KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Tentang Menopause

04 December 2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) mengamanatkan pemerintah dan masyarakat untuk memberikan pelayanan sosial kepada lansia. Adanya hal tersebut, atensi pemerintah terhadap para lansia sudah ada yaitu berupa jaminan layanan sosial, tetapi masih perlu ditingkatkan secara kualitas maupun kuantitas, mengingat secara faktual jumlah penduduk berusia lanjut secara nasional mengindikasikan meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun            (M. Rifai, 2007).
Menopause dan ketuaan bukanlah mitos. Keduanya merupakan kenyataan. Pengalaman perempuan dengan kedua kenyataan tersebut, apakah penuh penderitaan atau tidak, tergantung dari bagaimana perasaan perempuan mengenai dirinya sendiri (Reitz, 1993).
Menurut WHO, sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57% di Malaysia, 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonesia. Dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Wanita Eropa dan Amerika mempunyai estrogen yang lebih banyak daripada Asia. Ketika terjadi menopause, wanita Eropa dan Amerika estrogennya menurun drastis dibanding wanita Asia yang kadar estrogennya moderat (Irawati, 2007).
Wacana mengenai menopause kini semakin diminati oleh kalangan medis maupun masyarakat luas. Dapat dipahami karena dengan meningkatnya umur harapan hidup kaum perempuan maka proporsi kelompok wanita usia lanjut juga mengalami peningkatan yang bermakna. Prakiraan kasar menunjukkan akan terdapat sekitar 30-40 juta wanita usia lanjut dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 240-250 juta pada 2011. Dalam kategori wanita usia lanjut tersebut (usia lebih dari 60 tahun), hampir 100% telah mengalami menopause dengan segala akibat serta dampak yang menyertainya (Achadiat, 2007).
Menopause dikenal sebagai masa berakhirnya menstruasi atau haid, dan sering dianggap menjadi momok dalam kehidupan wanita. Sebagian besar wanita mulai mengalami gejala menopause pada usai 40-an dan puncaknya tercapai pada usia 50 tahun. Kebanyakan mengalami gejala kurang dari 5 tahun dan sekitar 25% lebih dari 5 tahun. Namun bila diambil rata-ratanya, umumnya seorang wanita akan mengalami menopause sekitar usia 45-50 tahun (Kasdu, 2004).
Gejala menopause ini mulai muncul sejak masa pramenopause, saat menopause dan posmenopause. Menurut spesialis kebidanan dan kandungan dr. Hardi Susanto, masa menopause tidak dapat diobati sehingga mustahil untuk dihindari (Irawati, 2007).
Biasanya gejala dari fase ini dialami perempuan mulai memasuki usia 45 tahun yang akhirnya menjadi menopause sekitar usia 55 tahun. “Rata-rata wanita mengalami menopause usia 49 tahun, dimana haid terakhir sama sekali terhenti dalam waktu kurang lebih satu tahun,” ujar Tjahja Sanggara, dokter spesialis Obstetri Ginekologi RS Awal bros. Haid yang terhenti sama sekali setelah melewati masa premenopause itulah yang akhirnya disebut dengan menopause (Baziad, 2002).
Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2000 sebesar 7,18 % penduduk Indonesia adalah lansia atau sekitar 14,4 juta jiwa, sedangkan pada tahun 2006 penduduk lanjut usia telah mencapai 8,9% atau sekitar 19 juta jiwa. Dalam waktu yang sama di Jawa Barat terdapat sekitar 7,2% atau sekitar 2,9 juta jiwa kaum lansia.                     (M. Rifai, 2007).
Peningkatan usia lanjut akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, baik fisik, mental, psikososial dan ekonomi, sehingga menjadi tantangan bagi kita untuk mempertahankan dan kemandirian usia lanjut sehingga tidak menjadi beban bagi dirinya (Nugroho, 2006).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan ............. tahun 2008 di Kabupaten ............. jumlah perempuan dari umur 45-59 tahun sebesar 122.349 jiwa  (Dinas Kesehatan ............., 2008).
Berdasarkan data rekapitulasi dari UPTD Puskesmas ............. tahun 2009 dalam Laporan Kegiatan Lansia UPTD Puskesmas ............. terdapat jumlah lansia dari umur 45-59 tahun sebesar 4.889 orang dan tersebar ke-9 desa. Desa yang jumlah lansia terendah dari umur 45-59 yaitu di Desa ............. sebesar 209 orang (4,27%%) dan yang tertinggi yaitu di Desa ......... sebesar 585 (11,9%) (UPTD Puskesmas ............., 2009).
Berdasarkan studi pendahuluan di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............. dari 30 orang ibu menopause berumur antara 45-59 tahun diperoleh bahwa yang mengetahui tentang menopause sebesar 13 orang (43,33%). Sementara jumlah ibu menopause yang tidak mengetahui tentang menopause sebesar 17 orang (56,67%) lebih besar dibandingkan jumlah ibu yang mengetahui tentang menopause.
Dari uraian di atas penulis tertarik melakukan penelitian dengan mengambil judul ”Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Ibu tentang Menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. Tahun 2011”.

1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan pada latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. Tahun 2011. Sehingga yang menjadi pertanyaan penelitiannya adalah ”Apakah Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Ibu tentang Menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. Tahun 2011?”

1.3     Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi dengan variabel independen (pendidikan, pendapatan dan informasi) dan variabel dependen (pengetahuan ibu tentang menopause). Penelitian ini tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskemas ............. Tahun 2011. Subjek penelitian adalah ibu menopause yang ada di Wilayah Kerja UPTD Puskemas .............. Penelitian ini menggunakan data primer yaitu menggunakan kuesioner dengan metode penelitian cross sectional.

1.4     Tujuan
1.4.1     Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskemas ............. Tahun 2011.
1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2011.
1.4.2.2        Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang menopause berdasarkan pendidikan ibu, tingkat pendapatan dan keterpaparan informasi.
1.4.2.3        Diketahuinya hubungan pendidikan dengan pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2011.
1.4.2.4        Diketahuinya hubungan pendapatan dengan pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2011.
1.4.2.5        Diketahuinya hubungan keterpaparan informasi dengan pengetahuan ibu tentang menopause di Desa ......... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............. tahun 2011.
 
1.5     Manfaat
1.5.1     Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang menopause sehingga masyarakat dapat melakukan upaya tindakan kesehatan dini untuk mencegah terjadinya menopause.
1.5.2     Bagi Pendidikan
Sebagai penambah naskah ilmiah yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa khususnya yang mengikuti program studi D III Kebidanan dan sebagai salah satu dokumentasi sebagai bahan perbandingan dalam melaksanakan penelitian selanjutnya.
1.5.3     Bagi Penulis
Bermanfaat dalam menambah pengetahuan tentang menopause juga dapat menuangkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah. 


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.176

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan pelaksanaan ASI Eksklusif


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas agar mereka dapat melanjutkan perjuangan pembangunan nasional untuk menuju masyarakat sejahtera, adil, dan makmur. (Roesli, 2008: 1).
Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas terjadi sejak dalam kandungan dan saat persalinan hingga masa tumbuh-kembangnya. Sebab sejak dalam kandungan, janin telah mengalami perkembangan fase cepat yang merupakan saat yang sangat menentukan bagi perkembangan kecerdasan bayi. Akhirnya saat persalinan merupakan waktu penentu bagi bayi untuk mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) yang optimal sebagai nutrisi untuk perkembangan bayi menjadi anak sehat dan cerdas (Purwanti, 2004).
Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Pemberian ASI secara eksklusif atau disebut juga ASI Eksklusif artinya bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, juga tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi ataupun tim mulai lahir sampai usia 6 bulan (Roesli, 2005).
Pemberian ASI Eksklusif perlu mendapat perhatian para ibu dan tenaga kesehatan agar proses menyusui dapat terlaksana dengan benar. Pemberian ASI Eksklusif yang tidak sesuai dengan konsep medis dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi. Disamping pola pemberian yang tidak tepat, kualitas ASI menjadi kurang (Pardede, LV., 2009).
Data United Nation Children’s Fund (UNICEF) menyebutkan peranan ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran dapat mencegah kematian sekitar 1,3 juta bayi seluruh dunia tiap tahun, itu pula sebabnya bahwa tahun 2008 menjadi “Pekan Asi Sedunia“ sesuai yang ditetapkan oleh Asosiasi ASI Dunia (WABA).
Pemberian ASI secara eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30 ribu balita di Indonesia. Dalam siaran pers yang dikirim UNICEF, jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002, jumlah bayi usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7,9% menjadi 7,8%. Sementara itu, hasil SDKI 2007 menunjukkan penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% pada 2002 menjadi 27,9% pada 2007. UNICEF menyimpulkan, cakupan ASI eksklusif enam bulan di Indonesia masih jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38% (Arief, 2009).
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2008, secara umum proporsi praktik pemberian ASI secara Eksklusif 6 bulan di Jawa Barat adalah (19,2%). Angka ini jauh lebih tinggi daripada angka prediksi para pakar kesehatan yang memperkirakan masih dibawah 10% (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Jumlah bayi di Kabupaten ............ (2008) tercatat sebanyak 19,419 dengan jumlah bayi yang diberi ASI Eksklusif sebanyak 6,419 (33,06%). Dari jumlah 26 Kecamatan dan 30 Puskesmas yang ada di Kabupaten ............ bahwa puskesmas ............ masih belum mencapai target (4,8%).
Hasil rekapitulasi data di UPTD Puskesmas ............ (2008) tercatat jumlah bayi yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ tahun 2008 sebanyak 588 sedangkan yang diberi ASI Eksklusif sebesar 28 bayi (4,8%). 
Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak berhasilnya seorang ibu memberikan ASI Eksklusif pada bayinya adalah tempat kelahiran bayi, petugas kesehatan yang menolong kelahiran bayi, berdasar tingkat sosial ekonomi keluarga dan yang paling penting adalah pendidikan dan pengetahuan ibu mengenai ASI Eksklusif (Rahayuningsih, 2005).
Menurut (Siregar, 2006) faktor yang mempengaruhi ibu memberikan ASI Eksklusif adalah makanan, ketentraman jiwa, pengaruh persalinan, dan sarana pelayanan kesehatan.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ tahun 2011”.

1.2       Perumusan Masalah
Berdasarkan data dari UPTD Puskesmas ............ bahwa  pencapaian pemberian ASI Eksklusif masih rendah, yaitu sebesar 33,06%. Sehingga rumusan masalahnya adalah belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011. Sehingga yang menjadi pertanyaan penelitian adalah faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011?

1.3       Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan terhadap Ibu yang memiliki bayi umur             6-12 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ tahun 2011. Faktor-faktor yang diteliti sebagai variabel independen adalah pendidikan, pengetahuan, peran bidan dan pekerjaan, sedangkan variabel dependennya adalah pelaksanaan ASI Eksklusif.

1.4       Tujuan Penelitian
1.4.1    Tujuan Umum
Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran pelaksanaan ASI Eksklusif, tingkat pendidikan,  tingkat pengetahuan, dan  pekerjaan ibu menyusui serta peran bidan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011.
1.4.2.2    Diketahuinya hubungan tingkat pendidikan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya hubungan peran bidan dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011.
1.4.2.5    Diketahuinya hubungan tingkat pekerjaan ibu menyusui dengan pelaksanaan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ............ Tahun 2011.

1.5       Manfaat Penelitian
1.5.1        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan pembanding untuk melaksanakan penelitian selanjutnya juga dapat menambah koleksi ilmiah di perpustakaan.
1.5.2    Bagi Lahan Praktek
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun rencana kegiatan penyuluhan terhadap masyarakat dalam upaya peningkatan pelaksanaan ASI Eksklusif.
1.5.3    Bagi Masyarakat
Ibu yang mempunyai bayi di Kecamatan ............ khususnya dan di Kabupaten ............ umumnya, informasi dan pengetahuan ini dapat dijadikan ilmu dan wawasan dalam melaksanakan ASI Eksklusif pada bayi secara teratur dan benar.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.175

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Salah satu visi pembangunan kesehatan adalah mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat. Visi tersebut dapat dicapai dengan dukungan berbagai sektor, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.
Untuk mewujudkan masyarakat mandiri untuk hidup sehat, salah satunya adalah dengan pemberdayaan masyarakat, sebagaimana dikemukakan Budirahardja (2008:1) yang menyatakan bahwa salah satu terobosan pembangunan kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat di desa adalah pengembangan Pos Kesehatan Desa atau Poskesdes.
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Pembentukan Poskesdes merupakan salah satu upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa siaga dalam rangka mendekatkan atau menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa yang meliputi kegiatan peningkatan hidup sehat (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif) yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela lainnya.
Adapun menurut Departemen Kesehatan RI (2008:5-6) bahwa tujuan khusus dibentuknya Poskesdes adalah terselenggaranya program kesehatan dalam rangka peningkatan pengetahuan dan partisipasi masyarakat terutama bagi ibu dan perinatal. Terselenggaranya pengamatan, pencatatan dan pelaporan dalam rangka meningkatkan jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan  terutama akses terhadap pelayanan pemeriksaan kehamilan masih perlu ditingkatkan.
Pemeriksaan kehamilan yang memenuhi standar ANC dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian ibu bayi. Di Indonesia, berdasarkan Biro Pusat Statistik (BPS) diperoleh Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2007 sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI tahun 2002 sebesar 307 per 100.000, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) 2015 (102 per 100.000 kelahiran hidup). Sementara untuk Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 26,9 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sudah jauh menurun dibandingkan tahun 2002-2003 sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup. Adapun target AKB pada MDG’s sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup (http://bascommetro.blogspot.com/2009/05/aki-dan-akb-tahun-2007.html).
Berdasarkan BPS Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2007, AKI dan AKB di Jawa Barat masih berada pada level yang cukup tinggi. AKI di Jawa Barat sebesar 250 per 100.000 kelahiran dan AKB sebesar 40,26 per 1.000 kelahiran hidup.
Angka kematian bayi di Kabupaten ........... tahun 2009 adalah sebesar 19,28 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian bayi diantaranya adalah BBLR 92 kasus, asfiksia 43 kasus, kelainan konginetal 24 kasus, infeksi 20 kasus, pneumonia 15 kasus, aspirasi 10 kasus, diare 1 kasus dan lain-lain 50 kasus. Adapun kematian ibu sebesar 199,46 per 100.000 kelahiran hidup, dengan penyebabnya adalah perdarahan 11 kasus, hipertensi dalam kehamilan 9 kasus, infeksi 2 kasus, dan lain-lain 20 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten ..........., 2009). Dengan melihat penyebab kematian baik ibu maupun bayi tersebut, sebenarnya dapat dicegah atau ditaggulangi pada saat ibu tersebut hamil. Salah satu pencegahannya adalah pemeriksaan kehamilan yang memenuhi standar.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang standar pelayanan minimal di bidang kesehatan pelayanan kesehatan ibu dan anak salah satunya adalah Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1).
Berdasarkan Dinas Kesehatan Kabupaten ........... tahun 2009 menyatakan bahwa Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) sebesar 88,14% dari target 100%. Adapun Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1)  masing-masing puskesmas adalah sebagai berikut
Tabel 1.1     Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) Masing-masing Puskesmas di Kabupaten ........... Tahun 2009
No    Puskesmas    Jumlah Ibu Hamil    Cakupan K1
            Absolut    %
1    2    3    4    5
1        542    468    72,90
2        449    343    75,39
3        698    690    99,42
4        602    482    80,20
5        1123    1057    94,12
6        663    817    123,23
7        903    765    84,72
8        599    435    72,62
9        861    809    93,96
10        834    763    91,49
11        452    303    67,04
12        1079    1025    95,00
13        1183    1159    97,97
14        1171    837    71,48
15        714    532    74,51
16        907    925    101,98
17        627    629    101,13
18        915    651    71,15
19        643    551    85,69
20        910    955    105,04
21        396    308    77,78
22        553    578    104,52
23        907    780    96,65
24        487    456    93,63
25        575    439    76,36
26        529    621    117,39
27        361    281    75,50
28        1109    952    85,84
29        799    511    63,95
30        839    524    74,37
    ...........    22.420    19.762    88,14
 Berdasarkan Tabel 1.1 tersebut, Puskesmas ....... merupakan puskesmas yang pencapaian Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) terendah. Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) adalah kontak ibu hamil pertama kali dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Artinya Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) merupakan perilaku ibu dalam memeriksakan kehamilan.
Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003:96), faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ada 3 yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya: pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan nilai. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung adalah ketersediaan sarana-sarana kesehatan dan sumber daya, dan yang terakhir yang termasuk faktor pendorong adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.

1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah “Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011”. Sehingga pertanyaan penelitiannya adalah “Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011?”

1.3     Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan Ligung Tahun 2011 yang meliputi pengetahuan, sikap, sarana kesehatan dan petugas kesehatan sebagai variabel bebas dan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) sebagai variabel terikat.

1.4     Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2     Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.2     Diketahuinya gambaran pengetahuan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran sikap Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran sarana kesehatan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) kesehatan di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.5    Diketahuinya gambaran petugas kesehatan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan sikap dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.8    Diketahuinya hubungan sarana kesehatan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.
1.4.2.9    Diketahuinya hubungan petugas kesehatan dengan Kunjungan Pertama Ibu Hamil (K1) di Poskesdes Kecamatan ....... Tahun 2011.

1.5     Manfaat Penelitian
1.5.1     Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai dokumentasi di perpustakaan yang ada di institusi pendidikan dalam rangka menambah khasanah keilmuan tentang K1 sehingga dapat berguna bagi mahasiswa kebidanan dan juga bagi para pembaca pada umumnya.
1.5.2     Bagi Poskesdes
Dapat memperoleh gambaran secara objektif bagi Poskesdes dan Puskesmas menganai K1 sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk tindak lanjut bagi pihak Puskesmas dalam meningkatkan K1 di Poskesdes.
1.5.3     Bagi Peneliti
Dapat menjadi bahan kajian untuk penelitian yang akan datang dengan metoda yang berbeda sehingga dapat menghasilan penelitian tentang K1 yang lebih akurat.  



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.174

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kinerja Bidan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pembangunan nasional bertujuan mendorong tercapainya kesejahteraan keluarga sebagai unit terkecil dari kehidupan bangsa. Kemandirian keluarga dalam Poleksusbudhankamka (politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan, dan keamanan keluarga) akan menentukan secara berantai kehidupan bangsa secara nasional. Semakin diterima konsep pelayanan kesehatan modern, angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal akan semakin dikendalikan (Manuaba, 2009 : 11).
Angka kematian di Indonesia untuk sampai saat ini masih tinggi. Berdasarkan Survey Demograti Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-¬2003, Angka Kematian Ibu (AKI) 307 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 35 pr 1000 kelahiran hidup (Departemen KesehatanRl, 2003).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Barat 403/100.000 kelahiran, Angka Kematian Balita (AKABA) 62/1000 balita (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2002).
Penyebab langsung AKI dan AKB di .Iawa Barat masih karena perdarahan eklampsia, infeksi dan partus lama, penyebab langsung yang tidak mendasar yang mempengaruhi AKI dan AKB adalah faktor langsung perilaku, genetik, dan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang masih rendah ditandai dengan rendahnya pencapaian kunjungan ibu hamil
Ketempat Puskesmas, persalinan oleh tenaga kesehatan yang masih rendah, penanganan kehamilan dan persalinan serta perawatan bayi yang tidak atau belum akurat (komplikasi dan kualitas sumber daya kesehatan masih kurang, pertolongan persalinan oleh dukun paraji) (www.AKI.AKBjawabarat.co.id, 2010)
Ratio kematian ibu selama 5 (lima) tahun di kabupaten ............. terlihat dalam tabel di bawah ini :
Tabel 1. I
Ratio Kematian Ibu Tahun 2004 s.d 2010 di Kabupaten .............
Tahun    Ratio/100.000 Kelahiran Hidup    Jumlah Kelahiran Hidup    Angka Absolut Kematian Ibu
2004    148,47    21.552    32
2007    192,58    18.174    35
2008    127,65    21.935    28
2009    209,38    191,04    40
2010    148,36    18.873    28
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2010.
Penyebab Kematian Ibu di Kabupaten  ............. dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.2
Penyebab Kematian Ibu Di Kabupaten ............. Tahun 2010
No    Penyebab Kematian Ibu    Jumlah    %
1    Perdarahan    7    25
2    Eklamsi    2    7,14
3    Infeksi    2    7,14
4    Lain-Lain    17    60,71
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2010.
Penyebab utama kematian ibu di Kabupaten ............. berdasarkan tabel di atas adalah lain-lain (60,71%), namun urutan kedua adalah perdarahan            (25%). Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan tingginya kematian ibu di Kabupaten ............. yang menjadi spesitik seperti terlambat mengambil keputusan (sangat erat kaitanya dengan tingkat pengetahuan keluarga dan ibu itu sendiri), terlambat merujuk berkaitan dengan kemudahan akses, biaya, manajeman transportasi di desa (ambulan desa) dan terlambat menangani menyangkut masalah sistem pelayanan, ketenagaan, sarana dan prasarana penunjang.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten ............. terdapat kenaikan jumlah kematian bayi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009, sebagaimana terlihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 1.3
Jumlah Kematian Bayi Di Kabupaten ............. Tahun 2007-2010
Tahun    AKB per 1000    Kelahiran Hidup    Absolut Kematian Bayi
2007    17,72    18.174    322
2008    21,42    21.935    470
2009    26,6    19,104    510
2010    27,44    18.873    518
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2010.
Penyebab kematian bayi ( < 7 hari dan 8 - 28 hari ) di Kabupaten ............. tahun 2010 dapat terlihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.4
Penyebab Kematian Bayi di Kabupaten ............. Tahun 2010
No    Penyebab    Jumlah    Persentase %
1    Aspirasi    31    5,98
2    Kelainan kongenital    35    6,76
3    Tetanus neonatorum    1    0,19
4    BBLR    127    24,5
5    Asfiksia    42    8,11
6    Infeksi    14    2,70
7    Pnemoni    35    6,76
8    Diare    3    0,58
No    Penyebab    Jumlah    Persentase %
9    IUFD    119    22,9
10    LM    24    4,63
11    Lain-lain    87    16,80
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2010.
Penyebab kematian bayi di Kabupaten ............. tahun 2010 terbanyak adalah BBLR (24,5%) dan penyebab kematian bayi terbesar kedua adalah IUFD (22,9%).
Masih terjadinya kematian ibu dan bayi di Kabupaten ............., tidak terlepas dari pencapaian cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak. Berdasarkan laporan program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten ............. cakupan pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak tahun 2010 adalah sebagai berikut :
Tabel 1.5
Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Di Kabupaten .............
Tahun 2010
No    Indikator    Cakupan (%)     Target (%)
1    K 1    84,27    100
2    TTI    91-80    90
3    Fe 1    91,32    90
4    K4    72,49    95
5    TT2    80,25    90
6    Fe3    78,20    85
7    Persalinan Nakes    72,25    90
8    N2    86,31    90
9    B 12    87,43    90
10    Deteksi 13umil
Oleh Nakes    72,99    80
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Majaiengka, 2011
Begitu juga dengan laporan bidan desa yang bertujuan untuk melihat kinerja produktifitas bidan dalam melaksanakan tugasnya di desa. Diharapkan juga dengan pengisisan kinerja bidan akan menggambarkan situasi yang sebenarnya dan beban kerja bidan desa.
Tabel 1.6
Rekapitulasi Jumlah Pelaporan Kinerja Bidan Desa Berdasarkan Bulan Dan Rata-Rata Jam Produktif Per Hari Tahun 2009

NO    PUSKESMAS    Jumlah Bidan    BULAN LAPORAN    Proporsi Bulanan    Rata-Rata Jam Produktif Bides/Hari
        Pkm/Pustu    Desa    JML          
1        3    9    12    12    100    6
2        3    10    13    7    58,3    5
3        6    5    11    11    91,6    5
4        6    18    24    11    91,6    5
5        7    13    20    12    100    5
6        5    7    12    8    66,6    4
7        3    13    16    10    83,3    4
8        3    10    13    12    100    4
9        4    17    21    12    100    4
10        3    13    16    7    58,3    3
11        4    16    20    8    66,6    3
12        2    13    15    9    75    3
13        1    11    12    11    91,6    3
14        2    13    15    20    100    3
15        3    21    24    12    100    3
16        3    14    17    4    33,3    2
17        2    7    9    8    66,6    2
18        3    11    14    8    66,6    2
19        3    8    11    9    75    2
20        1    6    7    10    83,3    2
21        5    14    19    11    91,6    2
22        4    13    17    12    100    2
23        6    8    14    8    66,6    1
24        5    7    12    8    66,6    1
25        1    9    10    11    91,6    1
26        3    9    12    12    100    1
27        3    7    10    0    0    0
28        3    6    9    0    0    0
29        3    9    12    0    0    0
    JML    100    317    417    257    348  
Sumber Dinas Kesehatan Kabupaten ............. 2010

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata produktif bidan/hari masih dibawah target yang diharuskan sehingga perilaku tersebut dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan, sedangkan bidan merupakan salah satu petugas kesehatan yang merupakan ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak terutama mempunyai andil terhadap penurunan AKI dan AKB.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang "Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kinerja Bidan Di Kabupaten ............. Tahun 2011”.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar latar belakang di atas maka dapat di kemukakan rumusan masalahnya adalah "belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011", sehingga pertanyaan penelitian ini adalah "Apakah ada hubungan umur, pendidikan, pengalaman kerja, dan pengetahuan dengan kinerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011 ?".

1.3    Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada variabel bebas umur, pendidikan, pengalaman kerja, dan pengetahuan. Sedangkan variabel terikatnya adalah kinerja bidan. Subyek penelitian ini adalah seluruh bidan di Kabupaten ............. yang berjumlah 417 orang. Penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan Pebruari sampai dengan bulan Mei tahun 2011 di Kabupaten ..............
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan cara pengisian angket.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional.

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.    Tujuan Khusus
1.4.2.1.    Diketahuinya gambaran umur bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.2.    Diketahuinya gambaran pendidikan bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.3.    Diketahuinya gambaran pengalaman kerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.4.    Diketahuinya gambaran pengetahuan bidan di Kabupaten     ............. tahun 2011.
1.4.2.5.    Diketahuinya gambaran kinerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.6.    Diketahuinya hubungan umur dengan kinerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.7.    Diketahuinya hubungan pendidikan dengan kinerja bidan di  Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.8.    Diketahuinya hubungan pengalaman kerja dengan kinerja bidan di  Kabupaten ............. tahun 2011.
1.4.2.9.    Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan kinerja bidan di Kabupaten ............. tahun 2011.

1.5.    Manfaat Penelitian
1.5.1.    Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan di Kabupaten ..............
1.5.2.    Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dokumentasi pada perpustakaan program Studi Kebidanan YPIB ............. dan dapat dikembangkan lebih luas lagi dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3.    Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti, terutama untuk menambah wawasan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja bidan, serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.173

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pembangunan nasional bertujuan mendorong tercapainya kesejahteraan keluarga sebagai unit terkecil dari kehidupan bangsa. Kemandirian keluarga dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan, dan keamanan keluarga akan menentukan secara berantai kehidupan bangsa secara nasional. Semakin diterima konsep pelayanan kesehatan modern, angka kesakitan dan kematian akan semakin dikendalikan (Manuaba, 2007).
Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) di Indonesia sangat tinggi. Diperkirakan setiap jam, 18 bayi dan 24 balita di Indonesia meninggal dunia. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), AKB di Indonesia yaitu 34 bayi per 1000 kelahiran. Bila dirincikan 157.000 bayi meninggal per tahun atau 430 bayi per hari. Sedangkan AKABA yaitu 46 dari 1000 balita meninggal setiap tahunnya. Bila dirincikan, kematian balita ini mencapai 206.580 balita per tahun, dan 569 balita per hari (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Dalam Millenium Development Goals (MDGs), Indonesia menargetkan pada tahun 2015 AKB menurun menjadi 17 bayi per 1000 kelahiran. Sedangkan AKABA ditargetkan menjadi 23 per 1000 balita. Dengan demikian maka perlu adanya program kesehatan anak yang mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak. Tingginya AKI dan AKABA di Indonesia disebabkan oleh berat badan lahir, asfiksia, tetanus, infeksi, dan pemberian minuman. Masalah tersebut dapat dicegah salah satunya dengan imunisasi. (Anonim, 2011).
Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) dalam sambutan pada Acara Nasional Imunisasi Anak, tanggal 1 November 2007 mengatakan “Program Peningkatan Cakupan Imunisasi sebagai salah satu program peningkatan kesehatan masyarakat dalam rangka pencapaian visi masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, dimana salah satu targetnya adalah untuk menurunkan angka kematian bayi”. Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia adalah akibat penyakit Tuberculosis (TBC), Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B. Semua penyakit tersebut sebenarnya dapat diantisipasi dengan pelaksanaan imunisasi (Anonim, 2011).
 Target nasional dan global agar tercapai eradikasi (pembasmian) dan eliminasi terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), maka cakupan imunisasi yang merata sampai mencapai tingkat Population Immunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi harus ditingkatkan. Kegagalan untuk mencapai tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan merata dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) PD3I (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, jumlah anak yang tidak pernah mendapatkan imunisasi terbesar ada di 3 Provinsi di Pulau Jawa (29%) yaitu Provinsi Jawa Barat (46.863), Jawa Timur (47.332), dan Banten (28.359) serta jumlah anak dengan imunisasi yang tidak lengkap (dropout tinggi) ada di 5 Provinsi di Pulau Jawa (55,3%) yaitu Provinsi Jawa Barat (471.281), Jawa Timur (289.040), Jawa Tengah (199.030), Banten (138.428) dan Jakarta (102.037).
Target yang harus dicapai menurut Dinas Kesehatan Kabupaten ........... pada imunisasi BCG sebesar 98%, imunisasi DPT1+HB1 sebesar 98%, imunisasi DPT+HB2 sebesar 95%, imunisasi DPT+HB3 93%, imunisasi Polio 1 sebesar 98%, imunisasi Polio2 95%, imunisasi Polio3 93% imunisasi Polio4 90%, imunisasi Campak 90%, dan imunisasi HB 0 (0-7 hari) sebesar 70%.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan ........... Tahun 2011 jumlah yang telah diberikan imunisasi BCG sebesar 91,39%, imunisasi DPT1+HB1 sebesar 92,89%, imunisasi DPT2 + HB2 sebesar 91,17%, imunisasi DPT3+HB3 sebesar 89,36%, imunisasi Polio 1 sebesar 96,48%, Polio 2 (92,81%), Polio 3 (90,72%), Polio 4 (88,07%), imunisasi Campak 87,15%, dan imunisasi Hepatitis B (0 – 7 hari) sebesar 75,73%.
Dari data tersebut, dapat dilihat pencapaian cakupan imunisasi menurut  Kabupaten ........... sudah mencapai target. Namun menurut  Puskesmas, ternyata masih banyak puskesmas yang belum mencapai target. Puskesmas dengan cakupan imunisasi dasarnya rendah dilihat dari indikator imunisasi campak yaitu Puskesmas ........... sebesar 62,20%. Dari hasil cakupan imunisasi tersebut maka dapat dikatakan bahwa kelengkapan imunisasi dasar di Puskesmas ........... masih kurang.
Adapun cakupan imunisasi lainnya dengan cakupan imunisasi dasar yang masih kurang dari target, yaitu imunisasi BCG sebesar 72,73%, imunisasi DPT1+HB1 sebesar 70,02%, imunisasi DPT+HB2 sebesar 67,62%, imunisasi DPT+HB3 72,57%, imunisasi Polio 1 sebesar 79,59%, imunisasi Polio2 68,10%, imunisasi Polio3 68,74% imunisasi Polio4 64,43%, imunisasi Campak 62,20%, dan imunisasi HB 0 (0-7 hari) sebesar 57,10%.
Tabel 1.1     Rekapitulasi Hasil Imunisasi Bayi di Puskesmas ........... Tahun 2011
No    Desa    Jumlah Sasaran Bayi    Bayi Diimunisasi
            % HB    % BCG    % Polio 1    % DPT+
Hb 1    % Polio 2    % DPT+ Hb2    %
Polio3    %
DPT+ HB3    % Polio4    % Cam- pak
1        64    46.8    65.6    65.6    62.5    60.9    67.2    65.6    71.8    62.5    59.3
2        58    81.0    94.8    94.8    91.3    75.9    79.3    79.3    79.3    48.2    68.9
3        29    34.4    68.9    72.4    62.0    58.6    86.2    86.2    75.8    68.9    62
4        36    33.3    75.0    80.5    65.0    66.7    77.8    77.7    72.2    80.5    77.7
5        23    60.8    56.5    47.8    47.8    52.8    47.8    43.4    47.8    39.1    34.7
6        53    64.1    52.5    67.9    71.7    67.9    66.1    67.9    83    77.3    35.8
7        54    72.2    85.1    119    81.4    75.9    75.9    94.4    90.7    87    81.4
8        59    30.5    69.4    81.3    69.4    64.4    77.7    61    61    59.3    47.4
9        54    61.1    79.6    88.8    81.4    75.9    40.7    64.8    83.3    68.5    72.2
10        67    62.6    80.6    80.1    61.1    77.6    79.7    65.6    65.6    65.6    74.6
11        45    26.6    20.0    31.1    28.8    26.7    24.4    28.8    28.8    26.6    28.8
12        32    87.5    109    131    93.7    103    109    81.2    90.6    75    87.5
13        31    74.9    67.7    80.0    80.6    74.5    74.1    83.8    96.7    83.8    80.6
14        22    72.7    77.2    31.1    63.4    68.2    68.1    5.9    63.6    54.5    54.5
    TOTAL    627    57.1    72.7    79.5    70.0    68.1    67.6    68.7    72.5    64.4    62.2
Menurut data Rekapitulasi Imunisasi Bayi di Puskesmas ..........., ternyata cakupan imunisasi Desa ........... adalah yang terendah dibandingkan dengan desa lainnya, maka kemungkinan besar di desa tersebut masih banyak bayi yang tidak mendapatkan imunisasi yang lengkap. Kelengkapan status imunisasi dasar bayi dipengaruhi oleh pengetahuan, pendidikan, dan informasi yang diperoleh ibu.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar di Desa ........... Wilayah Kerja Puskesmas  ........... Kabupaten ........... Tahun 2011”.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dikemukakan rumusan masalahnya adalah "belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... wilayah kerja UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ........... Tahun 2011", sehingga pertanyaan penelitian ini adalah "Faktor apa yang berhubungan  dengan kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ........... Tahun 2011".

1.3    Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada variabel bebas pendidikanibu, pengetahuan ibu dan informasi media masa. Sedangkan variabel terikatnya adalah kelengkapan imunisasi dasar. Subyek penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi berusia 12-18 bulan pada tahun 2011. Penelitian ini dilaksanakan di Desa ........... Wilayah Kerja Puskesmas ........... Kabupaten ........... pada bulan Februari-April 2010.

1.4     Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.4.2     Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Tahun 2011
1.4.2.2    Diketahuinya gambaran pendidikan ibu di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran informasi ibu di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.4.2.5    Diketahuinya hubungan antara pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan antara informasi dengan kelengkapan imunisasi dasar di Desa ........... Wilayah Kerja UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.

1.5    Manfaat Penelitian
1.5.1     Bagi Puskesmas
Diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar di wilayah kerjanya sehingga dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan penyuluhan bagi ibu bayi dan ibu balita sehingga dapat melaksanakan jadwal kelengkapan imunisasi dasar dengan tepat.
1.5.2     Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dokumentasi pada perpustakaan program Studi Kebidanan YPIB ........... sehingga dapat berguna bagi mahasiswa kebidanan khususnya dan pembaca umumnya serta sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian yang lebih luas kedepannya.
1.5.3     Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar, serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah.  


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.172
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum Pada Ibu Hamil

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Pembangunan nasional bertujuan mendorong tercapainya kesejahteraan keluarga sebagai unit terkecil dari kehidupan bangsa. Kemandirian keluarga dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan, dan keamanan keluarga akan menentukan secara berantai kehidupan bangsa secara nasional. Semakin diterima konsep pelayanan kesehatan modern, angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal akan semakin dikendalikan (Manuaba, 2007).
Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, diselenggarakan upaya pelayanan kesehatan dengan pendekatan, pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemilihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Sulistyo, 2011).
Berhasilnya upaya kesehatan tersebut dapat dilhat dari tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat yang dapat dilihat dari Umur Harapan Hidup (UHH). UHH dipengaruhi oleh Angka Kematian Bayi, (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Balita (AKABA) dan Angka Kematian Kasar (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2004).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan baromater pelayanan kesehatan ibu dan anak di suatu negara, AKI dan AKB di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN.  Berdasarkan Biro Pusat Statistik (BPS) AKI di Indonesia tahun 2007 sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI tahun 2002 sebesar 307 per 100.000, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDG’s) 2015 (102 per 100.000 kelahiran hidup). Sementara untuk Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 26,9 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sudah jauh menurun dibandingkan tahun 2002-2003 sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup. Adapun target AKB pada MDG’s sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Berdasarkan BPS Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2007, AKI dan AKB di Jawa Barat masih berada pada level yang cukup tinggi. AKI di Jawa Barat sebesar 250 per 100.000 kelahiran dan AKB sebesar 40,26 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2007).
AKI dan AKB di Kabupaten ........... tahun 2011, AKI sebesar 199,46 per 100.000 kelahiran hidup, dengan penyebabnya adalah perdarahan 11 kasus, hipertensi dalam kehamilan 9 kasus, infeksi 2 kasus, dan lain-lain 20 kasus. Sedangkan AKB sebesar 19,28 per 1.000 kelahiran hidup, dengan penyebabnya adalah bayi berat lahir rendah (BBLR) 92 kasus, asfiksia 43 kasus, kelainan konginetal 24 kasus, infeksi 20 kasus, pneumonia 15 kasus, aspirasi 10 kasus, diare 1 kasus dan lain-lain 50 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten ..........., 2011). Melihat penyebab kematian baik pada ibu maupun bayi, hal ini sesungguhnya dapat dicegah dan diatasi dengan penanganan pada saat hamil, salah satunya dengan pemeriksaan antenatal yang memenuhi standar.
Menurut Manuaba (2011) pengawasan sebelum lahir (antenatal) terbukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik kehamilan, untuk menghadapi persalinan. Dengan pengawasan hamil dapat diketahui berbagai komplikasi ibu yang dapat memengaruhi kehamilan atau komplikasi hamil sehingga segera dapat diatasi. Keadaan yang tidak dapat dirujuk ke tempat yang lebih lengkap peralatannya sehingga mendapat perawatan yang optimal.
Mual dan muntah merupakan salah satu gejala paling awal, paling umum dan paling menyebabkan stress yang dikaitkan dengan kehamilan.  Selama masa kehamilan sebanyak 90% wanita mengalami beberapa bentuk mual dan muntah yang dapat berkisar dari gejala mual ringan yang khas sampai sedang yang dapat sembuh dengan sendirinya dengan atau tanpa disertai muntah, sampai kondisi berat, yaitu hiperemesis gravidarum (Denise, 2008).
Selanjutnya Denise (2008) mengemukakan pula sekitar 51,4% wanita mengalami mual dan 9,2% wanita mengalami muntah. Keadaan hiperemesis gravidarum yang sangat patologis jauh lebih jarang terjadi dibandingkan mual dan muntah secara logis, diperkirakan hiperemesis gravidarum yang sangat patologis terjadi dalam 1 per 500 kehamilan.
Mual dan muntah selama kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endoktrin yang terjadi selama kehamilan, terutama disebabkan oleh tinginya fluktuasi kadar hCG (human chorionic gonadotrophin), khususnya karena periode mual dan muntah gestasional yang paling umum adalah pada usia 12-16 minggu pertama, yang pada saat itu, hCG mencapai kadar tertingginya (Denise, 2008).
Menurut Manuaba (2008) mual dan muntah merupakan mata rantai panjang yang dikendalikan oleh keseimbangan antara dopamin, serotonin, histamin dan asetilkolin. Menurunnya serotonin dalam darah dapat meningkatkan terjadinya mual dan muntah. Kejadian hiperemesis gravidarum berlangsung sejak usia kehamilan 9-10 minggu. Kejadian ini makin berkurang dan selanjutnya diharapkan berakhir pada usia kehamilan 12-14 minggu. Sebagian kecil berlanjut sampai usia kehamilan 20-24 minggu.
Berdasarkan data di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ........... tahun 2011 jumlah seluruh ibu hamil 217 dan yang mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 53 (24,42%) ibu hamil. Angka tersebut menunjukkan kejadian hiperemesis gravidarum di UPTD Puskesmas ........... cukup banyak/tinggi dan perlu mendapat perhatian secara serius karena hiperemesis gravidarum dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin.
Dari paparan yang telah diuraikan peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang "Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ........... tahun 2011”.

1.2     Rumusan Masalah  
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di Puskesmas ........... tahun 2011.

1.3     Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil dari faktor umur, paritas, dan pekerjaan. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas ........... dengan subjek yaitu seluruh ibu hamil yang dirawat di UPTD Puskesmas ............ Jenis penelitian observasional menggunakan data sekunder dengan pendekatan potong lintang (cross sectional).

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di Puskesmas ........... Tahun 2011.
1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran kejadian hiperemesis gravidarum pada ibu hamil di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.2    Diketahuinya gambaran umur ibu di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran paritas di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran pekerjaan di Puskesmas ...........  tahun 2011.
1.4.2.5    Diketahuinya hubungan umur ibu hamil dengan kejadian hiperemesis gravidarum di  Puskesmas ........... tahun 2011.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan paritas dengan kejadian hiperemesis gravidarum di  Puskesmas ........... tahun 2011.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan pekerjaan dengan kejadian hiperemesis gravidarum di tahun 2011.

1.5     Manfaat Penelitian
1.5.1    Bagi penulis
    Memperoleh wawasan pengetahuan atau keterampilan dalam menerapkan manajemen asuhan kebidanan khususnya pada hiperemesis gravidarum sehingga penulis dapat ikut berperan aktif melakukan upaya-upaya pencegahan maupun penanggulangan masalah tersebut.
1.5.2    Bagi Institusi Pendidikan
Untuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan melaksanakan penelitian. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai bahan referensi di perpustakaan agar dapat memudahkan mahasiswa pada khususnya untuk mencari pengetahuan khususnya tentang hiperemesis gravidarum.
1.5.3    Bagi Instansi
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang hiperemesis gravidarum sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan rujukan bagi instansi terkait untuk membuat perencanaan dalam pencegahan dan penanganan kejadian hiperemesis gravidarum.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.171
untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian BBLR-2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan bidang kesehatan salah satunya dapat dinilai dari indikator derajat kesehatan masyarakat antara lain Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Masalah kematian ibu dan bayi di Indonesia merupakan masalah yang harus mendapat perhatian lebih dan serius. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih tinggi telah mengundang perhatian dan hal ini menjadi fenomena di banyak Negara Berkembang. Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan (Departemen Kesehatan RI, 2005).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI di Indonesia berada pada angka 248 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB masih berada pada kisaran 34 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara di Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2007, AKI dan AKB di Jawa Barat masih berada pada level yang cukup tinggi. Hingga saat ini, AKI Jawa Barat hanya 250 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB di Jawa Barat masih di atas 40 per 1.000 kelahiran hidup.
Penyebab kematian bayi menurut SKRT 2001, penyebab kematian neonatal yaitu berat badan lahir rendah atau BBLR (30,3%), Asfiksia (27%), tetanus (9,5%), masalah gangguan pemberian ASI (5,6%), masalah infeksi (5,4%), lain-lain (12,7%). Penyebab kematian bayi diantaranya gangguan perinatal (34,7%), infeksi saluran nafas (27,6%), diare (9,4%), kelainan saluran cerna (4,3%), tetanus (3,4%), kelainan syaraf (3,2%), lain-lain (17,4%). Penyebab kematian balita di antaranya infeksi saluran nafas (22,5%), diare (13,2%), penyakit syaraf (11,8%), tifus (11,0%), kelainan saluran pencernaan (5,9%), lain-lain (35,3%).
Kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) yang tinggi menunjukan bahwa kualitas kesehatan dan kesejahtraan masyarakat itu masih rendah. Untuk itu diperlukan upaya untuk menurunkan angka kejadian BBLR agar kualitas kesehatan dan kesejahtraan menjadi meningkat.Kejadian BBLR ini bias dicegah bila kita mengatahui faktor-faktor penyebabnya (Elizawarda, 2003).
Faktor-faktor yang menyebabkan BBLR menurut Kardjati (1999) merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui proses yang berlangsung selama dalam kandungan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi BBLR adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kunjungan antenatal care, kadar hemoglobin ibu hamil dan berat badan ibu selama hamil, paritas, jarak kehamilan, ukuran LILA, dan umur, sementara faktor eksternal meliputi lingkungan, sosial ekonomi dan sarana yaitu fasilitas kesehatan.
Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten ............ tahun  2008, dari jumlah bayi lahir hidup sebanyak 18.873 bayi, yang mengalami BBLR sebanyak 808 bayi (4.28%). Jumlah bayi yang meninggal akibat BBLR sebanyak 127 bayi. Penyebab kematian bayi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1
Penyebab Kematian Bayi di Kabupaten ............ Tahun 2008
No    Penyebab    Jumlah    Persentase %
1    Aspirasi    31    5,98
2    Kelainan kongenital    35    6,76
3    Tetanus neonatorum    1    0,19
4    BBLR    127    24,5
5    Asfiksia    42    8,11
6    Infeksi    14    2,70
7    Pnemoni    35    6,76
8    Diare    3    0,58
9    IUFD    119    22,9
10    LM    24    4,63
11    Lain-lain    87    16,80
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten ............, 2008.
Berdasarkan rekapitulasi di UPTD Puskesmas ............ tahun 2011, diketahui dari jumlah lahir hidup sebanyak 818 bayi terdapat kasus BBLR sebesar 40 bayi (4,88%). Sementara bayi yang meninggal pada tahun 2011 di UPTD Puskesmas ............ sebanyak 16 bayi terdiri dari bayi yang meniggal karena BBLR 3 (18,75%) bayi, asfiksia 2 (12,5%) bayi, IUFD 7 (43,75%) bayi, lain-lain 4 (25,0%) bayi. Angka kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ ini merupakan angka kejadian yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan beberapa puskesmas lainnya di Kabupaten ............ yaitu Puskesmas Jatiwangi yaitu sebesar 29 (4,44%) bayi dari jumlah bayi sebanyak 658 bayi dan Puskesmas Cigasong yaitu sebesar 25 (3,28%) bayi dari jumlah bayi sebanyak 761 bayi.
Berdasarkan uraian di atas, penulis mengemukakan bahwa kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ merupakan masalah. Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR yang akan penulis teliti adalah kunjungan antenatal care, kadar hemoglobin dan penambahan berat badan, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai ”Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011”.

1.2        Rumusan Masalah
Kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ............ pada Tahun 2011 sebesar 40 (4,88%) bayi, angka ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan beberapa puskesmas lainnya di Kabupaten ............ yaitu Puskesmas Jatiwangi yaitu sebesar 29 (4,44%) bayi dari jumlah bayi sebanyak 658 bayi dan Puskesmas Cigasong yaitu sebesar 25 (3,28%) bayi dari jumlah bayi sebanyak 761 bayi. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti menentukan rumusan masalahnya adalah “Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011”.
Bertitik tolak pada rumusan masalah di atas maka yang menjadi pertanyaan peneliti adalah “Apakah faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011?”.

1.3    Ruang Lingkup
Ruang lingkup pemelitian ini meliputi hubungan antara Antenatal Care (ANC), kadar Hemoglobin ibu hamil, kenaikan berat badan ibu hamil dengan kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Wilayah kerja UPTD ............ Kabupaten ............ Tahun 2011. Waktu penelitian yaitu bulan Mei-Juli 2010 dengan metode penelitian cross sectional menggunakan data sekunder dari kohort ibu.

1.4    Tujuan Penelitian                        
1.4.1    Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di Wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.2    Diketahuinya gambaran tentang antenatal care di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya gambaran kadar hemoglobin ibu hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya gambaran kenaikan berat badan ibu hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.5    Diketahuinya hubungan antenatal care dengan kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.6    Diketahuinya hubungan kadar hemoglobin ibu hamil dengan kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.7    Diketahuinya hubungan kenaikan berat badan saat kehamilan dengan kejadian BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas ............ Kabupaten ............ Tahun 2011.

1.5    Manfaat Penelitian
1.5.1     Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan tambahan referensi bagi perpustakaan sehingga mempermudah mahasiswa khususnya mahasiswa kebidanan untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR.
1.5.2     Bagi Tempat Penelitian
Dapat memberikan masukan dan pertimbangan tentang kejadian BBLR, sehingga dapat dilakukan upaya-upaya untuk meminimalisir BBLR ini melalui kegiatan penyuluhan pada masyarakat terutama kepada ibu hamil untuk selalu memperhatikan kesehatannya.
1.5.3     Bagi Masyarakat
Dapat menjadi pengetahuan dan informasi serta motivasi bagi ibu hamil untuk selalu menjaga kesehatan selama kehamilan melalui pemeriksaan kehamilan yang teratur agar terpantau kesehatan ibu dan janin sehingga dapat melahirkan bayi yang sehat dan juga ibu setelah melahirkan tetap sehat.
1.5.4     Bagi Peneliti
Dapat memberikan pengalaman yang berharga dan dapat mengaplikasikan teori yang diperoleh dari bangku kuliah, serta hasil penelitian ini dapat menjadi masukan atau bahan masukan bagi peneliti yang akan datang khususnya mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.170

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian BBLR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimalsebagai salah satu unsur kebijaksanaan umum dari tujuan nasional. Agar tujuan pembangunan bidang kesehatan tersebut dapat terwujud, diperlukan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal dan sebagai perwujudan upaya tersebut dibentuk sistem kesehatan nasional (Budioro, 2001).
Derajat kesehatan perlu ditingkatkan terus, hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia adalah dengan meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia merupakan indeks komposit dari aspek pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Indikator Indeks Pembangunan Manusia di sektor kesehatan adalah umur harapan hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2007). Umur harapan hidup merupakan kontribusi dari Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBA) dan Angka Kematian Ibu (AKI).
 Angka Kematian Bayi Baru Lahir di Indonesia saat ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan milennium. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (2002-2003), jadi Angka Kematian Bayi Baru Lahir (AKBBL) di Indonesia mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup atau dua kali lebih besar dari target World Health Organization (WHO) sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup.
Menurut Menteri Kesehatan (2007), berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (2001), penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia diantaranya BBLR 29%, asfiksia 27%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologik 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%.
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut WHO (2007) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 33%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain yaitu berkisar antara 9% - 30%.
Menurut Mitayami (2011) faktor penyebab BBLR adalah komplikasi obstetri, komplikasi medis, faktor ibu dan faktor janin. Faktor ibu diantaranya adalah dikarenakan penyakit, usia ibu, keadaan sosial ekonomi dan kondisi ibu saat hamil.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2003) Angka Kematian Bayi (AKB) di Propinsi Jawa Barat masih tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional yaitu 321,15 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian bayi adalah komplikasi pada bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia dan infeksi. Penyebab tidak langsung AKB adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri (Retnasih, 2005).
Berdasarkan hasil survey di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2007 yang mengalami insiden BBLR sebanyak 15,5%-17% dari kelahiran hidup 95% (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, 2007).
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten ........... tahun 2007 adalah 41,25 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini masih diatas target dalam indikator ........... Sehat Tahun 2008, yakni < 35 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten ........... pada tahun 2007 jumlah kematian bayi di Kabupaten ........... sebanyak 346 kasus. Jumlah ini meningkat pada tahun 2008 yaitu jumlah kematian bayi di ........... sebanyak 385 kasus. Salah satu penyebabnya adalah kejadian BBLR sebesar 24,5% (Dinas Kesehatan Kabupaten ..........., 2008).
Hasil data rekapitulasi di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... tahun 2011 jumlah BBL tercatat sebesar 630 bayi, yang terdiri dari bayi lahir normal sebesar 558 (88,5%), bayi yang mengalami kejadian BBLR sebesar 43 (6,82%), asfiksia 3 (0,4%), sungsang 13 (2%), lintang 9 (1,4%) dan gemeli 4 (0,6%). Angka ini sangat ironis apabila dibandingkan dengan kecamatan lain yaitu Kecamatan Leuwimunding yang jumlah BBL nya terbesar di Kabupaten ........... yaitu 1,104 namun jumlah bayi yang mengalami kejadian BBLR sebesar 13 (1,17%).
Kejadian BBLR yang tinggi menunjukkan bahwa kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat itu masih rendah. Untuk itu diperlukan upaya untuk menurunkan angka kejadian BBLR agar kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat. Kejadian BBLR ini bisa dicegah bila kita mengetahui faktor-faktor penyebabnya (Elizawarda, 2003).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan Kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
Sehingga yang menjadi pertanyaan peneliti adalah ”Apakah Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011”.

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.3.2    Tujuan Khusus
1.3.2.1    Diketahuinya gambaran kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.3.2.2    Diketahuinya gambaran paritas, jarak kehamilan, umur ibu, dan kunjungan ANC di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.3.2.3    Diketahuinya hubungan paritas dengan kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.3.2.4    Diketahuinya hubungan jarak kehamilan dengan kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.3.2.5    Diketahuinya hubungan umur ibu dengan kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.
1.3.2.6    Diketahuinya hubungan kunjungan ANC dengan kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011.

1.4     Manfaat Penelitian

1.4.1    Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk dapat mengaplikasikanya ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama masa kuliah.
1.4.2     Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan menjadi sumber referensi tambahan yang bermanfaat khususnya bagi mahasiswa kebidanan serta dapat dijadikan sumber rujukan bagi penelitian yang akan datang tentang faktorr-faktor yang berhubungan dengan BBLR.
1.4.3     Bagi Lahan Praktek
Dapat memberikan informasi secara objektif tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR sehingga dapat dijadikan pedoman dalam memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu hamil untuk selalu menjaga kesehatan ibu dan anak. 

1.5    Ruang Lingkup

Pada penelitian ini meliputi variabel independen yaitu paritas, jarak kehamilan, umur ibu dan kunjungan ANC, sedangkan variabel dependennya yaitu kejadian BBLR. Semua variabel itu akan diteliti untuk diketahui hubungan antara paritas, jarak kehamilan, umur ibu dan kunjungan ANC terhadap kejadian BBLR di UPTD Puskesmas ........... Kecamatan ........... Kabupaten ........... Tahun 2011. 



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.169

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pembangunan nasional bertujuan mendorong tercapainya kesejahteraan keluarga sebagai unit terkecil dari kehidupan bangsa. Kemandirian keluarga dalam Poleksusbudhankamka (politik, ekonomi, sosial, budaya, ketahanan, dan keamanan keluarga) akan menentukan secara berantai kehidupan bangsa secara nasional. Semakin diterima konsep pelayanan kesehatan modern, angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal akan semakin dikendalikan (Manuaba, 2007 : 11).
Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu  (AKI). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia menunjukkan angka yang masih tinggi yaitu 34 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurut data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 di Indonesia mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Di Provinsi Jawa Barat tahun 2007 Angka Kematian Ibu menunjukkan angka yang cukup tinggi mencapai 98 per 1000 kelahiran hidup, dengan Angka Kematian Bayi tahun  2008 sedikitnya mencapai 38 per 1000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2008).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan ........... tahun 2009 AKI sebesar 24 per 1-00.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 165 per kelahiran hidup. Dibandingkan dengan tahun 2008, AKI sebesar 20 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 98 per 1000 kelahiran hidup, maka AKI dan AKB tahun 2009 lebih meningkat dibandingkan tahun 2008 sebesar (0,004%) sedangkan AKB sebesar (0,067%). AKI diakibatkan oleh perdarahan, eklamsi dan lain-lain, sedangkam penyebab AKB yaitu asfiksi, BBLR, infeksi, laktsi, dan lain-lain (Dinas Kesehatan ..........., 2009).
Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada saat kelahiran bayi dan mengakibatkan kematian bayi adalah asfiksia. Di Indonesia angka kejadian asfiksia kurang lebih 40 per 1000 kelahiran hidup, secara keseluruhan 110.000 neonatus meninggal setiap tahun karena asfiksia (Dewi dkk, 2005).
Asfiksia merupakan keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna (Prawirohardjo, 1999). Faktor yang berkaitan dengan terjadinya asfiksia yaitu  faktor ibu,  faktor persalinan,  faktor janin dan faktor plasenta. Faktor ibu meliputi usia ibu waktu hamil, umur kehamilan saat melahirkan, status kesehatan, status paritas, dan riwayat obstetri (Aminulloh, 2002).
Sebagian kecil bayi tidak mampu bernapas efektif secara spontan saat lahir. Hal ini paling sering disebabkan oleh asfiksia yang muncul dengan berbagai tingkatan, tetapi dapat juga disebabkan oleh hal lain. Asfiksia disebabkan oleh pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga menyebabkan hipok¬semia dan asidosis campuran akibat pembentukan asam laktat dan penumpukan karbondioksida. Beberapa tanda klinis dapat dinilai dengan Apgar skor, seperti apnea/bradipnea, bradikardia, sianosis, dan gangguan neurologis yang akan tampak bergantung pada beratnya asfiksia (David Drew, 2009).
Berdasarkan data dari RSUD 45 ........... pada tahun 2009 bahwa penyebab kematian bayi baru lahir di RSUD 45 ........... sebagian besar disebabkan oleh asfiksia. Pada tahun 2009 jumlah bayi yang lahir di RSUD 45 ........... sebesar 1.729 bayi. Jumlah bayi asfiksia sebesar 346 (20,05%) terdiri dari asfiksia berat sebesar 162 bayi (9,36%), asfiksia sedang sebesar 133 bayi (7,69%), dan asfiksia ringan sebesar 51 bayi (3,0%). Masalah lain pada bayi baru lahir di RSUD 45 ........... adalah berat badan lahir rendah (BBLR) sebesar 352 bayi (20,35%), infeksi sebesar 5 bayi (0,28%), dan sinusitis sebesar 9  bayi (0,52%). Jumlah ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan RS ........... sebesar 52 bayi (6,1%) mengalami asfiksia dari jumlah bayi lahir sebesar 852 bayi.  Sedangkan masalah lain pada bayi baru lahir di RS ........... adalah BBLR sebesar 135 (15,8%), infeksi sebesar 1 bayi (0,11%), dan sinusitis sebesar 3 bayi (0,35%). Untuk mencegah atau menurunkan kejadian asfiksia, peranan ibu hamil sangatlah penting. Ibu hamil harus dapat menjaga kesehatan dirinya dan janin yang dikandungnya dengan cara rutin melakukan pemeriksaan ANC.
Menurut Saifuddin (2006) asfiksia menimbulkan kematian bayi baru lahir karena sumbatan jalan napas, adalah satu dari beberapa penyebab kegagalan oksigenasi jaringan yang biasanya karena kekerasan. Asfiksia berasal dari bahasa Yunani yang artinya “tidak berdenyut”, pengertian ini sering salah digunakan sehingga sering menimbulkan kebingungan untuk membedakan dengan status anoksia lain pada defisiensi Hb, racun sianida, sirkulasi darah yang terganggu dimana ambilan oksigen oleh jaringan terganggu.
Faktor-faktor yang menyebabkan asfiksia diantaranya faktor ibu, faktor tali pusat, dan faktor bayi. Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia (Saifuddin, 2006).   
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011. Penulis akan meneliti “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Asfiksia di RSUD 45 ........... Tahun 2011”.

1.2    Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011”. Sehingga pertanyaan dalam penelitian ini adalah “Apakah faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011?”.

1.3    Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah secara khusus akan meneliti hubungan antara pengetahuan, pendidikan, dan sosial ekonomi ibu dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011. Subjek penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi di RSUD 45 ........... tahun 2011. Jenis penelitian ini menggunakan data primer dengan pendekatan cross sectional. 

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1     Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011.
1.4.2     Tujuan Khusus
1..4.2.1    Diketahuinya gambaran kejadian asfiksia, pengetahuan, pendidikan, dan sosial ekonomi ibu yang melahirkan di RSUD 45 ........... tahun 2011.
1.4.2.2     Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu melahirkan dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011.
1.4.2.3     Diketahuinya hubungan antara pendidikan ibu melahirkan dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011.
1.4.2.4     Diketahuinya hubungan antara sosial ekonomi ibu melahirkan dengan kejadian asfiksia di RSUD 45 ........... tahun 2011.

1.5    Manfaat Penelitian
1.5.1     Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Untuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam pelaksanaan penelitian selanjutnya.
1.5.2     Manfaat Bagi Institusi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan  menjadi masukan dan informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia dalam peningkatan pelayanan kesehatan di RSUD 45 ........... sebagai upaya untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas neonatal.
1.5 3    Manfaat Bagi Masyarakat
Sebagai suatu pengalaman yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat, khususnya pengetahuan tentang kejadian asfiksia.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.168

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Pelayanan kesehatan suatu negara yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran salah satunya adalah pelayanan kebidanan yaitu menjamin agar setiap wanita hamil dan wanita yang menyusui bayinya dapat memelihara kesehatan sesempurna mungkin agar wanita hamil melahirkan bayi sehat tanpa gagguan apapun dan kemudian dapat merawat bayinya dengan baik (Prawirohardjo, 2002).
Upaya pelayanan kebidanan merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sampai saat ini tingginya AKI dan AKB di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan (Wahyudin, 2004).
Usaha peningkatan kesehatan ini harus terus dilakukan. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berada pada angka 248/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih berada pada kisaran 34/1.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2007, AKI dan AKB di Jawa Barat masih berada pada level yang cukup tinggi. Hingga saat ini, AKI Jawa Barat sebanyak 250 per 100.000 kelahiran dan AKB di Jawa Barat masih di atas 40 per 1.000 kelahiran hidup (BPS Jawa Barat, 2007).
Penyebab langsung kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu, sedangkan secara tidak langsung kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, eklampsia, komplikasi aborsi, sepsis pasca persalinan, partus macet, termasuk anemia.
Salah satu  usaha peningkatan kesehatan ibu dan bayi adalah dengan memperbaiki mutu layanan kesehatan ibu hamil. Pemeriksaan kehamilan sebelum persalinan sangat diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan janin untuk mengidentifikasi kelainan yang dapat mengganggu persalinan normal (Saefuddin, 2002).
Tujuan umum dari pemeriksaan kehamilan adalah menyiapkan fisik, mental ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan bayi yang sehat. Selain itu, kebutuhan gizi ibu hamil pun dapat terpenuhi, karena jika tidak terpenuhi dapat menyebabkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan pada ibu hamil, seperti anemia. Anemia merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk keadaan ibu apabila disertai perdarahan saat kehamilan, persalinan dan pasca salin (Mardliyanti, 2005).
Anemia merupakan suatu kondisi penurunan kadar hemoglobin dan jumlah eritosit di bawah nilai normal. Pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang darah, kadar sel darah merah (hemoglobin atau Hb) di bawah nilai normal (Amirudin R, 2006).
Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukan anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif seperti gangguan dan hambatan pada pertumbuhan dan kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang ditransfer ke sel tubuh maupun ke otak.
Menurut badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) bahwa prevalensi ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi besi sekitar 35-37% semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Anemia difisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang berkembang dari pada negara yang sudah maju, 36% atau sekitar 1.400 juta menderita anemia dari perkiraan populasi 3.800 juta orang, sedangkan prevalensinya dengan negara maju sekitar 8 % atau kira-kira 100 juta orang dari perkiraan populasi 1.200 juta orang. Sedangkan di Indonesia prevalensi pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 40,1 % (SKRT, 2001).
Menurut data laporan Dinas Kesehatan ............ kejadian anemia yang paling banyak terdapat di UPTD Puskesmas ............ Pada tahun 2008 tercatat jumlah ibu hamil menderita anemia berjumlah 110 orang (13,2%) dari jumlah ibu hamil 834 orang. Sementara pada tahun 2011 terdapat jumlah ibu hamil yang mengalami anemia 73 (11,2%) dari jumlah ibu hamil 652 orang. Kejadian anemia pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur ibu hamil, paritas dan umur kehamilan.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dalam penelitian tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di UPTD Puskesmas ...........-Kabupaten ............ Tahun 2011”.

1.2    Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ...........-Kabupaten ............ Tahun 2011.

1.3    Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini memfokuskan pada “Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ...........-Kabupaten ............ Tahun 2011”. Faktor-faktor yang diteliti terdiri dari: usia ibu, paritas, dan umur kehamilan.

1.4    Tujuan Penelitian
1.4.1    Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ...........-Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2    Tujuan Khusus
1.4.2.1    Diketahuinya gambaran umur, paritas dan umur kehamilan pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.2    Diketahuinya hubungan antara umur dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.3    Diketahuinya hubungan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ............ Tahun 2011.
1.4.2.4    Diketahuinya hubungan antara umur kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas ........... Kabupaten ............ Tahun 2011.

1.5    Manfaat Penelitian
1.5.1    Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia dan dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dari bangku kuliah.
1.5.2    Bagi Insitusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dokumentasi pada perpustakaan program Studi Kebidanan YPIB ............ dan dapat dikembangkan lebih luas lagi dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3    Bagi Institusi
Dapat menjadi dasar dalam menentukan kebijakan untuk menurunkan angka kejadian anemia pada kehamilan.
1.5.4    Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat terutama pada ibu hamil diharapkan dapat meningkatkan informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.167

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI