KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Perdarahan Post Partum

22 July 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mortalitas dan mordibitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar bagi negara-negara berkembang. Di negara miskin sekitar 20 – 40 % kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Menurut data statistik yang dikeluarkan WHO sebagai badan PBB yang menangani masalah bidang kesehatan, tercatat angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di dunia mencapai 515.000 jiwa setiap tahun. (WHO, 2008)
Angka kematian ibu (AKI) Indonesia masih tinggi di ASEAN. Pada tahun 2003 Angka kematian ibu di Indonesia yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2004 yaitu 240 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2005 yaitu 262 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 yaitu 255 per 100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 yaitu 248 per 100.000 kelahiran hidup. Target Millenium Development Goals (MDG) angka kematian ibu di Indonesia tahun 2015 harus mencapai 125 per 100.000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh berbagai penyebab yang kompleks yaitu sosial, ekonomi, budaya, tingkat pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan dan gender.( SDKI, 2007 ).
Gambaran mengenai Angka Kematian Ibu (AKI) di provinsi dalam enam tahun terakhir menunjukkan kecenderungan penurunan, dari 360 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2002, menjadi 345 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2003, 330 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2004, 320 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2005, 315 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2006, 275 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007.(Dinkes Provsu, 2008)
Kejadian kematian ibu paling banyak adalah pada waktu bersalin sebesar 50,09% , kemudian disusul pada waktu nifas sebesar 30,58 % , dan pada waktu hamil sebesar 19,33 %. Dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan 45.2 %, eklamsi 12,9 % , komplikasi aborsi 11,1% , sepsis post partum 9,6 % , persalinan lama 6,5 % , anemia 1,6 %, dan penyebab kematian tidak langsung sebesar 14,1 %. ( WHO, 2008 )
Berdasarkan penelitian, diperoleh informasi bahwa angka kematian ibu di Indonesia karena perdarahan post partum mempunyai peringkat yang tinggi. Salah satu penyebab perdarahannya adalah atonia uteri 60%, plasenta rest 24 %, retensio plasenta 17 %, laserasi jalan lahir 5%, dan kelainan darah 0,8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Maryunani, 2009)
Protocol evidence based yang baru, telah diperbarui oleh WHO dan UNICEF tentang asuhan bayi baru lahir untuk satu jam pertama menyatakan bahwa bayi harus mendapat kontak kulit ke kulit dengan ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam, bayi dibiarkan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Fenomena tersebut diperjelas oleh tema pekan ASI 2007 (World Breastfeeding Week) bahwa menyusu pada 1 jam pertama menyelamatkan lebih dari 1 juta bayi. (Ambarwati, 2008)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam istilah asing Early Initiation adalah memberi kesempatan pada bayi baru lahir untuk menyusu sendiri pada ibunya dalam 1 jam pertama kelahirannnya. Melalui sentuhan, emutan dan jilatan bayi pada puting susu ibu akan merangsang pengeluaran hormone oksitosin yang penting. Selain itu gerakan kaki bayi pada saat merangkak di perut ibu akan membantu masasage uterus untuk merangsang kontraksi uterus. (Roesly, 2008). Efek hormone oksitosin secara bersamaan memacu sel-sel miometrium pada uterus sehingga terjadi kontraksi uterus dan refleks aliran ini disebut dengan Letdown Refleks. (Sinclair, 2009). Oksitosin akan menyebabkan uterus berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi terjadinya perdarahan post partum. Oksitosin juga akan merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi lebih tenang, rileks, euphoria, meningkatkan ambang rasa nyeri dan mencintai bayinya.(Roesly,2008)
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan penatalaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap resiko perdarahan post partum di Klinik Tanjung Delitua Deli Serdang dan Klinik Bersalin Loly Hasil survey yang peneliti lakukan di Klinik Bersalin Tanjung, klinik Tanjung adalah klinik bidan praktik swasta yang menerapkan Asuhan Persalinan Normal (APN) yang menjadi acuan pertolongan persalinan normal dan menerapkan teknik Insiasi Menyusu Dini (IMD) sehingga memudahkan peneliti dalam pengambilan sampel pada ibu bersalin normal dengan IMD sebagai kelompok intervensi. Sedangkan Klinik Bersalin Kurnia adalah klinik bersalin yang belum menerapkan teknik Inisiasi Menyusu Dini pada bayi baru lahir, sehingga peneliti melakukan penelitian di klinik tersebut untuk pengambilan sampel sebagai kelompok kontrol.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dirumuskan permasalahan yaitu : “Adakah pengaruh pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap perdarahan post partum di Klinik bersalin Tanjung Delitua dan Klinik Bersalin Tahun “

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh Inisiasi Menyusu Dini dengan perdarahan post partum di Klinik Bersalin Tanjung Delitua dan Klinik Bersalin tahun
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi jumlah perdarahan post partum setelah dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Klinik Bersalin Tanjung.
b. Mengidentifikasi jumlah perdarahan pada ibu post partum yang tidak dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Klinik Bersalin Kurnia
c. Membandingkan jumlah perdarahan pada ibu post partum yang dilakukan IMD di Klinik Bersalin Tanjung dan jumlah perdarahan pada ibu post partum yang tidak dilakukan IMD di Klinik Bersalin Kurnia.
d. Memperoleh informasi ada atau tidak ada pengaruh pelaksanaan IMD terhadap perdarahan post partum.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat atau pasien dan setiap petugas kesehatan khususnya bidan yang terlibat dalam pemberian asuhan kebidanan pada persalinan dengan melakukan Inisiasi Menyusu Dini. Manfaat tersebut dapat meliputi manfaat bagi pelayanan, manfaat bagi bidang akademik, dan manfaat dari penelitian selanjutnya.
1. Manfaat bagi pelayanan
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan bahan pertimbangan bagi bidan yang melakukan pertolongan persalinan normal agar melakukan penatalaksanaan inisiasi menyusu dini untuk menurunkan perdarahan post partum yang merupakan penyebab tertinggi Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia bahkan di dunia.
2. Bagi Institusi
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah informasi, pengembangan ilmu dan referensi perpustakaan, sehingga dapat dijadikan bahan bacaan bagi mahasiswa.
b. Hasil penelitian ini juga dapat memberikan informasi tentang IMD untuk mengurangi perdarahan post partum bagi staf akademik dan mahasiswa kebidanan dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar.
3. Bagi penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan pengaruh IMD terhadap perdarahan post partum.
4. Bagi masyarakat atau pasien
Hasil penelitan ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat ataupun pasien tentang pelaksanaan IMD pada saat proses persalinan untuk mengurangi resiko terjadinya perdarahan postpartum.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.287

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Tingkat Kecemasan Keluarga


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan pertanyaan permasalahan sebagai berikut:
Adakah pengaruh komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien di IPIT RSD

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien di IPIT RSD
2. Tujuan khusus
1. Mengetahui pelaksanaan komunikasi terapeutik antara perawat dengan keluarga pasien yang di rawat di IPIT RSD
2. Mengidentifikasikan gambaran kecemasan keluarga pasien yang dirawat di IPIT RSD
3. Menganalisa pengaruh komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien di IPIT RSD

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi proses keperawatan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan komunikasi terapeutik kepada pasien pra operasi. Penelitian lebih lanjut dapat.
1. Bagi peneliti
Menambah ilmu pengetahuan tentang penerapan dan pentingnya pelaksanaan komunikasi terapeutik untuk mengurangi kecemasan pada keluarga pasien.
2. Bagi profesi
Sebagai tambahan informasi serta sebagai bahan acuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan dan pelayanan komunikasi terapeutik yang efektif terhadap keluarga pasien dan untuk meningkatkan perkembangan IPTEK bagi perawat agar dalam memberikan asuhan keperawatan lebih komperhensif atau menyeluruh.
3. Bagi institusi
Sebagai bahan masukan dan pembelajaran dan penerapan komunikasi terapeutik pada keluarga pasien yang dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan sebagai tambahan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
4. Bagi masyarakat
Agar mendapatkan pelayanan yang memuaskan, mengurangi kecemasan terhadap tindakan tim medis kepada anggota keluarga yang dirawat serta mengurangi persepsi dan rasa curiga terhadap tindakan atau pelayanan tim medis dan para medis Rumah sakit.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.286

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu Postpartum di RSUD


A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Di negara berkembang, saat melahirkan dan minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode kritis bagi ibu dan bayinya. Sekitar dua per tiga kematian terjadi pada masa neonatal, dua per tiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu pertama, dan dua per tiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi pada hari pertama. Sedangkan di Indonesia, AKB mencapai 48 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005 (Aprillia, 2009; 1).
Banyak tindakan yang relatif murah dan mudah diterapkan untuk meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir. Salah satunya adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir atau biasa disebut inisiasi menyusui dini serta pemberian ASI Eksklusif. Hal ini didukung oleh pernyataan United Nations Childrens Fund (UNICEF), bahwa sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia pada tiap tahunnya, bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi (Aprillia, 2009; 1).
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu). Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang merekomendasikan IMD sebagai tindakan penyelamatan kehidupan, karena IMD dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan (Admin, 2010).
Faktanya dalam satu tahun, empat juta bayi berusia 28 hari meninggal. Jika semua bayi di dunia segera setelah lahir diberi kesempatan menyusu sendiri dengan membiarkan kontak kulit ibu ke kulit bayi setidaknya selama satu tahun maka satu juta nyawa bayi ini dapat diselamatkan (Roesli, 2008; 9).
Berdasarkan hasil penelitian Sose, dkk CIBA fundation (1987) dalam Roesli, U (2010; 6) yaitu bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan meletakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit setidaknya satu jam, hasilnya dua kali lebih lama disusui. Pada usia enam bulan dan setahun, bayi yang diberi kesempatan untuk meyusu dini, hasilnya 59% dan 38% yang masih disusui. Bayi yang tidak diberi kesempatan menyusu dini tinggal 29% dan 8% yang masih disusui di usia yang sama (Roesli, 2008; 9).
Lidwina (2007), menyebutkan bahwa di Indonesia hanya 8% ibu memberi ASI eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan dan hanya 4% bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam pertama setelah kelahirannya. Padahal, ditegaskan oleh dr Utami bahwa sekitar 21.000 kematian bayi baru lahir (usia di bawah 28 hari) di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI pada satu jam pertama setelah lahir.
Setelah dilakukan studi pendahuluan di RSUD. pada tanggal 17 Februari didapatkan bahwa jumlah ibu yang melahirkan secara normal pada tahun 2007 sebanyak 1.218 orang, tahun 2008 sebanyak 1.227 orang, tahun 2009 sebanyak 1258 orang, tahun 2010 sebanyak 1263 orang sedangkan pada tahun (01 Januari-2 Februari) sebanyak 107 ibu bersalin dan yang dilakukan IMD terdapat 55 orang (51,4%).
Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Ruang Bersalin (Ny. Y.P) di RSUD. bahwa IMD mulai disosialisasikan sejak tahun 2007 hingga sekarang. Akan tetapi masih terdapat pula ibu-ibu yang tidak mau dilakukan IMD tersebut dengan berbagai alasan misalnya, bayi akan kedinginan, ibu merasa kelelahan, dan ASI yang di keluarkan merupakan ASI yang tidak baik untuk bayi. Untuk menambah pengetahuan ibu tentang pentingnya IMD pada proses persalinan dan menyusui, bidan berupaya dengan cara memberi penyuluhan kesehatan kepada ibu tentang pentingnya IMD.
Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa orang ibu postpartum (Ny. A, Ny. M, Ny. V.L, Ny. N.R) yang dilakukan IMD, didapatkan bahwa mereka mengatakan dapat menyusui pada hari pertama, namun masih ada juga ibu yang mengatakan kalau mereka harus dilakukan rangsangan atau perawatan payudara terlebih dahulu setelah itu ASI baru dapat keluar.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. ”.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu Postpartum di RSUD. ?

3. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya Pengaruh Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini terhadap Waktu Pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. .
b. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini pada Ibu postpartum di RSUD. .
2) Mengidentifikasi waktu pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. .
3) Mengidentifikasi tentang pengaruh penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini terhadap waktu pengeluaran ASI pada Ibu postpartum di RSUD. .

4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk :
a. Manfaat Teoritis
Memberikan pengalaman bagi peneliti dalam pelaksanaan penelitian mulai dari pengolahan sampai hasil penelitian dan dapat dijadikan bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang berminat pada judul penelitian ini.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi petugas kesehatan khususnya tenaga bidan
Dapat melaksanakan secara tepat penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini segera setelah bayi lahir agar kegagalan menyusui pada bayi dapat berkurang dan suplai ASI ibu tetap terjaga.
2) Bagi Masyarakat
Memberikan masukan kepada masyarakat khususnya ibu hamil tentang pentingnya IMD yang dapat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI Ekslusif (ASI saja) sehingga bayi akan terpenuhi kebutuhannya selama 2 tahun dan dapat mencegah bayi kurang gizi.

5. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti terdapat judul penelitian yang mirip yaitu:
a. Lalu M., 2009, “Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Penatalaksanaan Inisiasi Menyusui Dini di BLUD RSU Dr. M. M. Dunda”.
Jenis Penelitian : Deskriptif korelasi dengan pendekatan evaluasi.
Populasi : Ibu yang dilakukan IMD sebanyak 13 orang.
Tehnik Sampling : Total sampling
Variabel : 1. Bebas : Tingkat Pendidikan Ibu.
2. Terikat: Penatalaksanaan Insiasi Menyusui Dini.
Hasil : Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di BLUD. RSU. Dr. M. M. Dunda Limboto diperoleh hasil penelitian dari 13 responden terdapat 9 orang ibu melahirkan yang tingkat pendidikan baik (69,23%) dan 4 orang ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang tidak baik (30,77%) sedangkan yang melakukan seluruh tahapan penatalaksanaan IMD ada 7 orang ibu dari 13 responden yang ada (53,85%) dan yang tidak melakukan seluruh tahapan penatalaksanaan IMD ada 6 orang (46,15%). Dari perhitungannya dapat diketahui bahwa nilai X2 tabel (6,71 > 3,84).
Kesimpulan : Adanya hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan penatalaksanaan inisiasi menyusui dini.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.285

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Penyuluhan ASI Eksklusif Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
ASI merupakan makanan yang pertama, utama, dan terbaik bagi bayi, yang bersifat alamiah. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Terkait itu, ada suatu hal yang perlu disayangkan, yakni rendahnya pemahaman ibu, keluarga, dan masyarakat mengenai pentingnya ASI bagi bayi. Akibatnya, program pemberian ASI Eksklusif tidak berlangsung secara optimal (Prasetyono, 2009, hlm 21).
Sebenarnya menyusui, khususnya yang secara eksklusif merupakan cara pemberian makan bayi yang alamiah. Namun, sering kali ibu-ibu kurang mendapatkan informasi bahkan sering kali mendapat informasi yang salah tentang manfaat ASI eksklusif, tentang bagaimana cara menyusui yang benar, dan apa yang harus dilakukan bila timbul kesukaran dalam menyusui bayinya (Roesli, 2000, hlm 2).
Para ahli meneliti 1.204 bayi yang meninggal pada usia 24 hari sampai satu tahun akibat kelainan bawaan atau tumor berbahaya dan 7.740 bayi yang masih hidup pada usia satu tahun. Mereka menelusuri angka kematian bayi tersebut keterkaitan dengan ASI dan durasi dampak reaksinya. Bayi yang tidak pernah mendapat ASI beresiko meninggal 21% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran dari pada bayi yang mendapat ASI. Mempromosikan pemberian ASI berpotensi menyelamatkan 720 kematian sesudah kelahiran di Amerika Serikat setiap tahunnya.
Para penulis kajian ini mendiskusikan dampak pemberian ASI dengan jarak kelahiran anak. Selain itu memperkirakan bahwa pemberian ASI secara eksklusif mengarah pada menurunnya angka kematian sebanyak 20% ketika kelahiran bayi berjarak paling tidak 2 tahun (Roesli, 2008).
Sekitar 40% kematian balita terjadi pada usia bayi baru lahir (dibawah satu bulan). Menurut the World Health Report (2005), angka kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah 20 per 1000 kelahiran hidup, berarti sama halnya dengan setiap hari 246 bayi meninggal, setiap satu jam 10 bayi Indonesia meninggal, jadi setiap 6 menit satu bayi Indonesia meninggal (Roesli, 2008).
Menurut Simkin et all, 2007, hlm 373, menyatakan pada tahun 1979, lebih dari 50% para ibu di Amerika menyusui bayinya. Dewasa ini, sekitar 60% para ibu menyusui bayinya yang baru lahir dan kira-kira 22% masih tetap menyusui yang sudah berusia enam bulan. Harapan mereka, setidaknya 75% wanita menyusui bayinya yang baru lahir dan setidaknya 50% dari ibu-ibu ini masih menyusui sampai bayinya berusia lima atau enam bulan.
Berdasarkan survei demografi dan kesehatan Indonesia pada tahun 1997 dan 2003, diketahui bahwa angka pemberian ASI eksklusif turun dari 49% menjadi 39%, sedangkan penggunaan susu formula meningkat tiga kali lipat. Informasi tersebut disampaikan oleh Ketua Badan Kerja Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (BKPP¬ASI).
Penelitian terhadap 900 ibu disekitar Jabotabek (1995) diperoleh fakta bahwa yang dapat memberi ASI eksklusif selama 4 bulan hanya sekitar 5%, padahal 98% ibu – ibu tersebut menyusui. Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 37,9% dari ibu – ibu tersebut tidak pernah mendapatkan informasi khusus tentang ASI, sedangkan 70,4% ibu tak pernah mendengar informasi tentang ASI Eksklusif (Roesli, 2000, hlm 2).
Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%, pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%. Pada ibu yang bekerja, singkatnya masa cuti hamil/melahirkan mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini mengganggu uapaya pemberian ASI eksklusif.
Prasetyono, 2009, hlm 21, menyatakan kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI ekslusif dipengaruhi oleh promosi produk-produk makanan tambahan dan formula.
Pengetahuan akan mempengaruhi sikap terhadap perilaku hidup sehat dan dalam menanggulangi masalah yang kurang mengerti tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif tersebut. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari banyak ibu-ibu yang mempunyai sikap dan kebiasaan yang dilakukan tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukannya baik atau tidak dalam pemberian ASI (Notoatmodjo, 2002).
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas tahun 2011 dapat dilihat bahwa pada Puskesmas Kabupaten . Pemberian ASI eksklusif masih dibawah yang di harapkan hanya mencapai 43,73% dari jumlah bayi 263 sedangkan dilihat dari standard nasional pada indikator ASI eksklusif sebesar 80%.
Pesisir merupakan salah desa yang ada di Kecamatan yang terletak di daerah pesisiran di mana banyak terdapat ibu-ibu muda dengan tingkat pendidikan yang masih rendah. Berdasarkan pengamatan penulis diketahui masih terdapat kebiasaan masyarakat yang memberikan makanan/minuman beberapa saat setelah lahir yaitu berupa madu, larutan gula, susu bubuk, pisang biji, dengan alasan bayinya akan kelaparan yang merupakan tradisi turun temurun. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan ibu akan pentingnya manfaat ASI eksklusif tersebut.
Dimana hal tersebut diatas merupakan faktor dominan yang menghambat pemberian ASI eksklusif umumnya. Oleh karna itu perlu diberikan informasi melalui penyuluhan ASI eksklusif.

1.2. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, proposal penelitian ini diajukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil di desa Pesisir Kecamatan 2012.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Proposal ini diajukan untuk melakukan penelitian mengetahui pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil di desa Pesisir Kecamatan Kabupaten 2012.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan ASI ekskusif terhadap pengetahuan ibu hamil
2. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terhadap sikap ibu hamil.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.284

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Kemampuan Ibu dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI (Umur 6-24 Bulan)


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan dalam bidang kesehatan di arahkan untuk meningkatkan beberapa aspek seperti kualitas sumber daya manusia, kualitas hidup, usia harapan hidup, kesejahteraan keluarga dan masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan produktif. Hal ini tercermin dalam tujuan pembangunan nasional di bidang kesehatan yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Dengan demikian masyarakat diharapkan mampu berpartisipasi aktif dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri.
Sesuai tuntutan reformasi pembangunan maka sektor kesehatan juga mengalami perubahan yang sangat mendasar yaitu mengajak dan memotivasi masyarakat pada umumnya dan penyelenggara pelayanan kesehatan khususnya untuk mulai mengubah pola pikir dari sudut pandang yang sehat yang di kenal dengan istilah paradigma sehat ( paradigma sehat, 2010 ).
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat terkait dengan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan mutu gizi yang seimbang. Pemenuhan kebutuhan gizi, terutama diperlukan sejak masa janin sampai anak-anak berusia lima tahun. Masa-masa ini merupakan masa rawan bagi anak. Pemenuhan gizi pada masa rawan sangat menentukan kualitas seseorang ketika mencapai usia produktif (Krisnatuti, 2001 ).
Kelompok masyarakat yang digolongkan sebagai grup rawan gizi adalah bayi /anak kecil, ibu hamil, ibu menyusui dan orang tua lanjut usia. Namun demikian, bayi dapat dikatakan yang paling memerlukan perhatian dalam hal makanannya, mengingat kondisi badannya yang masih sangat lemah (Muchtadi, 1996 ).
Sejak dini anak harus diberi makanan yang bergizi agar pertumbuhan dan perkembangan otaknya dapat berlangsung secara optimal. Jadi selain mengkonsumsi ASI, bayi yang berumur diatas 4-6 bulan harus dikenalkan makanan pendamping ASI. Ibu yang bijaksana, sebaiknya memahami seluk beluk mengenai makanan pendamping ASI, terutama mengenai kapan makanan pendamping ASI harus di berikan, jenis bentuk, dan jumlahnya (Yenrina, 2001 ).
Sebagai salah satu anggota tim kesehatan yang bekerja dengan anak dan orang tua, perawat berperan sebagai pendidik baik secara langsung dengan memberi penyuluhan /pendidikan kesehatan pada orang tua anak maupun secara tidak langsung dengan menolong orang tua /anak memahami pengobatan dan perawatan anaknya (Supartini, 2004 ).
Menurut wong ( 2001 ) mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan adalah dengan terlihat aktif dalam setiap upaya pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorietasi pada masalah anak, menjaga kesehatan anak dengan secara regular memeriksakan dan mencari pelayanan imunisasi, memberikan nutrisi yang adekuat dan menilai perkembangan fungsi keluarga dalam perawatan anak.
Penelitian terhadap “ The Cambridge Boys” menunjukkan bahwa pertambahan berat badan bayi yang terlambat diberi makanan pendamping ASI lebih lambat dibandingkan dengan yang sudah mendapat makanan tambahan. Masalah kekurangan gizi, khususnya pada anak di bawah dua tahun ( baduta ), merupakan masalah yang harus segera ditangani. Jika diabaikan, hal ini dapat mengakibatkan lost generation.
Hasil penelitian tentang tumbuh kembang balita di Indonesia, Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH menjelaskan bahwa pemberian makanan pendamping ASI bagi balita penting karena selain mencukupi kekurangan gizi sejak janin dalam kandungan, ketidaktaatan sang ibu bayi memberikan ASI Eksklusif serta mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang balita.
Dari hasil wawancara dengan ibu-ibu selama praktek keperawatan komunitas di lingkungan di dapatkan data penyuluhan kesehatan dan pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI masih kurang.
Berdasarkan uraian diatas menunjukakan bahwa sejak dini, anak harus diberi makanan bergizi dalam rangka mencapai proses tumbuh kembang yang optimal dan pengetahuan ibu yang memiliki balita tentang pemberian makanan ppendamping ASI memegang peranan yang sangat penting. Penyuluhan kesehatan merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan orang tua (terutama ibu) dalam berperan secara aktif untuk memberikan makanan tambahan pada anaknya
Maka hal ini yang mendorong peneliti mengadakan penelitian tentang pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI ( umur 6-24 bulan ) di kelurahan Kabupaten .

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas dapat di rumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :
Apakah ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI ( 6-24 bulan ) di kelurahan kabupaten .

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI ( umur 6-24 bulan ) di kelurahan kabupaten .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu memahami pengertian makanan pendamping ASI.
b. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu memahami manfaat makanan pendamping ASI.
c. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu memahami syarat-syarat makanan pendamping ASI.
d. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu memahami jenis makanan pendamping ASI dan waktu pemberiannya.
e. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kemampuan ibu memahami cara membuat makanan pendamping ASI.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di puskesmas barandasi kabupaten .
2. Sebagai tambahan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman bagi peneliti tentang pengaruh penyuluhan kesehatan bagi ibu dalam pemberian makanan tambahan.
3. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangsih ilmiah dan bahan bacaan untuk penelitian lebih lanjut.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.283

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Kemampuan Ibu Menstimulasi Perkembangan Anak Usia 0-12 bulan


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anak merupakan merupakan anugrah dan amanah dari Allah Subhana Wata’ala. Anak mempunyai potensi dan kemampuan yang dahsyat yang harus dikembangkan agar dapat menjadi sumber daya manusia yang handal kelak dikemudian hari.
Dalam artian umum anak adalah pewaris, dan calon pengemban bangsa. Secara lebih dramatis dikatakan bahwa anak merupakan modal sosio-ekonomi suatu bangsa. Menurut Sunarwati,(1996) Dalam artian individual, anak bagi orang tuanya mempunyai suatu nilai khusus yang penting pula. Dalam kedua aspek tersebut, yang diharapkan adalah agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik – baiknya sehingga kelak menjadi orang dewasa yang sehat, baik secara fisik, mental dan psikososial sebagai sumber daya manusia yang berkualitas.
Menurut Soerdojojo. (2000) Anak mempunyai hak – hak yang salah satunya adalah hak untuk berkembang (Developmental Rights). Ketika anak sudah tumbuh maka anak harus mendapatkan stimulasi – stimulasi agar bisa berkembang sesuai dengan tahap perkembanganya.
Upaya pembinaan kesejahteraan anak pada Dasawarsa Anak Indonesia kedua Tahun 1996 – 2006 diarahkan pada pembinaan kelangsungan hidup, perkembangan dan perlindungan dan partispasi anak dengan penekanan pada pembinaan perkembangan anak. (Depkes, 1998)
Tahun – tahun pertama kehidupan merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis yang jika tidak di perhatikan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembanagn selanjutnya, hal ini sesuai dengan prinsip epigenetik bahwa : kegagalan pada fase sebelumnya akan mempengaruhi fase perkembangan selanjutnya. Dikatakan juga masa / tahun – tahun keemasan (Golden Priod) karena fase ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi anak, dengan demikian sudah selayaknya dimanfaatkan secara maksimal.
Dalam ekologi anak sistem mikro dan sistem mini (keluarga) adalah yang dekat dan penting serta mempunyai peranan utama dalam proses perkembangan anak ( Sunarwati, 1996). Tahun-tahun pertama kebutuhan dasarnya (Asuh, asah, asih) secara totalitas bergantung dengan lingkungan keluarga terutama ibu yang sering berinteraksi dengan anak Menurut Harlock ( 2000) Hubungan akrab penuh kasih sayang antara orang tua terutama ibu merupakan faktor penting dalam perkembangan individu selama 12 bulan pertama, bayi membutuhkan perawatan dan pola asuh yang menyenagkan terus menerus.( http//www.pd persi.co.id)
Setiap peralakuan pada anak akan memberikan warna dan karakteristik dasar pada perkembangan anak tersebut, oleh karena itu setiap perlakuan yang juga merupakan stimulasi bagi anak harus diberikan sesuai prinsip-prinsip perkembangan dan stimulasi, agar anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi anak
Semakin dini orang tua melakukan stimulasi akan semakin baik. Stimulasi merupakan hal yang sangat penting, anak yang sering mendapat stimulasi akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau bahkan tidak mendapat stimulasi Perkembangan anak dapat dicapai secara optimal apabila orang tua terutama ibu melakukan berbagai upaya dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar anak ( asuh, asah, asih) yang salah satunya adalah menstimulasi perkembangan anak. Namun dalam realitanya masih banyak orang tua yang tidak memahami bagaimana mengasuh anak secara efektif yang disebabkan karena kurangya informasi di masyarakat (Depkes RI, 1996).
Berdasarkan penelitian sesaat yang dilaksanakan Depkes RI. di empat propinsi pada tahun 1988 (Jawa Barat, jawa Tengah,, DI Yogyakarta, Jawa Timur), Diperkirakan 4 juta Balita di Indonesia berpotensi mempunyai masalah perkembangan menstimulasi anak untuk mencapai perkembangan yang optimal.
Hasil penelitian Taufan Surana (2001) menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan stimulsi dini perkembangan potensi otaknya mencapai 80% pada 3 tahun pertama.
Hasil penelitan Tofan A dengan hasil: Ada hubungan bermakna tingkat pengetahuan dan Sikap dengan kemampuan ibu dalam menstimulasi perkembangan anak
Dari penjelasan tersebut diatas menunjukkan bahwa kebutuhan anak akan stimulasi perkembangan sangatlah penting untuk mencapai perkembangan yang optimal. Penyuluhan kesehatan merupakan strategi yang tepat karena sasaran hasil dari penyuluhan terjadinya terjadinya perubahan dan peningatan pengetahuan, sikap dan prilaku yang menunjang kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, yang dalam hal ini untuk menyiapkan dan meningkatkan kemampuan orang tua (terutama ibu) dalam berperan secara aktif dalam menstimulasi perkembangan anaknya.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap perawat bidan selama praktek keperawatan komunitas (Tanggal 23 November 2004 – 15 Januari ) di Kelurahan didapatkan bahwa penyuluhan mengenai perkembangan anak jarang dilakukan. Demikian juga dengan ibu yang berada di Kelurahan , sebagian dari mereka mengatakan bahwa penyuluhan mengenai perkembangan anak dari petugas kesehatan tidak pernah didapatkan.
Berdasarkan uraian diatas mengenai keterkaitan erat antara pnyuluhan kesehatan dengan peningkatan kemampuan ibu menstimulasi perkembangan anak, maka peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Kemampuan Keluarga Menstimulasi Anak Usia 0 – 12 Bulan”.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas mengenai pentingnya peran serta aktif orang tua terutama ibu dalam hal pemberian stimulasi terhadap optimalisasi perkembangan anak maka permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : “Apakah ada Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Kemampuan Ibu Menstimulasi perkembangan anak Usia 0 – 12 Bulan ?”.

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Kemampuan Keluarga Menstimulasi Perkembangan Anak Usia 0 – 12 Bulan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu mengenai Pemberian Stimulasi Perkembangan Anak
b. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Sikap Ibu mengenai Pemberian Stimulasi Perkembangan Anak
c. Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Peningkatan Perilaku Ibu mengenai Pemberian Stimulasi Perkembangan Anak

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi ilmu pengetahuan penelitian diharapkan dapat menjadi khazana ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya dan siapa saja yang memiliki minat yang tinggi pada ilmu pengetahuan terutama mengenai perkembangan anak.
2. Bagi tempat penelitian diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan perhatian masyarakat terutama keluarga untuk menstimulasi perkembangan anaknya.
3. Bagi Profesi keperawatan diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam upaya preventif dan promotif
4. Bagi penulis penelitian ini merupakan wadah untuk menuangkan ide dan buah pikiran ilmiah, merupakan pengalaman berharga untuk menambah wawasan ilmuah khususnya dalam metodeologi penelitian dan perkembangan anak.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.282

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengaruh Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Tingkat Nyeri Persalinan Ibu Inpartu Fase Aktif di BPS


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Strategi pembangunan nasional adalah pembangunan berwawasan kesehatan untuk mencapai tujuan MDG’s 2015. Strategi ini harus diikuti dengan pembangunan sumber daya manusia berkualitas, yang bercirikan manusia sehat, cerdas, produktif, dan mandiri. Upaya ini harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak manusia itu masih berada dalam kandungan, bayi dan semasa balita.
Setiap tahun diperkirakan delapan juta bayi lahir meninggal pada bulan pertama setelah kelahiran dan sekitar 80 persen kematian neonatal ini terjadi pada minggu pertama. Sebagian besar dari kematian ini terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Angka kematian bayi di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup. Tingginya kematian bayi pada usia hingga satu tahun menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya pada masa persalinan dan segera sesudahnya, serta perilaku ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang bersifat negatif bagi perkembangan kehamilan sehat, persalinan yang aman dan perkembangan dini anak.
Perawatan bayi baru lahir yang baik dan benar merupakan salah usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian bayi. Perawatan bayi baru lahir merupakan bagian perawatan maternal. Bayi baru lahir akan menjadi orang yang berdiri sendiri yang membutuhkan perhatian, perawatan dan pengawasan yang baik (Manuaba, 2002). Perawatan bayi baru lahir berkembang sejalan dengan pengetahuan bahwa bayi adalah lemah dan tidak berdaya, membutuhkan panas tubuh ekstra, dan merupakan periode hidup yang ber¬bahaya sehingga harus mendapatkan perlindungan, pengaturan lingkungan dibawah pengawasan yang konstan (Hamilton, 2000).
Infeksi pada talipusat atau tetanus neonatorum merupakan salah satu contoh dari perawatan bayi baru lahir yang kurang baik. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetanus neonatorum menyebabkan kematian bayi yang cukup tinggi karena pemotongan tali pusat masih banyak menggunakan alat-alat tradisional. Masuknya kuman tetanus Clostridum tetani sebagian besar melalui tali pusat. Masa inkubasinya sekitar 3 – 10 hari dan semakin pendek masa inkubasinya maka penyakit akan semakin fatal. Tetanus neonatorum menyebabkan kerusakan pada pusat motorik, jaringan otak, pusat pernafasan dan jantung (Manuaba, 2002).
Sebagian besar ibu yang mempunyai bayi merasa takut dan malas untuk merawat tali pusat yang tampak tidak menarik apalagi bila bayi baru berumur beberapa hari dan tali pusat masih basah. Selain itu dalam budaya masyarakat kita masih banyak ditemui mitos-mitos tentang perawatan talipusat bayi yang beresiko terhadap terjadinya infeksi pada talipusat. Salah satunya adalah anjuran untuk menempelkan uang logam diatas pusat bayi setelah talipusatnya puput, tujuannya adalah agar pusat bayi tidak menonjol (bodong). Kemudian masih banyak masyarakat kita yang melakukan hal yang dapat mengakibatkan talipusat terinfeksi, contohnya talipusat bayi yang dibubuhkan dengan kopi dan air jeruk yang muda agar talipusat cepat mengkerut dan kering.
Tindakan pencegahan aseptik yang baik hendaknya perlu diperhatikan pada perawatan dini tali pusat. Yang paling penting dalam perawatan tali pusat adalah hygiene perawatan yang baik, terutama mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi. Suatu cara pencegahan lain yang merupakan prosedur rutin adalah mengoleskan ujung tali pusat dan kulit abdomen disekitarnya dengan antiseptik dalam hal ini povidone iodine. Dengan cara ini maka populasi bakteri pada daerah tempat masuknya infeksi pada bayi sangat menurun terutama kuman patogennya (Yu dan Monintja, 1997).
Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok, masyarakat dikelompokan menjadi 4 yaitu lingkungan (environment), perilaku (behavior), pelayanan kesehatan (health services), dan keturunan (hereditas) (Blum, 1974 dalam Notoatmodjo, 2005). Pengetahuan dan motivasi adalah salah satu unsur perilaku manusia dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan. Pengetahuan dapat dikatakan sebagai pengalaman yang mengarah pada kecerdasan serta akan meningkatkan minat dan perhatian. Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indera yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan informasi dan keterampilan (Hidayat, 2003). Semakin tinggi tingkat pengetahuan individu tentang masalah kesehatan akan sangat membantu dalam penanganan/pencegahan terjadinya masalah kesehatan tersebut (Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan uraian tersebut, maka menarik dilakukan penelitian mengenai hubungan motivasi dan tingkat pengetahuan terhadap perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Tahun

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : “Apakah ada hubungan motivasi dan pengetahuan tentang perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Tahun ?”.

C. Tujuan Penelitan
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan motivasi dan pengetahuan tentang perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas Tahun
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi motivasi ibu tentang perawatan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas
b. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas
c. Mengidentifikasi perawatan talipusat bayi baru lahir oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas
d. Menganalisis hubungan motivasi tentang perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas
e. Menganalisis hubungan pengetahuan tentang perawatan bayi baru lahir dengan perawatan talipusat oleh ibu di wilayah kerja Puskesmas

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1. Bagi Ibu
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan bayi baru lahir.
2. Bagi Ilmu dan Profesi Kebidanan
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu kebidanan serta merupakan informasi yang berharga bagi profesi bidan dalam memberikan asuhan dan pendidikan kesehatan tentang perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan tali pusat bayi baru lahir
3. Bagi Puskesmas
Penelitian ini dapat digunakan sebagai evaluasi terhadap pelayanan yang telah diberikan khususnya dalam memberikan asuhan dan dan pendidikan kesehatan tentang perawatan bayi baru lahir khususnya perawatan tali pusat bayi baru lahir
4. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan serta dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan.
5. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan sebagai sarana dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama pendidikan dengan kenyataan yang ada di lapangan dan pengalaman yang sangat berguna dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu serta untuk menambah wawasan dalam pembuatan karya tulis ilmiah.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.281

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengembangan Sistem Informasi Perencanaan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Perhitungan Beban Kerja di Puskesmas pada Dinas Kesehatan


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan suatu bangsa memerlukan aset pokok yang disebut sumber daya (resources), baik sumber daya alam (natural resources), maupun sumber daya manusia (human resources) dan kedua sumber daya tersebut sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu pembangunan. Pengembangan sumber daya manusia (human resources development) adalah suatu proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam rangka mencapai suatu tujuan pembangunann bangsa, yang meliputi perencanaan, pengembangan dan pengelolaan sumber manusia (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Depkes (2003) tentang kebijakan dan strategi desentralisasi Bidang Kesehatan disebutkan bahwa dalam memantapkan sistem manajemen sumber daya manusia kesehatan perlu dilakukan peningkatan dan pemantapan perencanaan, pengadaan tenaga kesehatan, pendayagunaan dan pemberdayaan profesi kesehatan.
Untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010, pembangunan kesehatan ditujukan untuk menciptakan dan mempertahankan Provinsi/Kabupaten/Kota Sehat dengan menerapkan pembangunan berwawasan kesehatan, untuk itu diperlukan tenaga kesehatan yang bermutu dan merata baik penetapan jenis, jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan Kesehatan di unit Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) (Depkes 2004).
Dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan, bahwa tujuan penempatan/distribusi tenaga kesehatan adalah untuk tercapainya pemerataan pelayanan kesehatan.
Di Indonesia jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas tahun 2007 adalah 168.377 orang. Jumlah dokter umum yang bekerja di puskesmas sebanyak 10.763 orang (PNS maupun PTT). Dengan jumlah puskesmas sebanyak 8.015, maka rata-rata tiap puskesmas dilayani oleh 1-2 orang dokter umum. jumlah dokter gigi yang bekerja di puskesmas sebanyak 4.296 orang yang berarti belum semua puskesmas memiliki dokter gigi.
Dari data tersebut terlihat jelas fenomena antara ketersediaan puskesmas dan tenaga dokter sebagai penegak diagnosis penyakit, mengakibatkan mutu pelayanan kesehatan menjadi kurang optimal terutama pada Puskesmas terpencil di Indonesia. Kelemahan pelayanan kesehatan dilihat dari sudut tenaga kesehatan adalah yang menyangkut penyebaran yang belum merata, mutu pendidikan yang belum memadai (Depkes, 2000)
Provinsi Lampung yang terdiri dari 2 kota dan 9 kabupaten, dari data profil kesehatan tahun 2007 menunjukkan bahwa di Provinsi Lampung memiliki 29 rumah sakit baik pemerintah ataupun swasta, 246 Puskesmas, yang terdiri dari 40 Puskesmas rawat inap, 744 Puskesmas Pembantu dan 253 Puskesmas Keliling (profil kesehatan Provinsi Lampung 2007). Jika dilihat dari rasio puskesmas per 100.000 penduduk, maka rasionya sebesar 3,37, ini berarti setiap100.000 penduduk dilayani oleh 3 puskesmas, dan cakupan ini belum mencapai target yang ditetapkan yaitu 5 per 100.000 penduduk.
Ratio tenaga dokter dibanding penduduk selama 3 tahun terakhir cenderung meningkat, pada tahun 2007 sebesar 8,53 artinya setiap 100.000 penduduk dilayani oleh 8 orang dokter. Apabila dilihat rasio tenaga dokter di Provinsi Lampung angka tersebut cukup menggembirakan, akan tetapi dari distribusi tenaga dokter per kabupaten/kota jumlah tenaga dokter di Provinsi Lampung yang ada sebanyak 914 orang, tenaga dokter cenderung berada di daerah kota daripada di kabupaten, yaitu 36,32 % (332 orang) berada di Kota dan 11,71 % berada di Kota Metro, sementara ada kabupaten yang memiliki tenaga dokter masih dibawah 10 % dari total dokter yang ada di Provinsi Lampung. Untuk tenaga Perawat dan Bidan jumlah tenaga yang ada sebanyak 6.735 orang, dan persebarannya 20,27 % berada di Kota .
Jika dilihat dari persebaran tenaga kesehatan terutama tenaga dokter, sekitar 10 % Puskesmas di Kabupaten yang tidak memiliki tenaga dokter dan dokter gigi, dan pada wilayah-wilayah terpencil ada beberapa puskesmas yang hanya dilayani oleh 2 orang tenaga perawat dan 2 orang staf umum.(Profil Kesehatan Lampung 2007). Dengan terjadinya penumpukan tenaga kesehatan di wilayah tertentu (daerah perkotaan) mengakibatkan pelayanan kesehatan di kabupaten terutama daerah yang tidak diminati dan daerah terpencil menjadi tidak optimal, sehingga derajat kesehatan masyarakat didaerah akan semakin rendah.(Depkes, 2002)
Departemen Kesehatan dalam melaksanakan perencanaan tenaga kesehatan, telah mengeluarkan kebijaksanaan yaitu 1 puskesmas dilayani oleh 2 orang dokter, dan untuk daerah perkotaan dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan dengan melihat jumlah kunjungan dan beban kerja puskesmas.
Sebagai pola dasar struktur organisasi puskesmas, Departemen Dalam Negeri telah mengeluarkan SK Mendagri No. 23 tahun 1994, tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Puskesmas, kemudian Biro Organisasi dan Tata Laksana Departemen Kesehatan RI membuat secara rincian berikut.
Tabel 1.1
Kebutuhan jumlah tenaga kesehatan di puskesmas
JENIS TENAGA PUSKESMAS NON DTP PUSKESMAS DTP PUSKESMAS PEMBANTU
1. Dokter 2 3 -
2. Perawat 1-3 2-4 -
3. Bidan 2-3 5 1
4. Paramedis 10 11 1
Menurut data profil kesehatan tahun 2007, Provinsi Lampung yang memiliki 2 kota dan 9 kabupaten, memiliki sarana rumah sakit umum sebanyak 26 buah, puskesmas sebanyak 246 buah, 744 puskesmas pembantu dan 744 puskesmas keliling, dengan mengasumsikan 1 puskesmas dilayani oleh 2 orang dokter, maka diperlukan 246 x 2 dokter = 492 tenaga dokter, sedang tenaga dokter yang bekerja di puskesmas saat ini adalah 327 dokter umum (PNS dan PTT), dengan demikian di Lampung sebenarnya masih kekurangan 165 tenaga dokter umum untuk bekerja di puskesmas.
Apabila dilihat dari aspek persebaran tenaga dokter, maka distribusi tenaga dokter masih cenderung pada wilyaha perkotaan. Kabupaten Way Kanan, salah satu kabupaten yang memiliki 18 Puskesmas hanya dilayani oleh 10 orang tenaga dokter, apabila dengan asumsi 1 puskesmas dilayani oleh 1 dokter, maka ada sekitar 8 puskesmas yang tidak memiliki tenaga dokter, sementara Kota yang memiliki puskesmas sebanyak 22 buah dilayani oleh 112 tenaga dokter, yaitu 74 dokter umum dan 38 dokter gigi, apabila dengan asumsi daerah perkotaan 1 puskesmas dilayani oleh 2 orang tenaga dokter, berarti terjadi kelebihan tenaga sebanyak 68 tenaga dokter.
Apabila perhitungan kebutuhan tenaga dokter dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien, Kota dalam 1 tahun memilki jumlah kunjungan pasien sebesar 933.798 atau 30,73 % (Profil Kesehatan Lampung 2007) dari total kunjungan pasien seluruh provinsi, dengan asumsi waktu kerja/hari adalah 5 jam dan jumlah hari kerja perminggu adalah 6 hari maka dapat diperkirakan jumlah kebutuhan tenaga dokter di Kota adalah sebanyak 12 orang dokter.
Beberapa pendekatan kebijakan yang mungkin dapat diambil untuk menjebatani masalah SDM kesehatan yaitu melalui pendekatan kebijakan SDM kesehatan dan kebijakan supply and demand SDM kesehatan. Sedangkan dengan pendekatan struktural atau perundang-undangan, pemerintah lebih meningkatkan fungsi pengawasan, akreditasi dan lisensi (Ilyas, 2002).
Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) khususnya dalam subsistem SDM kesehatan, perencanaan SDM kesehatan merupakan salah satu unsur utama dari subsistem tersebut yang menekankan pentingnya upaya penetapan jenis, jumlah dan kualifikasi SDM kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan (Depkes, 2004)
Departemen Kesehatan melalui Kepmenkes No. 81/Menkes/SK/I/2004 telah mengeluarkan Pedoman Penyusunan Perencanaan Tenaga kesehatan di tingkat Provinsi/Kab/Kota serta rumah sakit berdasarkan beban kerja/Work Load Indicator Staf Need (WISN), namun pelaksanaan dan implementasi dari perencanaan kebutuhan Tenaga kesehatan berdasar beban kerja sangat sulit, karena petugas harus melaksanakan langkah-langkah perhitungan, yaitu 1. Menetapkan Waktu Kerja tersedia pertahun, 2. Menetapkan kategori SDM, 3.Menyusun standar beban kerja, 4. Menyusun Standar kelonggaran, 5. Perhitungan Kebutuhan tenaga per unit kerja, karena rumit dan terbatasnya tenaga perencana dan pengelola SDM di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, maka saya merasa perlu untuk mengembangkan rancangan sistem informasi perencanaan tenaga kesehatan berdasarkan beban kerja di Puskesmas
Dalam melakukan upaya perencanaan, pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sangat terkait dengan faktor internal maupun eksternal ang berkembang saat ini. Beberapa masalah yang diperkirakan akan menjadi kendala utama dan berpengaruh dalam program perencanaan, pengembangan dan pemberdayaan manusia kesehatan adalah globalisasi, otonomi daerah, entrepreneurship kesehatan, kualitas kelulusan dan pegawai negeri, pemerataan tenaga kesehatan, masa depan institusi kesehatan, tenaga kerja kesehatan Indonesia dan sistem informasi (BPPSDMK, 2004)
Kendala yang sangat dirasakan dalam pelaksanaan pengembangan Sistem Informasi SDM kesehatan didaerah adalah data dan informasi tenaga kesehatan yang masih sulit diperoleh, sehingga tidak dapat menggambarkan keadaan SDM kesehatan secara nasional setelah adanya kebijakan desentralisasi, sistem pengumpulan data didaerah sangat bervariasi, bahkan di beberapa daerah tidak ada unit yang mempunyai fungsi untuk penyediaan data SDM kesehatan (BPPSDMK, 2004), dan pengelolaan informasi di kabupaten/kota belum berjalan optimal, terutama dalam melihat kebutuhan data dan informasi secara keseluruhan dari sistem informasi yang ada, ditunjang kemampuan perencanaan tenaga kesehatan yang masih lemah, dimana perencanaan kebutuhan masih berdasarkan permintaan kebutuhan tenaga dari provinsi untuk mengisi kekurangan tenaga yang ada di kabupaten/kota, dan hal ini masih juga terjadi pada hampir semua kabupaten/kota di Indonesia (Zulkarnain, 2000).
Dinas Kesehatan Kota yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 844.607 jiwa dan 22 puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan serta memiliki 669 SDM kesehatan, dalam perencanaan SDM nya belum memiliki format khusus atau acuan yang dapat menjadi landasan dalam perencanaan SDM kesehatan khususnya di puskesmas, kendala standar waktu terhadap kegiatan pelayanan di puskesmas juga menjadi kendala terhadap perhitungan perencanaan SDM kesehatan berdasarkan beban kerja.
Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di puskesmas berdasarkan beban kerja, sehingga sistem ini diharapkan dapat membantu dalam pengambilan keputusan/decision support system (DSS) atau sistem pendukung keputusan, menurut Kendall & Kendall (2003), sistem informasi ini merupakan sistem yang terkomputerisasi diatas sistem informasi manajemen yang lebih menekankan pada fungsi mendukung pengambilan keputusan di seluruh tahap-tahapannya, walaupun keputusan aktual masih tetap wewenang khusus pembuat keputusan, sehingga data dan informasi diperlukan untuk mengambil keputusan dan kebijakan baik untuk perencanaan, pendistribusian serta untuk progam pengembangan dan pemberdayaan sumber dya kesehatan itu sendiri maupun untuk kepentingan program.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Permasalahan Kesehatan Masyarakat
Mutu pelayanan kesehatan pada pelayanan kesehatan dasar menjadi tidak optimal karena tidak meratanya distribusi tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat dan bidan) di Puskesmas
1.2.2 Permasalahan Sistem Informasi Kesehatan
1. Ketersediaan data kunjungan pasien per unit kerja yang belum terekap secara rinci.
2. Sulitnya memformulasikan perhitungan berdasarkan beban kerja
3. Sulitnya melaksanakan pengolahan data dan analisis data kebutuhan perencanaan tenaga kesehatan di Puskesmas, dan belum menghasilkan suatu bentuk informasi.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Dikembangkannya prototype Sistem Informasi Perencanaan Tenaga kesehatan di Puskesmas berdasarkan beban kerja di Kota .
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Dilakukan analisis sistem untuk melihat gambaran sistem yang terjadi saat ini
2. Teridentifikasinya informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan
3. Tersusunnya basis data Tenaga kesehatan
4. Terbentuknya rancangan sistem : Input, Proses, Output
5. Terbentuknya Prototipe Sistem Informasi Perencanaan Tenaga kesehatan di Puskesmas berdasarkan Beban Kerja di Kota

1.4 Manfaat
1.4.1 Untuk Dinas Kesehatan Kota
1. Prototipe yang akan dikembangkan ini akan diimplementasikan pada Sub Bag Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota
2. Diperolehnya sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan sebagai solusi yang dapat membantu dalam penghitungan kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan beban kerja
3. Dapat membantu para pengambil keputusan untuk mendistribusikan tenaga sesuai beban kerja, sehingga pada akhirnya upaya kesehatan akan memiliki daya ungkit yang lebih tinggi terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1.4.2 Untuk Peneliti
1. Dapat membantu dan pengalamaan lebih lanjut dalam pengembangan sistem informasi perencanaan tenaga kesehatan sebagai bekal dalam melaksanakan tugas lebih lanjut.
2. Menambah pengalaman nyata penulis dalam melakukan penulisan ilmiah.
1.4.3 Program Studi
Menambah referensi khususnya yang berkenaan dengan sistem informasi kesehatan
1.4.4 Instansi
Bagi Dinas Kesehatan Kota dapat dijadikan sebagai bahan untuk membantu mengambil keputusan dalam perencanaan tenaga kesehatan dan mendistribusikan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan beban kerja di unit pelayanan atau puskesmas.

1.5 Ruang Lingkup
1. Pengembangan sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan ini akan dilakukan di Dinas Kesehatan Kota sub Bag Kepegawaian Dinas Kesehatan Kota
2. Data yang digunakan dalam perhitungan perencanaan tenaga kesehatan di puskesmas masih dibatasi pada tenaga kesehatan Dokter, Dokter Gigi, Perawat dan Bidan, data kunjungan pasien yang didapat dari laporan LB-4 dan LT-2 SP2TP puskesmas tahun 2007, dan prototype yang dirancang terbuka untuk penambahan jenis tenaga kesehatan yang lain.
3. Dalam pengembangan prototype perencanaan tenaga kesehatan puskesmas di Dinas Kesehatan Kota , semua faktor determinan yang berpengaruh terhadap perencanaan tenaga kesehatan seperti perkembangan penduduk, pola penyakit, keadaan darurat dan perubahan suhu politik tidak diperhitungkan karena dianggap tetap.
4. Data lain yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem ini dibatasi pada entitas yang diperlukan akan dilakukan dengan cara telaah dokumen dan wawancara mendalam terhadap petugas yang terkait.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.280

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengembangan Soal-soal Pilihan Ganda pada Proses Evaluasi dalam Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa pada Pokok Bahasan Konsep Kebidanan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Evaluasi meruapakan salah satu tugas dosen untuk memberikan nilai atau kegiatan mengukur kemampuan para peserta didik. Dimana hasil tersebut sudah memenuhi standar yang telah ditentukan atau belum. Namun dalam sebuah pengambilan nilai seorang dosen tidak harus berpatokan mutlak pada pekerjaan peserta didik yang secara tertulis saja, karena dalam setiap mata pelajaran dan dalam standar komtetensi serta kompetensi dasar mempunyai capaian nilai tersendiri.
Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga nilai berdasarkan kriteria tertentu untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif, dimulai dari informasi-informasi kuantitatif dan kualitatif. Instrumennya (alatnya) harus cukup sahih, kukuh, praktis dan jujur. Data yang dikumpulkan dari peng administrasian instrument itu hendaklah diolah dengan tepat dan digambarkan pemakaiannya (Djamarah, 2000: 207).
Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian. (test, measurement,and assessment). Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan (Djemari Mardapi, 2008: 67). Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Objek ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat, maupun motivasi.
Selanjutnya hasil belajar seorang mahasiswa merupakan kemampuan yang dimiliki mahasiswa dalam menerima pengalaman belajarnya, dan menjadi evaluasi bagi seorang dosen. Seberapa kemampuan dan penguasaan materi setiap mahasiswanya selama proses belajar mengajar di kelasnya.
Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengtahui keberhasilan proses dan hasil belajar mahasiswa. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
Salah satu prinsip dasar yang harus senantiasa diperhatikan dan dipegangi dalam rangka evaluasi hasil belajar adalah prinsip kebulatan, dengan prinsip evaluator dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif), maupun dari segi penghayatan (aspek afektif), dan pengamalannya (aspek psikomotor).
Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:
a) Ranah proses berfikir (cognitive domain)
b) Ranah nilai atau sikap (affective domain)
c) Ranah keterampilan (psychomotor domain)
Tes yang diberikan oleh seorang dosen juga memiliki beberapa aspek yang harus diterima oleh mahasiswa. Salah satu tes hasil belajar tersebut, misalnya aspek kognitif. Aspek ini merupakan jenis tes yang berhubungan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi beberapa aspek pengetahuan, yaitu pengetahuan pemahaman, hafalan, komprehensi, penerapan aplikasi, analisis, dan evaluasi khususnya tentang konsep kebidanan.
Mata kuliah konsep kebidanan ini memberikan kemampuan kepada mahasiswi untuk memahami konsep kebidanan dengan pokok bahasan : Filosofi dan konseptual kebidanan, paradigma asuhan kebidanan, metodologi asuhan kebidanan model dan teori dalam praktek kebidanan, peran dan fungsi bidan, konsep profesi bidan sebagai tenaga professional, perkembangan profesi bidan dan pendidikan secara nasional dan internasional, pengembangan karier dan sistem penghargaan bagi bidan.
Evaluasi pencapaian belajar mahasiswa adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap dosen atau pengajar. Dalam proposal skripsi ini akan ditekankan pada Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di .
B. Identifikasi Masalah
Beberapa masalah di lapangan yang berkaitan dengan topik penelitian di atas antara lain :
1. Pembuatan soal soal pilihan ganda oleh dosen belum memenuhi standar pembuatan soal yang baik
2. Kurangnya pemahaman dosen dalam menyusun dan membuat soal pilihan ganda sehingga menimbulkan kerancuan bagi mahasiswa dalam mengerjakan soal tersebut
3. Belum adanya upaya pengembangan soal soal pilihan ganda
4. Kurang optimalnya peningkatan hasil belajar konsep kebidanan
5. Proses evaluasi pendidikan yang dilakukan belum berjalan maksimal

C. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi hanya tentang masalah Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di .

D. Perumusan Masalah
Menurut Abdullah Ali (2007:85) rumusan masalah pada dasarnya merupakan penjabaran dari pokok masalah yang akan diteliti. Rumusan masalah biasanya diungkapkan dalam point-point pertanyaan penelitian. Rumusan masalah hakekatnya bisa menjadi pedoman bagi peneliti untuk membatasi permasalahannya.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi di ?
2. Bagaimana hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di ?
3. Bagaimana Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di ?

E. Tujuan Penelitian
Menurut M Iqbal Hasan (2002:44), tujuan penelitiaan adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Pada dasarnya tujuan penelitian memberikan informasi mengenai apa yang akan diperoleh setelah selesai penelitian. Tujuan penelitian harus bersifat spesifik, terbatas, dapat diukur dan dapat diperiksa dengan melihat hasil penelitian, dijabarkan dengan menggunakan kata-kata pembuka seperti mengetahui, menemukan, menjelaskan, menganalisis, menguraikan, menilai, menguji,membandingkan, menemukan hubungan antara dll. Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
a. Diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan bisa sebagai data untuk penelitian selanjutnya.
b. Memberikan masukan terhadap tenaga pengajar kesehatan khususnya dalam upaya Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di
2. Tujuan Khusus :
a. Untuk mengetahui Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi di
b. Untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di
c. Untuk mengetahui Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk memberikan sumbangan ilmu dalam bidang pendidikan mengenai Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan
2. Manfaat Praktis
a. Secara praktis penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi praktisi kesehatan dalam memberikan pengetahuan tentang Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di
b. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh mahasiswa dalam memahami Pengembangan soal soal pilihan ganda pada proses evaluasi dalam peningkatan hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan konsep kebidanan di

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.279

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengetahuan Ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini di wilayah kerja puskesmas


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Inisiasi Menyusu Dini yaitu memberikan ASI kepada bayi baru lahir, bayi tidak boleh dibersihkan terlebih dahulu dan tidak dipisahkan dari ibu. Pada inisiasi menyusu dini ibu segera mendekap dan membiarkan bayi menyusu dalam 1 jam pertama kelahirannya (Roesli, 2008). Peran Millenium Devolepment Goals (MDGs) dalam pencapaian Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yaitu Inisiasi Menyusu Dini dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif dan lama menyusui maka akan membantu mengurangi kemiskinan, membantu mengurangi kelaparan karena ASI dapat memenuhi kebutuhan makanan bayi sampai usia dua tahun, membantu mengurangi angka kematian anak balita.
Pemberian ASI dikenal sebagai salah satu yang memberikan pengaruh yang paling kuat terhadap kelangsungan hidup anak, pertumbuhan dan perkembangan. Penelitian menyatakan bahwa inisiasi dini dalam 1 jam pertama dapat mencegah 22% kematian bayi di bawah umur 1 bulan di negara berkembang (APN, 2007). Pencapaian 6 bulan ASI Eksklusif bergantung pada keberhasilan inisiasi dalam satu jam pertama. ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, bersamaan dengan pemberian makanan pendamping ASI dan meneruskan ASI dari 6 bulan sampai 2 tahun, dapat mengurangi sedikitnya 20% kematian anak balita (Roesli, 2008).
Peran tenaga kesehatan, khususnya dokter dan bidan sangat berpengaruh terhadap pemberian ASI secara dini. Namun, di Indonesia masih banyak tenaga kesehatan maupun pelayanan kesehatan (termasuk Rumah Sakit) yang belum mendukung pemberian ASI secara dini dengan alasan keadaan Ibu masih lemah, masih banyak darah dan lendir yang harus dibersihkan, takut bayi terkena hipotermi, bahkan ada yang mengatakan Inisiasi Menyusu Dini dengan membiarkan bayi merangkak sendiri mencari puting susu ibu adalah hal primitive yang melecehkan bangsa indonesia (padahal IMD juga dilakukan di negara maju). Banyak rumah sakit dan bidan yang langsung memberikan susu formula begitu bayi lahir jika ASI belum keluar (Soegiarto, 2008).
3,7% bayi di Indonesia disusui dalam 1 jam pertama setelah kelahiran, dan angka kematian bayi masih relatif tinggi yaitu 35 per 100 kelahiran hidup yang diantaranya disebabkan oleh hipotermi, kurang gizi dan infeksi. Di Indonesia angka pemberian ASI Eksklusif masih rendah yaitu hanya 7,8%. Penelitian menyatakan bahwa inisiasi dini dalam 1 jam pertama dapat mencegah 22% kematian bayi di bawah umur 1 bulan di negara berkembang (SDKI, 2007).
Angka kematian bayi baru lahir sebanyak 22% dalam satu bulan pertama dapat dicegah dengan bayi menyusu pada ibu satu jam pertama, sedangkan menyusu pada hari pertama lahir dapat menekan angka kematian bayi hingga 16% (Roesli, 2008). Proses inisiasi menyusu dini bayi tidak mengalami hipotermi atau kedinginan karena dekapan ibu terhadap bayi dan suhu di dada ibu akan naik 2oC (Roesli, 2008).
Menyusui bayi di Indonesia sudah menjadi budaya namun praktik pemberian ASI masih jauh dari yang diharapkan. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 hanya 10% bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, yang diberikan ASI kurang dari 2 bulan sebanyak 73%, yang diberikan ASI 2 sampai 3 bulan sebanyak 53% yang diberikan ASI 4 sampai 5 bulan sebanyak 20% dan menyusui eksklusif sampai usia 6 bulan sebanyak 49% (WHO, 2007)
Setiap jam sebelum mencapai usia 1 tahun di Indonesia diperkirakan 20 bayi meninggal pada setiap tahunnya. Hampir setengah dari kematian bayi ini terjadi pada masa neonatal yaitu pada bulan pertama kelahiran, di mana bayi sangat rentan terhadap kesakitan dan kematian (Roesli, 2008).
Suatu hasil penelitian di Ghana yang diterbitkan oleh jurnal pediatriks menunjukkan bahwa 16% kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22% jika pemberian ASI dimulai dalam 1 jam pertama setelah kelahirannya. ASI adalah asupan gizi yang terbaik untuk melindungi dari infeksi pernafasan, diare, alergi, sakit kulit, asma, obesitas juga membentuk perkembangan intelegensia, rohani, perkembangan emosional. Hasil telaah dari 42 negara menunjukkan bahwa ASI eksklusif memiliki dampak terbesar terhadap penurunan angka kematian balita, yaitu 13% dibanding intervensi kesehatan masyarakat lainnya (Roesli, 2008).
Permasalahan yang utama rendahnya angka cakupan ASI ini adalah karena faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung serta gencarnya promosi susu (Depkes RI, 2003).
Kesadaran akan pentingnya ASI termasuk IMD dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini yang rendah karena dipengaruhi oleh faktor pendidikan ibu yang rendah, tidak ada dorongan atau motivasi untuk mengetahui perkembangan zaman, ketersediaan informasi, ketersediaan fasilitas kesehatan, pendapatan perkapita yang menyebabkan ibu melakukan persalinan dengan dukun, dukungan dari orang terdekat, dukungan dari tenaga kesehatan, kebudayaan, dan adanya promosi Insiasi Menyusui Dini. (http://www.fkm.undip.ac.ad)
Kabupaten terdapat 21 puskesmas, salah satunya adalah puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap selain fasilitas rawat jalan. Puskesmas mempunyai jumlah bidan yaitu 30 bidan dengan 22 bidan desa dan 8 bidan Puskesmas. Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas pada tahun 2009 yaitu sejumlah 932 persalinan, dan dari jumlah tersebut hanya 10,6% (99 persalinan) yang dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD) sedangkan sisanya tidak dilakukan (DKK , 2009). Dalam pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan apabila tidak dilakukan inisiasi menyusu dini maka kematian (mortalitas) dan kesakitan (morbiditas) bayi masih tinggi atau tidak mengalami perubahan yang bermakna.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti tingkat pengetahuan ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini di wilayah kerja Puskesmas , kabupaten

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka perumusan masalahnya adalah “Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini di wilayah kerja puskesmas , kabupaten ”.

C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini di wilayah kerja Puskesmas kabupaten
b. Tujuan Khusus
1) Mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pengertian Inisiasi Menyusu Dini.
2) Mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang manfaat Inisiasi Menyusu Dini.
3) Mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pengetahuan ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini bertambah terutama diwilayah kerja puskesmas , kabupaten
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti.
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang inisiasi menyusu dini yang didapat selama di bangku kuliah dan menerapkannya di masyarakat.
b. Bagi petugas kesehatan
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi tenaga kesehatan tentang pentingnya inisiasi menyusu dini dan dapat menerapkan praktik inisiasi menyusu dini pada ibu bersalin sehingga dapat mengurangi angka kematian neonatus.
c. Bagi institusi
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi dan referensi penelitian selanjutnya didalam meningkatkan pengetahuan tentang inisiasi menyusu dini.
d. Bagi masyarakat.
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi secara umum pada masyarakat terutama pada ibu hamil untuk nantinya menerapkan inisiasi menyusu dini dan memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.278

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengetahuan Ibu Hamil tentang Kehamilan Resiko Tinggi di Puskesmas


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan adalah sejak dimulainya konsepsi sampai lahirnya janin lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) (Prawirohardjo, 2002: 89). Kehamilan sebagai keadaan fisiologis dapat diikuti proses patologis yang mengancam keadaan ibu dan janin. Tenaga kesehatan harus dapat mengenal perubahan yang mungkin terjadi sehingga kelainan yang ada dapat dikenal lebih dini. Misalnya perubahan yang terjadi adalah edema tungkai bawah pada trimester terakhir dapat merupakan fisiologis. Namun bila disertai edema ditubuh bagian atas seperti muka dan lengan terutama bila diikuti peningkatan tekanan darah dicurigai adanya pre eklamsi. Perdarahan pada trimester pertama dapat merupakan fisiologis yaitu tanda Hartman yaitu akibat proses nidasi blastosis ke endometrium yang menyebabkan permukaan perdarahan berlangsung sebentar, sedikit dan tidak membahayakan kehamilan tapi dapat merupakan hal patologis yaitu abortus, kehamilan ektopik atau mola hidatidosa (Mansjor, dkk, 2001: 252).
Kehamilan risiko tinggi (KRT) adalah keadaan yang dapat mempengaruhi keadaan optimalisasi ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi (Manuaba, 1998). Menurut Rustam (1998) kehamilan risiko tinggi adalah beberapa situasi dan kondisi serta keadaan umum seorang selama masa kehamilan, persalinan, nifas akan memberikan ancaman pada kesehatan jiwa ibu maupun janin yang dikandungnya.
Menurut survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 AKI di Indonesia berkisar 307/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 35/1.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi baru lahir (Neonatal) sekitar 20/1.000 kelahiran hidup (Depkes RI 2004).
Pada laporan tahunan mencakup data Puskesmas, Puskesmas pembantu, BPS tahun 2010 untuk wilayah Kecamatan jumlah hamil dengan risiko tinggi baru 58 orang. Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 13-15 Juni 2011 di puskesmas desa kecamatan , didapatkan 2 ibu yang berisiko tinggi melahirkan bayi yang berkelainan yaitu di desa semambung ibu melahirkan bayi dengan Hidrocepalus pada umur 40 hari meninggal dan di desa kedung pandan ibu melahirkan bayi dengan tanpa anus pada umur 6 hari meninggal yang di karenakan kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan resiko tinggi. Jumlah ibu hamil di Puskesmas tahun 2010 sebanyak 933 orang, yang tergolong risiko tinggi sebanyak 58 orang. Sedangkan yang tidak tergolong risiko tinggi sebanyak 875 orang.
Mortalitas dan mordibitas pada wanita hamil adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-50 %. Kematian wanita subur usia disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin sebenarnya lebih dari 50% kematian di negara berkembang (Prawirohardjo, 2002: 3).
Ibu hamil di negara-negara Afrika dan Asia selatan menghadapi risiko untuk mengalami kematian saat hamil dan melahirkan sekitar 200 kali lebih besar dibandingkan risiko yang dihadapi ibu di negara maju. Karena angka fertilitas di negara berkembang lebih tinggi maka rentang risiko di Afrika I diantara 6000. tiap tahun terdapat dari 150 juta ibu hamil di negara berkembang. Sekitar 500.000 diantaranya akan meninggal akibat penyebab kehamilan, dan 50 juta lainnya menderita karena kehamilannya mengalami komplikasi (Widyastuti, 2003: 1).
Menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia ke dalam perdarahan dan infeksi sebagai penyebab kematian, sebenarnya tercakup pula kematian akibat abortus terinfeksi dan partus lama. Hanya sekitar 50% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis. Keadaan ibu sejak pra hamil dapat mempengaruhi terhadap kehamilannya, penyebab tak langsung kematian ibu ini antara lain adalah amenia, kurang energi kronis (KEK) dan keadaan “4 terlalu “ muda / tua, sering dan banyak (Prawirohardjo, 2003: 6).
Demikian tingginya resiko kehamilan pada ibu dapat mengancam keselamatan bahkan dapat terjadi hal yang paling buruk yaitu kematian ibu dan bayi, maka perlu dilakukan upaya optimal guna mencegah atau menurunkan frekuensi ibu hamil yang beresiko tinggi serta penanganannya perlu segera dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Dengan demikian pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin untuk mendeteksi adanya tanda-tanda resiko tinggi menjadi sangat penting dalam usaha mewujudkan kehamilan dengan ibu dan bayi yang sehat (PPIBU-UNFPA, 1998). Berdasarkan karakteristik ibu hamil diketahui bahwa faktor penting penyebab resiko tinggi pada kehamilan terjadi pada kelompok usia < 20 tahun dan usia >35 tahun (PPIBI-UNFPA, 1998).
Apabila seorang ibu hamil memiliki pengetahuan yang lebih tentang
resiko tinggi kehamilan maka kemungkinan besar ibu akan berpikir untuk
menentukan sikap, berperilaku untuk mencegah, menghindari atau mengatasi
masalah resiko kehamilan tersebut. Dan ibu memiliki kesadaran untuk
melakukan kunjungan antenatal untuk memeriksakan kehamilannya, sehingga
apabila terjadi resiko pada masa kehamilan tersebut dapat ditangani secara
dini dan tepat oleh tenaga kesehatan. Hal ini juga dimaksudkan untuk dapat
membantu menurunkan angka kematian ibu yang cukup tinggi di Indonesia
dan diharapkan pada tahun 2010 angka kematian ibu bisa menjadi 125 per
100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2004).
Untuk mengatasi masalah di atas perlu diadakan penyuluhan kepada masyarakat khususnya ibu hamil tentang kehamilan resiko tinggi.Peran serta UNICEF dan pemerintah Indonesia dalam pencegahan kehamilan resiko tinggi harus disosialisasi secara benar dan luas, tidak hanya kepada kalangan tenaga medis tetapi juga masyarakat
Dari hasil survey di atas peneliti ingin mengetahui seberapa pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan risiko tinggi, untuk itu peneliti melakukan penelitian ini

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumusakan permasalahan penelitian yaitu “Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kehamilan Resiko Tinggi Di Puskesmas Desa Kecamatan Kabupaten ”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah diketahuinya Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kehamilan Resiko Tinggi Di Puskesmas Desa Kecamatan Kabupaten .
2. Tujuan Khusus
a) Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang pengertian kehamilan risiko tinggi.
b) Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang faktor kehamilan risiko tinggi.
c) Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang cara menentukan kehamilan risiko tinggi.
d) Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang penatalaksanaan kehamilan risiko tinggi.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Menambah wawasan baru tentang perawatan antenatal, khususnya pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan risiko tinggi.
2. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan dan sebagai acuan dalam pembuatan penelitian adik kelas selanjutnya.
3. Bagi Profesi
Diharapkan dapat memberikan masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu hamil khususnya konseling tentang pengetahuan tentang kehamilan risiko tinggi.
4. Bagi Ibu Dan Masyarakat
Sebagai informasi untuk meningkatkan pengetahuan ibu dan masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kehamilan resiko tinggi, sehingga derajat kematian ibu dan bayi bias teratasi
.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.277

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Pengetahuan Ibu Hamil tentang Persiapan Persalinan dan Penanganan Komplikasi di Desa


A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dari indikator kesehatan masih ditandai dengan besarnya angka kematian ibu (AKI). AKI merupakan indikator penting yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir berkualitas. Oleh sebab itu indikator Milenium Development Gol’s (MDGs) untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah AKI, proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih.
Sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh penyebab langsung yaitu perdarahan, infeksi, eklamsia, persalinan lama dan abortus komplikasi abortus. Disamping itu, kematian ibu juga dilatar belakangi oleh rendahnya tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, kedudukan dan peran perempuan, faktor sosial budaya serta faktor transportasi, yang kesemuanya berpengaruh pada munculnya dua keadaan yang tidak menguntungkan, yaitu: Pertama, (3T) Terlambat (terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan); kedua, (4T) Terlalu (terlalu muda melahirkan, terlalu sering melahirkan, terlalu rapat jarak melahirkan, dan terlalu tua untuk melahirkan).
Mengingat penyebab dan latar belakang kematian ibu yang sangat kompleks dan menyangkut bidang-bidang yang ditangani oleh banyak sektor, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, maka upaya percepatan penurunan AKI memerlukan penanganan yang menyeluruh terhadap masalah yang ada dengan melibatkan sektor terkait.
Telah dilakukan upaya percepatan penurunan AKI, untuk menanggulangi permasalahan tersebut Pada tahun 2000 Departemen Kesehatan telah mencanangkan Strategi Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan strategi terfokus dalam penyediaan dan pemantapan pelayanan kesehatan, dengan 3 (tiga) pesan kunci MPS, yaitu: Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat, dan Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Upaya percepatan penurunan AKI tersebut dilaksanakan melalui empat strategi, yaitu : Peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi, kerja sama lintas program, lintas sektor terkait dan masyarakat termasuk swasta, pemberdayaan perempuan, keluarga dan pemberdayaan masyarakat, dan Meningkatkan survailance, monitoring-evaluasi KIA dan pembiayaan.
Pada tahun 2007 Menteri Kesehatan mencanangkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan stiker yang merupakan “upaya terobosan” dalam percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir melalui kegiatan peningkatan akses dengan kualitas pelayanan, yang sekaligus merupakan kegiatan yang membangun potensi masyarakat, khususnya kepedulian masyarakat untuk persiapan dan tindakan dalam menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir.
Melalui P4K dengan stiker, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan norma sosial bahwa cara yang aman untuk menyelamatkan ibu hamil-bersalin-nifas dan bayi lahir ke bidan dengan memeriksakan kehamilan,bersalin,perawatan nifas, dan perawatan bayi baru lahir ke bidan atau tenaga kesehatan terampil di bidang kebidanan, sehingga kelak dapat mencapai dan mewujudkan Visi Departemen Kesehatan, yaitu “Masyarakat Mandiri untuk Hidup Sehat”.
Masih banyaknya ibu hamil yang menginginkan pertolongan persalinannya di tangani oleh dukun dengan berbagai alasan yang di lontarkan yaitu, pelayanan dukun lebih mengerti dengan kondisi ibu saat dalam merasa kesakitan pada saat proses persalinan, dukun juga melakukan perawatan (asuhan) pada ibu setelah melahirkan lebih lama di rumah pada pasien tersebut serta perhatian yang diberikan lebih, di banding dengan bidan dan lebih penting bagi mereka yaitu dana yang ditawarkan oleh dukun lebih dapat di jangkau oleh pasien.
Faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi ibu memutuskan untuk yang menolong persalinannya adalah dukun, karena faktor ekonominya yang kurang sehingga ibu dan keluarga memutuskan untuk ditangani oleh dukun. Belum lagi kalau ibu beserta keluarga kurang memahami seperti apa persiapan persalinan yang aman, penanganan selama persalinan yang baik, serta penangan atau perawatan yang seharusnya diberikan setelah melahirkan.
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan bahwa target pertolongan persalinan yang harus di tolong oleh nakes pada tahun 2010 yaitu 90%, sedangkan menurut data yang diperoleh oleh Puskesmas pada pencatatan pertolongan persalinan yang ditolong oleh nakes hanya 61%, berarti ada sekitar 39% pertolongan persalinan yang ditangani oleh non nakes.
Angka Kematian ibu (AKI) di Provinsi pada tahun 2009 sebesar 50 orang atau 223,2 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 159 orang atau 14,70 per 1000 kelahiran bayi. Di Kota pada tahun 2009, Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 5 orang atau 119,53 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 11 orang atau 6,93 per 1000 kelahiran bayi (Profil kesehatan Provinsi , 2009)
Pada tahun 2010 jumlah AKI menjadi 12.5/1000 KH. Keadaan ini sudah di bawah target nasional. Angka tersebut merupakan rekapan tingkat provinsi, namun jika dijabarkan tingkat per kabupaten masih ada kabupaten yang merupakan penyumbang kematian ibu dan bayi/balita yang tinggi.
Berdasarkan kenyataan dari hasil wawancara di wilayah Puskesmas , di kalangan ibu-ibu yang tinggal didesa kebanyakan hanya mengetahui persalinan itu merupakan pengeluaran janin yang ada dalam kandungan tanpa melihat siapa yang menolong persalinan tersebut dan sekarang masih banyak juga ibu-ibu hamil yang masih mempercayakan pertolongan persalinannya pada dukun desa tanpa mengetahui apa komplikasi yang akan terjadi jika pertolongan persalinan di tolong oleh bukan petugas pelayanan kesehatan dalam hal ini adalah bidan.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Seberapa Baik Pengetahuan Ibu Tentang Persiapan Persalinan di Wilayah Puskesmas ?”,

3. Tujuan Penelitian
a. Tujuan umum
Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran pengetahuan ibu tentang persiapan persalinan di wilayah Puskesmas
b. Tujuan Khusus
1) Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang perencanaan tempat melahirkan.
2) Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang pendamping persalinan.
3) Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang kesiapan transportasi pada saat melahirkan.
4) Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang perencanaan penolong persalinan.
5) Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang kesiapan pendonor darah pada saat melahirkan.
6) Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang kesiapan biaya pada saat melahirkan.
7) Untuk mengidentifikasi kepedulian suami dan keluarga/masyarakat dalam kesiapan Persalinan dan Penanganan Komplikasi.

4. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan dalam proses kegiatan belajar mengajar serta sebagai referensi dan bahan pembanding bagi peneliti selanjutnya yang berminat melanjutkan atau sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian yang sejenis dengan penelitian ini.
b. Manfaat Praktis
1) Ibu Hamil
Dapat menambah pengetahuan ibu tentang perencanaan persalinan dan penanganan komplikasi itu seperti apa.
2) Bagi Bidan
Dapat membantu bidan untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan masyarakat setempat tentang persiapan persalinan yang mereka ketahui sehingga bidan dapat langsung menangani hal tersebut sebelum terlambat jika pengetahuan masyarakat belum mengetahui banyak tentang hal tersebut.
3) Bagi Institusi/Puskesmas
Dapat memberikan informasi bagi tenaga kesehatan di puskesmas dan Dinas Kesehatan Daerah tentang persiapan persalinan dan penanganan komplikasi masyarakat di wilayah tersebut.
4) Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat mengerti dan memahami tentang manfaat dari mengetahui persiapan persalinan dan penanganan komplikasinya, sehingga dapat menbangun potensi masyarakat dalam upaya persiapan penyelamatan ibu dan bayi baru lahir.
5. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti, ada penelitian yang mirip dengan penelitian ini namun ada beberapa perbedaan dengan topik dan tempat yang akan diteliti sebagai berikut:
a. Wulandari, 2009 “Peran Bidan dalam Menerapkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di Puskesmas Tibawa Kabupaten ”.
Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pada:
1) Parameter : Peran Bidan dan P4K
2) Populasi : Seluruh Tenaga Kesehatan (bidan) yang bertugas di Puskesmas Tibawa Kabupaten
3) Hasil penelitian: Penelitian dari 8 responden yang diteliti sebanyak 5 (62,5%) responden berkategori cukup dan 3 (37,5%) responden berkategori baik. Penelitian bersifat deskriptif, teknik pengeambilan sampel dengan cara total sampling

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.276

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI