua bayi neonatal terhadap lebih banyak pada bayi prematur misalnya, mereka membutuhkan oksigen tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang cukup umur, karena pusat pernafasan belum sempurna. Bayi prematur memerlukan pemberian makanan yang khusus dengan alat penetes obat atau pipa karena refleks menelan dan menghisap yang lemah. Kehangatan bayi prematur harus diperhatikan diperlukan peralatan khusus untuk memperoleh suhu yang hampir sama dengan suhu dalam rahim (Hurlock, 2002).
Selama bayi berada di rumah sakit dan di bawah perawatan dokter, Bidan dan Perawat, orang tua tidak terlampau khawatir tentang ketidak berdayaannya, akan tetapi bila bayi sudah dibawa pulang dan orang tua bertanggung jawab atas perawatannya, maka ketidakberdayaan bayi menjadi bahaya psikologi yang hebat.
Berdasarkan hasil survey lapangan yang dilakukan peneliti di RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2008/2011 jumlah bayi prematur 55 orang dan bayi prematur yang tinggal bersama keluarga sebannyak 48 orang di RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2008/2011.
Dari survey awal di dapat dari rekam medik RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2008 terdapat 36 kasus bayi prematur dan sudah 10 orang diantaranya meninggal dunia.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU. F.L. .......... Kota ........ Tahun 2011”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Prematur di RSU. dr. F.L. .......... ........ Tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur di RSU. .......... Kota .........
C.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pendidikan.
3. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan pelatihan.
4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi prematur berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa/i tentang perawatan bayi prematur dan sebagai bacaan di perpustakaan Jurusan Keperawatan di Akademi Keperawatan ........
2. Bagi Masyarakat
Untuk menambah pengetahuan masyarakat khususnya ibu tentang perawatan bayi prematur.
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan peneliti tentang perawatan bayi prematur dan juga sebagai pengalaman penulis dalam mengaplikasi-kan riset keperawatan.
4. Bagi Praktek Keperawatan Komunitas
Sebagai bahan informasi yang bermanfaat tentang pentingnya perawatan bayi prematur.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.130

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Metode Kanguru Pada Bayi Prematur di Klinik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode Kanguru atau perawatan bayi melekat, sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir prematur dan lahir dengan berat badan rendah, yang dapat dilakukan selama perawatan di rumah sakit atau pun di rumah.
Metode Kanguru adalah metode perawatan dini dengan sentuhan kulit ke kulit antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru. Dengan metode ini mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi baru lahir prematur dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu. Sehingga memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar. Perawatan kanguru ini telah terbukti dapat menghasilkan pengaturan suhu tubuh yang efektif dan lama serta denyut jantung dan pernafasan yang stabil pada bayi prematur. Perawatan kulit ke kulit mendorong bayi untuk mencari puting dan mengisapnya, hal ini mempererat ikatan antara ibu dan bayi serta membantu keberhasilan pemberian ASI (Henderson, 2006).
Seorang bayi yang lahir prematur, umumnya akan diletakkan ke dalam inkobator agar suhu tubuhnya tetap normal serta diberi bantuan oksigen untuk pernafasan. Selain inkubator suhu tubuh bayi dapat dipertahankan kehangatannya dengan metode kanguru. Dulu metode ini dianggap hanya untuk orang miskin karena kalau orang kaya diletakkan di inkubator, tapi berdasarkan pengalaman, hasilnya malah lebih efektif metode kanguru (Rahmi, 2008).
Negara-negara berkembang seperti di Amerika Serikat dan Kanada sangat mendukung keefektifan dan keamanan dari perawatan kulit per kulit (seperti kanguru) untuk bayi prematur karena bayi dapat merasakan kenikmatan kebahagiaan dan perasaan yang sangat luar biasa. Mengingat terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan terutama di pedesaan, maka metode kanguru sangat dianjurkan. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial telah mengembangkan kebijakan pelayanan neonatal esensial dan metode kanguru sebagai salah satu cara dalam penerapan kebijakan tersebut yang bertujuan untuk pencegahan bayi hipotermi (suhu badan rendah) (Widyastuti, dkk, 2004).
Sebuah studi penerapan metode kanguru di rumah sakit di Ethopia terdapat 67% bayi lahir prematur dan BBLR yang beresiko tinggi menjadi dapat teratasi. Begitu juga dengan India yang menerapkan metode ini lebih menurunkan angka kematian bayi. Misalnya kemampuan bayi meminum ASI (kira-kira 180-200 ml/kg/hr) lalu kenaikan berat badan perlahan paling tidak 20-30 gr atau 1 minggu sekitar 2 ons (Rahmi, 2008).
Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) dalam seminar orientasi metode kanguru yang diselenggarakan pada Forum Promosi Kesehatan Indonesia, bayi prematur maupun BBLR terutama dibawah 2000 gr terancam kematian yang diakibatkan hipotermi (suhu badan dibawah 36,5°C), di samping asfiksia (kesulitan bernafas) dan infeksi. Diperkirakan kejadian prematur dan BBLR di Indonesia memang makin menurun tetapi masih cukup tinggi yaitu 52% per 100 kelahiran hidup. Berdasarkan perkiraan organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pada tahun 2007, di negara berkembang hampir 70% dari 5 juta kematian neonatal dan 17 dari 25 juta persalinan per tahun melahirkan bayi dengan BBLR (kurang dari 2500 gr) (Imral, 2007).
Penelitian dari Fakultas Kedokteran UNPAD serta Depkes dan Kesos telah meneliti secara umum, bahwa wanita pedesaan menerima metode kanguru. Hampir semua ibu yang melaksanakannya mendapat dukungan dari keluarga. Mereka berpendapat, metode kanguru membuat bayi tenang dan banyak menyusui. Secara tradisional sebagian tindakan dalam metode kanguru telah dikenal masyarakat dengan istilah lokal Bedako (Kabupaten OKU), Makaleppe (Makasar), Kadukui (Bugis) dan Pulau Seram Barat (Maluku). Karena begitu bermanfaatnya metode kanguru, maka seharusnya setiap tenaga kesehatan di Indonesia telah menerapkan metode kanguru (Tahmi, 2007).
Berdasarkan survei yang telah dilakukan di salah satu klinik bersalin di Kota ............ yaitu di Klinik Bersalin R. ............ diperoleh hasil bahwa belum pernah dilakukan penerapan metode ini. Kemungkinan besar hal ini terjadi oleh karena kurangnya informasi tentang hal tersebut.
Sementara berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap bidan di Kota ............ tentang pengetahuan bidan mengenai metode kanguru menggambarkan pengetahuan yang cukup baik. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru terhadap bayi prematur di Klinik Bersalin R. ............ Tahun 2011”.

B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Metode Kanguru Pada Bayi Prematur di Klinik R. ............ Tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Metode Kanguru Pada Bayi Prematur di Klinik R. ............ Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
C.2.1. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan pendidikan ibu.
C.2.2. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan pekerjaan.
C.2.3. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan paritas.
C.2.4. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu hamil tentang metode kanguru berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian dan juga sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan .............
D.2. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan Akademi Kebidanan ............ dan sebagai masukan bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian selanjutnya.
D.3. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi petugas kesehatan tentang penerapan metode kanguru pada bayi prematur.
D.4. Bagi Ibu Hamil di Klinik R. ............
Untuk menambah pengetahuan ibu dalam menerapkan metode kanguru pada bayi prematur.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.129

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kecemasan Dalam Menghadapi Persalinan di RSU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kematian ibu adalah masalah yang kompleks, meliputi hal-hal yang nonteknis seperti status wanita dan pendidikan. Walaupun masalah tersebut perlu diperbaiki sejak awal, namun kurang realistis bila mengharapkan perubahan drastis dalam tempo singkat, karena itu diperlukan intervensi yang mempunyai dampak nyata dalam waktu relatif pendek (Sarwono, 2006).
Dalam rencana strategi nasional Making Pregnancy Safer (MPS), disebutkan bahwa visi rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi persalinan yang aman.
Perawatan antenatal yang teratur dapat menurunkan secara mendasar mortalitas dan morbiditas Ibu dan anak, perawatan antenatal yang memadai juga dapat mengurangi risiko dalam persalinan. Risiko dalam persalinan yang sering dijumpai yaitu perpanjangan dari kelahiran bayi, partus lama, hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan yaitu : power, passage, passenger, psikis, penolong.
Faktor psikis dalam menghadapi persalinan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi lancar tidaknya proses kelahiran. Dukungan yang penuh dari anggota keluarga penting artinya bagi seorang Ibu bersalin terutama dukungan dari suami sehingga memberikan support moril terhadap Ibu (Kartini, 1986).
Namun demikian faktor psikis selama ini belum mendapatkan perhatian oleh penolong persalinan, hal ini sesuai dengan pendapat Kartono (1986) yang menyatakan bahwa para dokter dan bidan hampir-hampir tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan kondisi psikis wanita tersebut, sebab mereka biasanya disibukkan oleh faktor-faktor somatis (jasmaniah). Pada umumnya para dokter dan bidan menganggap tugas mereka telah selesai apabila bayinya sudah lahir dengan selamat dan ibunya tidak menunjukkan tanda-tanda patologis (Kartono, 1986).
Menurut data WHO, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran yang dirujuk oleh tenaga kesehatan (bidan), terjadi di negara-negara berkembang, sehingga ibu hamil sering merasa cemas terhadap kehamilannya.
Data resmi yang dimiliki Departemen Kesehatan menyebutkan, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia terus mengalami penurunan. Meski secara garis besar angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi walaupun di sisi lain sudah terjadi penurunan dari 307/100.000 kelahiran hidup pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI 2002/2003 menjadi 262/100.000 kelahiran hidup. "Pada tahun 2007 laporan Balai Pengobatan Swasta (BPS) menyebutkan AKI menjadi 248/100.000 kelahiran, Dibanding dengan angka kematian ibu di negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, maka Indonesia memang masih cukup jauh tertinggal, karena Singapura sudah 6/100.000 dan angka itu boleh dikatakan sebagai suatu keadaan yang sangat ideal. Pada tahun 2011, diharapkan pemerintah mampu menurunkan AKI menjadi 226/100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi baru lahir (AKBBL) 15/1000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2011. Penyebab kematian ibu, sesuai penelitian beberapa pihak, paling banyak adalah akibat pendarahan, dan penyebab tidak langsung lainnya seperti terlambat mengenali tanda bahaya karena tidak mengetahui kehamilannya, terlambat mencapai fasilitas untuk persalinan, dan terlambat untuk mendapatkan pelayanan (Dinkes Kaltim, 2008).
Peran seorang ibu sangat besar dalam pertumbuhan, perkembangan bayi dan anak. Ibu hamil yang mengalami gangguan kesehatan bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya nanti. Bila dibandingkan dengan target nasional 90 % menunjukkan bahwasanya Sumatera Utara sampai saat ini belum mencapai target. Dari kondisi tersebut di atas didapatkan keadaan kesehatan masyarakat dengan indikator kematian ibu sebesar 307/100.000 KH (SKKT 2001) dan kematian bayi 35/1000 KH (SDKI 2002- 2003).
Masyarakat masih menganggap paradigma persalinan merupakan pertaruhan hidup dan mati, sehingga wanita yang akan melahirkan mengalami ketakutan-ketakutan, khususnya takut mati baik bagi dirinya sendiri ataupun bayi yang akan dilahirkannya (Kartini, 1986).
Melihat fenomena di atas, menunjukkan bahwa proses persalinan selain dipengaruhi oleh faktor passage, passanger, power dan penolong, faktor psikis juga sangat menentukan keberhasilan persalinan. Dimana kecemasan atau ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (intra psikis) dapat mengakibatkan persalinan menjadi lama/partus lama atau perpanjangan Kala II (Depkes RI Pusdiknakes).
Berdasarkan pre survey bulan Januari – Februari 2011 di RSU. Dr. F.L. ......... ......... terdapat 30 ibu hamil dalam trisemester III yang akan bersalin, 20 diantaranya ibu primigravida dan multigravida menyatakan cemas dalam menghadapi proses persalinan. Gangguan psikis dapat juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, terutama tentang proses mekanisme persalinan. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kecemasan Dalam Menghadapi Persalinan di RSU. ......... ......... Tahun 2011”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan di RSU. ......... ......... tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan di RSU. ......... ......... tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan berdasarkan pekerjaan.
d. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan berdasarkan paritas.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang kecemasan ibu hamil dalam menghadapi persalinan.
D.2. Bagi Ibu Hamil
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan ibu hamil khususnya tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan
D.3. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya tentang kecemasan dalam menghadapi persalinan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.128

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang gizi selama kehamilan di Kelurahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ibu hamil memiliki kebutuhan makanan yang berbeda dengan ibu yang tidak hamil, karena ada janin yang tumbuh dirahimnya. Kebutuhan makanan dilihat bukan hanya dalam porsi tetapi harus ditentukan pada mutu zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi (Derek, 2005). Untuk pertumbuhan maupun aktivitas janin memerlukan makanan yang disalurkan melalui plasenta. Untuk itu ibu hamil harus mendapat gizi yang cukup untuk dirinya sendiri maupun bagi janinnya. Maka bagi ibu hamil, kualitas maupun jumlah makanan yang biasanya cukup untuk kesehatannya harus ditambah dengan zat-zat gizi dan energi agar pertumbuhan janin berjalan dengan baik. Selama hamil ibu akan mengalami banyak perubahan dalam tubuhnya agar siap membesarkan janin yang dikandungnya, memudahkan kelahiran, dan untuk memproduksi ASI bagi bayi yang akan dilahirkannya (Francin, 2005).
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin yang dikandungnya, antara lain : anemia, perdarahan dan berat badan ibu tidak bertambah secara normal, kurang gizi juga dapat mempengaruhi proses persalinan dimana dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, premature, perdarahan setelah
persalinan, kurang gizi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, cacat bawaan dan berat janin bayi lahir rendah (Zulhaida, 2005).
WHO melaporkan bahwa setengah ibu hamil mengalami anemia, secara global 55% dimana secara bermakna trimester III lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan trimester I dan II. Masalah ini disebabkan kurangnya defesiensi zat besi dengan defisiensi zat gizi lainnya (Mc Carthy dan Maine, 1992).
Di negara yang berkembang termasuk Indonesia masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama dan merupakan penyebab kematian wanita. Tidak dapat dipungkiri lagi dari masa kehamilan menjadi saat yang paling berbahaya bagi wanita dalam hidupnya (Nurn, 2002).
Di Indonesia prevalensi anemia tahun 1970-an, wanita hamil sekitar 46,5-70% pada Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63,5% sedangkan data SKRT turun menjadi 50,9%. Pada tahun 1999 didapatkan anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39,5%, tahun 2001, didapatkan anemia zat gizi pada ibu hamil mencapai 40,1%, banyak faktor yang terkait dengan status anemia ibu hamil yaitu status sosial ekonomi, serta perolehan tablet zat besi (Fe) (Pasaribu, 2006).
Di Sumatera Utara tahun 2001 terdapat 77,9% ibu hamil yang tidak memenuhi asupan gizi yang benar terutama dalam mengkonsumsi zat besi (Fe), sehingga menyebabkan ibu menderita anemia (Amiruddin, 2007).
Selain itu di daerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan malnutrisi atau kekurangan gizi sekitar 33%. Secara umum penyebab kekurangan gizi pada ibu hamil ini adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi syarat gizi yang dianjurkan. Jarak kehamilan dan persalinan yang berdekatan dengan ibu hamil dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah, sehingga menyebabkan ibu tidak mengerti cara pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan si ibu selama kehamilannya (Depkes RI, 2002). Dari data yang didapatkan di Kantor Dinas Kesehatan ............ jumlah ibu hamil selama tahun 2008 sebanyak 2224 orang orang dan ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 325 orang.
Berdasarkan hasil survey, data yang didapatkan bahwa jumlah ibu hamil di Kelurahan ............ pada bulan Maret-Juni sebanyak 40 orang yang mengalami anemia 15 orang (26,7%) mengalami anemia.
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengetahui “Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang gizi selama kehamilan di Kelurahan ............ ............ Selatan Tahun 2008”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah yaitu : “Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan di Kelurahan ............ Kecamatan ............ Selatan Tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan di Kelurahan ............ Kecamatan ............ Selatan Tahun 2011.
C.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan berdasarkan umur.
b. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan berdasarkan pendidikan.
c. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan berdasarkan pekerjaan.
d. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan berdasarkan paritas.
e. Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang asupan gizi selama kehamilan berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pendidikan
Sebagai referensi bagi perpustakaan atau sebagai bahan acuan bagi penelitian tentang manfaat asupan gizi untuk ibu hamil.
2. Bagi Peneliti
Sebagai bahan pengetahuan dan menambah wawasan penelitian tentang manfaat asupan gizi untuk ibu hamil serta sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan Nauli Husada .............
3. Bagi Ibu
Sebagai bahan masukan dan sumbangan pikiran bagi ibu hamil tentang manfaat gizi dalam kehamilan di Kelurahan ............ Kecamatan ............ Selatan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.127

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak di Kelurahan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Katarak merupakan masalah nasional yang perlu ditanggulangi. katarak dapat menyebabkan penurunan aktivitas dimana katarak merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara bertahap. Berdasarkan peneletian tahun 1989-1999, lebih dari separuh (54%) kebutuhan disebabkan katarak (Bougman, 2000).
Katarak merupakan kelainan mata yang terjadi akibat adanya perubahan lensa yang jernih dan tembus cahaya, sehingga keruh. Akibatnya mengalami gangguan penglihatan karena obyek menjadi kabur. Ganguan penglihatan yang terjadi tidak secara spontan. Melainkan secara perlahan dan dapat menimbulkan kebutaan. Meski tidak menular, namun katarak dapat terjadi di kedua mata secara bersama (Rahmi, 2008).
Menurut data organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) dapat 50 juta kebutaan di dunia akibat katarak dan yang paling banyak adalah mereka yang tinggal di negara miskin dan berkembang yaitu Asia dan Afrika. Penduduk yang tinggal dinegara berkembanag beresiko 10 kali lipat mengalami kebutaan dibandingkan penduduk negara maju. Sedangkan menurut Institute Kesehatan Nasional atau National Institute of Health (NIH) di negara maju seperti Amerika Serikat terdapat 4 juta orang beresiko menjadi buta karena proses kemunduran mascular (titik kuning retina) yang berhubungan dengan faktor usia sehingga pada akhirnya menyebabkan kebutaan, sebagai perbandingan di Banglades angka kebutaan mencapai 1%, di India 0,1 -0,3%.
Tingkat kebutaan yang diakibatkan katarak di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 1,5% sedangkan dalam catatan WHO, tingkat kebutaan di Indonesia berada diurutan ketiga di dunia yaitu sebesar 1,47%. Tingginya katarak di Indonesia dipengaruhi oleh letak geografis yang berada di daerah garis khatulistiwa sehingga berdasarkan penelitan menilai resiko 15 tahun lebih cepat terkena katarak dibanding penduduk di Eropa (Rahmi,2008).
Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaannya yaitu dengan tindakan operasi. Katarak merupakan penyakit degenaratif namun saat ini katarak juga telah ditemukan pada usia muda (35-40 tahun). Selama ini katarak dijumpai pada orang yang berusia diatas 55 tahun sehingga sering diremehkan kaum muda. Hal ini disebabkan kurangnya asupan Gizi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh (Irawan, 2008).
Kebutaan yang terjadi akibat katarak akan terus meningkat karena penderita katarak tidak menyadarinya, daya penglihatan baru terpengaruh setalah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun dan menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai gejala katarak. Salah satu penyebab tingginya kasus kebutaan yang diakibatkan oleh katarak karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mata.
Dari data yang diperoleh dipoliklinik mata RSU Dr. F.L Tobing ............ pada tahun 2008/2011 penderita katarak berjumlah 72 orang, yang telah dioperasi berjumlah 27 orang sedangkan yang tidak dioperasi 45 orang dikarenakan oleh faktor ekonomi (RSU F.L Tobing ............)
Berdasarkan hasil survey yang didapatkan dari dokumentasi dan arsip Lurah ............ ............ bahwa jumlah KK 1139 dan yang menderita katarak 34 orang (Profil Kelurahan ............, 2011).
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengetahui “Bagaimana Gambaran Pengetahuaan Kepala Keluarga Tentang Katarak Di Kelurahan ............ Kota ............ tahun 2011 “

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan permasalahan pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran pengetahuan Kepala Keluarga tentang katarak dikelurahan ............ Kota ............ Tahun 2011?”.

C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Katarak di Kelurahan ............ Kota ............ tahun 2011
C.2. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang katarak berdasarkan umur dikelurahan ............ Kota ............ tahun 2011.
2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang katarak berdasarkan pendidikan dikelurahan ............ Kota ............ tahun 2011
3. Untuk mengetahui gambaran pengetahun kepala keluarga tentang katarak berdasarkan pekerjaan di kelurahan ............ Kota ............ tahun 2011
4. Untuk mengetahui gambaran pengetahun kepala keluarga tentang katarak berdasarkan sumber informasi di kelurahan ............ Kota ............ tahun 2011

D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi peneliti
Sebagai bahan masukan dan menambah pengetahuan peneliti dalam menerapkan mata kuliah riset keperawatan dan sebagai syarat untuk menyelesaikan program Diploma III Keperawatan di Akademi Keperawatan Nauli Husada .............
D.2. Bagi Institut Pendidikan
Sebagai bahan masukan guna menambah wawasan dan sekaligus sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa/i Akademi Keperawatan dan Akademi Kebidanan Nauli Husada .............
D.3. Bagi Responden
Menambah pengetahuan responden mengenai katarak dan memberi informasi bagi responden akan pentingnya deteksi dini sebagai tindaka preventif.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.126

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Ibu Balita Dalam Pemanfaatan Posyandu Di Desa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk atau individu agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Posyandu merupakan salah satu bentuk kesehatan bersumber daya manusia guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.1 Menurut data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2010 Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 34 /1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu (AKI) mencapai kisaran 228/100.0000 kelahiran hidup 2. Adapun penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain terdiri dari perdarahan, infeksi dan eklampsia3, data tersebut menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya, serta perilaku (baik yang bersifat preventif maupun kuratif) ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang bersifat negatif bagi perkembangan kehamilan sehat, persalinan yang aman dan perkembangan dini anak 4.
Upaya yang dilakukan baik yang bersifat preventif maupun kuratif adalah posyandu yang merupakan tempat atau media yang paling dekat dengan masyarakat dalam pemantauan gizi pada balita. Masyarakat secara langsung dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan status gizi balitanya. Oleh karena itu dalam rangka menurunkan angka kematian anak adalah pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat seperti pos pelayanan terpadu (posyandu), penanggulangan kurang energi protein, pendidikan gizi, penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar, serta pencegahan dan pemberantasan penyakit melalui survilans dan imunisasi. Upaya menggerakkan masyarakat dalam keterpaduan ini digunakan pendekatan Pos pelayanan terpadu ini merupakan wadah titik temu antara pelayanan profesional dari petugas kesehatan dan peran serta masyarakat5. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu merupakan proses keadaan ketika individu, keluarga maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga atau kesehatan masyarakat lingkungannya. Namun berbagai hambatan dalam memelihara kesehatan diri dan keluarganya perlu mendapatkan perhatian 1.
Sebagai indikator pencapaian dalam program Posyandu yang yang kekuatannya terletak pada pelayanan kesehatan dasar, kerjasama lintas sektoral dan peran serta masyarakat. Pada masa krisis ekonomi keberadaanya kurang mengembirakan, hal ini ditandai dengan rendahnya cakupan kegiatan Posyandu. Cakupan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu adalah Jumlah Balita yang ditimbang di Posyandu (D) dibagi dengan jumlah balita yang ada (S) di wilayah kerja Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai. Cakupan D/S dalam kegiatan Posyandu di Indonesia tahun 2008 85%, Jawa Barat salah satu provinsi yang memiliki cakupan rendah yaitu 79% masih dibawah target Dinas Kesehatan sebesar 90%. 6
Menurut laporan hasil kegiatan tahunan program KIA-KB kesehatan Puskesmas ............ tahun 2009, pencapaian target D/S (jumlah bayi dan anak Balita yang datang dan ditimbang di Posyandu dibanding dengan semua bayi dan anak Balita yang ada) sebesar 67,34%. Adapun cakupan per desa yakni desa Cikunir mencapai 81.93%, Cikadongdong 70,82%, Singasari 45.03%, ............ 47,59%, Sukamulya 83.49%, Ciparay 59.70%, Suka asih 93.26 dan Singajaya 63.93%. 7
Kunjungan ibu balita ke Posyandu erat kaitannya dengan perilaku kesehatan, perilaku kesehatan hakikatnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan ibu dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan balitanya. Kesehatan seseorang dipengaruhi atau terbentuk dari beberapa faktor. Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors) dan faktor pendorong (reinforcing factors).7
Melihat paparan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatkan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan tersebut di atas, penulis mengidentifikasikan rumusan masalah sebagai berikut :
“Faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010?”.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengaruh faktor pengetahuan terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010.
2. Untuk mengetahui pengaruh faktor sikap terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010.
3. Untuk mengetahui pengaruh faktor dukungan suami/keluarga terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010.
4. Untuk mengetahui faktor dukungan tenaga kesehatan terhadap perilaku ibu balita dalam pemanfaatan posyandu di Desa ............ Kecamatan ............ Kabupaten ............ Tahun 2010.

1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Teoritis
Sebagai sumbang saran bagi pengembangan Ilmu Kebidanan, Ilmu Perilaku dengan titik berat pada kajian tentang peran serta masyarakat.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat menjadi penggerak bagi masyarakat khususnya ibu yang mempunyai balita untuk berperan serta dalam kegiatan Posyandu.
2. Bagi Pukesmas Setempat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kajian dalam peningkatan pelayanan kesehatan melalui pendidikan kesehatan pada kegiatan Posyandu pada ibu balita.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi penelitian yang selanjutnya serta dapat dijadikan bahan kepustakaan atau referensi bagi mahasiswa kebidanan.
4. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengembangan profesi kebidanan sehingga apabila nanti sudah terjun ke lapangan dapat memberikan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku kesehatan masyarakat.
 


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.125

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Balita Di Puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah. (Depkes RI, 2007)
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan. Upaya mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah untuk meningkatkan keadaan kesehatan yang lebih baik dari sebelumnya. Derajat kesehatan yang optimal adalah tingkat kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai suatu saat sesuai dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang atau masyarakat dan harus diusahakan peningkatannya secara terus-menerus. (UU Kes. No. 23, 1992)
Program kesehatan ibu dan anak yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak serta menurunkan AKI dan AKB. Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan program kesehatan ibu dan anak yang bertujuan untuk memanfaatkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efisien. (Depkes RI, 2008)
Badan Pusat Statistik mengestimasikan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2007 di Indonesia sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan AKB tahun 2002-2003 sebesar 35per 1.000 kelahiran hidup. (Depkes RI, 2008)
Di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008 Angka Kematian Bayi sedikitnya mencapai 38 per 1.000 kelahiran hidup dari 1.000 kelahiran di Jawa Barat, sementara itu, di Negara-negara Asia lainnya, dari 1.000 kelahiran yang meningggal di bawah 20 bayi. Ini membuktikan bahwa angka kematian bayi saat dilahirkan di wilayah Jawa Barat tergolong tinggi. (Dinkes Jabar, 2009)
Sedangkan di Kabupaten ............ pada tahun 2008 jumlah kematian bayi mencapai 385 dari 18.873 bayi yaitu sebesar 21 per 1.000 kelahiran hidup (Dinkes ............, 2009)
Tabel 1.1 Cakupan Angka Kematian Bayi di Kabupaten ............ Tahun 2008
No Puskesmas Jml Balita Lahir Hidup Jml Bayi Mati
N %
1 Lemahsugih 4747 1039 12 11.5
2 Bantarujeg 3127 653 16 24.5
3 Cikijing 4908 1021 11 10.8
4 Cingambul 3002 697 14 2.1
5 Talaga 3531 729 21 28.8
6 Banjaran 2076 330 20 60.6
7 Argapura 1904 511 24 47.0
8 Maja 4032 935 35 37.4
9 ............ 2818 533 11 20.6
10 Munjul 2915 485 5 10.3
11 Cigasong 2717 562 15 26.7
12 Sukahaji 2412 459 10 21.8
13 Salagedang 2232 369 8 21.7
14 Rajagaluh 3617 668 23 34.4
15 Sindangwangi 2025 413 14 33.9
16 Leuwimunding 5208 1016 10 9.8
17 Waringin 4019 797 9 11.3
18 Jatiwangi 3848 723 14 19.4
19 Loji 3228 602 7 11.6
20 Kasokandel 3720 778 11 14.1
21 Panyingkiran 2514 464 6 12.9
22 ............ 3720 785 6 7.6
23 Kertajati 2106 311 8 25.7
24 Sukamulya 1721 331 6 18.1
25 Jatitujuh 2721 466 12 25.8
26 Panongan 1655 345 3 8.7
27 Ligung 5144 940 13 13.8
28 Sumberjaya 4860 691 17 24.6
29 Malausma 4076 767 18 23.5
30 Balida 3726 453 6 13.2
99329 18873 385 20.4
(Sumber : Seksi KIA & Usila Dinkes Pemkab ............, 2010)
Dari data di atas pada objek penelitian yaitu di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ didapatkan jumlah angka kematian bayi pada tahun 2008 sebesar 7.6% yaitu sebanyak 6 bayi dari 785 kelahiran hidup.
Pakar kesehatan anak memperkirakan bahwa sebagian besar kematian bayi dan anak di seluruh dunia adalah akibat tidak baiknya mutu makanan mereka. Sehingga pertumbuhan anak-anak terhambat dan daya tahan tubuh mereka terhadap serangan penyakit infeksi menjadi sangat lemah (Sjahmien, 2000).
Di Indonesia pada tahun 2007, dari 4,1 juta balita yang mengalami malnutrisi, sebanyak 3,38 juta mengalami gizi kurang, dan 755.000 dengan risiko gizi buruk. (Depkes RI, 2008)
Untuk tingkat Jawa Barat, angka balita penderita gizi buruk menunjukkan kenaikan dari 1,08% pada tahun 2006 menjadi 1,17% pada tahun 2007, dan angka penderita gizi kurang pada tahun 2007 mencapai 11,02%, menurun dari tahun 2006 sebesar 11,45%, sedangkan angka gizi baik pada 2007 mencapai 85,92%. (Dinkes Jabar, 2008)
Di Kabupaten ............ berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan ............ pada tahun 2008 sekitar 790 balita terserang gizi buruk. Demikian angka itu sama dengan 0,8% dari 98.752 balita yang tercatat di ............ saat ini. (Dinkes ............, 2009)
Adapun di objek penelitian yaitu UPTD Puskesmas ............ tahun 2008 terdapat kasus balita gizi buruk sebesar 1,4% atau sebanyak 43 bayi dan masih banyaknya balita gizi kurang sebesar 10.7% atau sebanyak 335 bayi melebihi target 5% yang menunjukkan pencapaian program status gizi masih rendah.
Dari permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk mengambil masalah tersebut dalam penelitian yang berudul “Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Status Gizi Balita di UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2010”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu di UPTD Puskesmas ............ tahun 2008 terdapat kasus balita gizi buruk sebesar 1,4% atau sebanyak 43 bayi dan masih banyaknya balita gizi kurang sebesar 10.7% atau sebanyak 335 bayi melebihi target 5% yang menunjukkan pencapaian program status gizi masih rendah.
Sehingga pertanyaannya adalah “Apa saja faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010?”

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010.
2. Tujuan Khusus
1. Diketahuinya hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010.
2. Diketahuinya hubungan antara pemberian vitamin A dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010.
3. Diketahuinya hubungan antara pendapatan dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010.
4. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan status gizi balita di UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup permasalahan pada penelitian ini dibatasi pada aspek faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita meliputi pemberian MP-ASI, pemberian vitamin A, pendapatan, dan pengetahuan. untuk kemudian dicari hubungannya dengan status gizi yang diobservasi terhadap sasaran balita di objek penelitian yaitu di UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ tahun 2010.

E. Manfaat
1. Aspek Teoritis
Secara teori hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan informasi yang berharga tentang gizi balita dalam menambah literature kepustakaan di institusi pendidikan
2. Aspek Praktis
Penelitian ini secara praktek diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti di lapangan guna menerapkan teori-teori dan ilmu yang telah dipelajari di institusi pendidikan selama masa perkuliahan. Bermanfaat bagi tenaga kesehatan dalam mendukung proses pelayanan kesehatan dan partisipasi aktif masyarakat secara khusus bagi ibu balita guna meningkatkan satatus gizi balita anak-anak mereka guna menghindari kasus gizi buruk di lingkungan masyarakat.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.124

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI