KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Faktor Risiko Kematian Perinatal di wilayah Kerja Puskesmas

10 July 2012

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional, diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan hidup sehat bagi dirinya sendiri dalam bidang kesehatan. Dalam visi pembangunan Indonesia sehat adalah agar masyarakat hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi – tingginya sehingga dirumuskan dalam Visi Indonesia Sehat (Prawiroharjo, 2006).
Dalam bidang kesehatan masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagai inti sentral pembangunan peranan bidan dalam proses pembangunan khususnya menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu dan kematian bayi sangat penting dipedesaan (Astina, 2001).
AKI di Indonesia masih cukup tinggi dan penurunannya masih sangat lambat, yaitu pada tahun 1992, AKI adalah 425 per 100.000 kelahiran hidup, menurun menjadi 384 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Masih sangat jauh dari Angka Kematian Ibu di negara Singapura dan Malaysia, yang tingkat kematiannya 5 dan 70 orang per seratus ribu kelahiran (Gloriant.org, 2000).
Di Sulawesi Selatan AKI pada tahun 1996 sebesar 170 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1997 sebesar 160 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1998 sebesar 192 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1999 sebesar 176 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2000).
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia pun Masih sangat tinggi bahkan di seluruh dunia, pada tahun 2008 Indonesia menduduki rangking ke enam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati. Akhir Oktober 2000 diperoleh data bahwa angka kematian bayi sampai umur 1 tahun berkisar 40/1000 kelahiran hidup atau sekitar 186.500 bayi tiap 2-3 menit sampai umur 1 tahun mengalami kematian. Penyebab langsung kematian bayi tersebut 30,3% diantaranya akibat gangguan pada masa baru lahir/perinatal (Widyakusuma, 2005).
Penelitian kematian perinatal dibeberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi kematian perinatal yaitu faktor ibu yang memperbesar risiko kematian perinatal (high risk mother). faktor ibu yang memperbesar risiko kematian perinatal adalah umur ibu yang melebihi 35 tahun atau kurang dari 20 tahun; paritas pertama atau lebih dari tiga kali; status gizi ibu pada saat hamil; status ekonomi dan pendidikan yang rendah; tinggi badan ibu; berat badan ibu; jarak kehamilan kurang dari 2 tahun; gangguan gizi; ibu dengan problema social misalnya perceraian, perkawinan lebih dari satu isteri atau perkawinan tidak sah (Alisyahbana, 2001).
Di negara-negara berkembang kematian ibu disebabkan oleh kehamilan dan persalinan yang terlantar dan kehamilan yang tidak diinginkan, dan terbanyak disebabkan oleh eklampsia, pendarahan, infeksi, keguguran kandungan oleh sikap percobaan abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak profesional, tetapi dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih termasuk di bidang kedokteran, persalinan ibu yang mengalami komplikasi dapat di bantu dengan operasi caesar dalam pelayanan obsestri selain angka kematian bayi terdapat juga angka kematian perinatal yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan pelayanan. Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur dengan tinggi rendahnya angka kematian perinatal dan angka kematian ibu dalam 100.000 persalinan hidup, sedangkan tingkat kesejahteraan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa jauh gerakan keluarga berencana dapat diterima masyarakat (Widyakusuma, 2005).
Penyebab utama kematian maternal antara lain pendarahan postpartum eklampsia, dan penyakit infeksi dan plasenta previa yang kesemuanya bersumber pada anemia defisiensi. Selain itu, hal yang memicu tingginya angka kematian bayi akibat adalah perilaku ibu hamil itu sendiri yang masih sangat kurang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Hal ini bisa dipicu oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah, keadaan ekonomi bahkan sosial budaya yang ada masing-masing daerah dimana ibu hamil itu tinggal (Damayanti, dkk, 2007).
Selain itu, faktor bayi yang mempertinggi angka kematian perrinaral adalah bayi yang lahir dari kehamilan yang bersifat high risk; berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau lebih dari 4000 gram; bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu atau lebih dari 42 minggu.
Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan disuatu negara. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, yaitu sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab tidak langsung kematian ibu adalah penyakit yang mungkin telah terjadi sebelum kehamilan dan diperburuk oleh kehamilan ibu sendiri. Penyakit itu antara lain adalah anemia dan sebagainya.
Dinegara berkembang seperti Indonesia kemungkinan terjadinya infeksi pasca salin yang tinggi adalah pada kasus persalinan, karena pada umumnya di lakukan pada ibu dan anak dalam keadaan gawat darurat, seperti pada penelitian yang di lakukan oleh Linus tahun 1998, bahwa Rumah Bersalin Mariem, dari 39 persalinan caesar terdapat 30 (76,9 %) dengan komplikasi antenatal, sehingga angka kesakitan ibu setelah persalinan caesar lebih sering dan lebih berat di banding paska persalinan pervagina (Prawirohardjo, 2006).
Angka kematian bayi di Provinsi Sulawesi Utara berdasarkan data Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2008 sebesar 273/100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian tersebut antara lain karena asfiksia neonatorum dan infeksi (Profil kesehatan Sulawesi Utara, ).
Mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan, maka menghindari persalinan adalah penting, untuk itu perlu diperhatikan secara saksama faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kematian bayi tersebut, sehingga dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut diharapkan ibu yang sedang hamil dan terutama yang memiliki risiko untuk persalinan dapat lebih menjaga dan memelihara kesehatan dirinya dan kandungannya melalui pelayanan kesehatan yang optimal.
Derajat kesehatan masyarakat ditunjang keberhasilannya oleh karena pengaruh adanya kematian dan kelahiran hidup. Angka kematian bayi dan angka kematian ibu merupakan indikator keberhasilan AKI dan AKB dalam suatu wilayah tertentu.
Indonesia, masih tinggi angka kematian bayi yakni berkisar sebanyak 67 % dari beberapa daerah yang menunjang menurunnya angka kelahiran pada daerah tersebut yakni contohnya di daerah Jogja, Aceh dan Semarang yakni berkisar sebanyak 65 % daerah yang angka kematian bayinya meningkat.
Merupakan hal yang sangat penting adalah menurunkan prevalensi kematian bayi pada saat sekarang ini karena angka ini menjamin keberhasilan program suatu daerah tersebut dikatakan tercapai.
Jika dilihat berdasarkan profil puskesmas itu bahwa pada tahun – didapatkan jumlah kasus kematiaan perinatal pada tahun berjumlah 45 kasus dan pada tahun berjumlah 62 kasus atau bisa diperkirakan kira – kira sekitar 50 kasus pertahun (rekam medik, ).
Tingginya angka kematian perinatal mempunyai dampak yang besar dalam suatu negara mengingat angka kematian bayi merupakan indikator utama derajat kesehatan masyarakat, maka penelitian ini akan membahas tentang beberapa faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten tahun .


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang permasalahan, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah umur ibu merupakan factor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
2. Apakah paritas merupakan factor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
3. Apakah berat badan lahir merupakan factor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
4. Apakah status gizi ibu berdasarkan LILA merupakan factor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
5. Apakah antenatal care merupakan factor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian kematian bayi di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui besar risiko umur ibu terhadap kejadian kematian bayi di Puskesmas Kabupaten Tahun
b. Untuk mengetahui besar risiko paritas terhadap kejadian kematian bayi di Puskesmas Kabupaten Tahun
c. Untuk mengetahui besar risiko berat badan bayi terhadap kejadian kematian bayi di Puskesmas Kabupaten Tahun
d. Untuk mengetahui besar risiko status gizi ibu berdasarkan LILA terhadap kejadian kematian bayi di Puskesmas Kabupaten Tahun
e. Untuk mengetahui besar risiko Antenatal Care (ANC) terhadap kejadian kematian bayi di Puskesmas Kabupaten Tahun

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini sebagai sumber informasi bagi Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka penentuan arah kebijakan dan pengembangan program penyuluhan/promosi kesehatan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) pada masa mendatang dan bagi Puskesmas Kabupaten merupakan informasi yang berharga dalam perbaikan pelayanan.
2. Manfaat Keilmuan
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu bahan bacaan bagi peneliti berikutnya.
3. Manfaat bagi peneliti
Merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kematian Maternal melalui penelitian lapangan.

Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.233

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan yang telah tercantum pada Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu upaya penyelenggaraan kesehatan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia guna mendapatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal yang mana dikatakan bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, pelayanan kesehatan, tindakan serta bawaan (congenital). Hidup sehat merupakan hak yang dimilki oleh setiap manusia yang ada didunia ini, akan tetapi diperlukan berbagai cara untuk mendapatkannya (Anonim, 2007).
Sebagai upaya untuk mewujudkan visi Indonesia sehat 2010, pemerintah telah menyusun berbagai program pembangunan dalam bidang kesehatan antara lain kegiatan pemberantasan Penyakit Menular (P2M) baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di semua aspek lingkungan kegiatan pelayanan kesehatan.
Untuk dapat mengukur derajat kesehatan masyarakat digunakan beberapa indikator, salah satunya adalah angka kesakitan dan kematian balita. Angka kematian balita yang telah berhasil diturunkan dari 45 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003 menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Anonim, 2008).
World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO  13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh  4 juta anak balita setiap tahun (Depkes, 2000 dalam Asrun, 2006).
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Anonim, 2007).
Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan meninggal bila tidak segera diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di negara berkembang.
Penemuan penderita ISPA pada balita di Sulawesi Tenggara, sejak tahun 2006 hingga 2008, berturut–turut adalah 74.278 kasus (36,26 %), 62.126 kasus (31,45%), 72.537 kasus (35,94%) (Anonim, 2008). Sedangkan penemuan penderita ISPA pada balita di Kabupaten dari tahun 2006 hingga 2008, berturut-turut adalah 8.291 kasus (23,63%), 7.671 kasus (28,09%) dan 7.289 kasus (24,63%). Data kesakitan yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten tiga tahun terakhir (tahun 2006 sampai dengan tahun 2008), Puskesmas menduduki urutan kedua tertinggi ISPA dari 24 Puskesmas di Wilayah Kabupaten . Atas dasar tersebut maka penulis memilih Puskesmas sebagai lokasi penelitian (Anonim, 2008).
Di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) , penemuan penderita ISPA pada balita tahun 2006 sebanyak 1.471 kasus (20,29%) dan sebanyak 415 (28,2%) kasus peneumonia. Tahun 2007 sebanyak 1.059 kasus (24,62%) dengan 258 (24,4%) kasus pneumonia. Kasus ISPA pada balita di Puskesmas pada tahun 2008 ditemukan sebanyak 1.149 dengan 383 (33,3%) kasus pneumonia (Anonim, 2007).
Berdasarkan uraian di atas, penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan angka kematian yang cukup tinggi, sehingga dalam penanganannya diperlukan kesadaran yang tinggi baik dari masyarakat maupun petugas, terutama tentang beberapa faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan. Menurut Hendrik Blum dalam Notoatmodjo, 1996, faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan antara lain faktor lingkungan seperti asap dapur, faktor prilaku seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah, faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi, ASI Ekslusif dan BBLR dan faktor keturunan.
Asap dapur dan faktor prilaku seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah sangat berpengaruh karena semakin banyak penderita gangguan kesehatan akibat merokok ataupun menghirup asap rokok (bagi perokok pasif) yang umumnya adalah perempuan dan anak-anak, sedangkan faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi, ASI Ekslusif dan BBLR merupakan faktor yang dapat membantu mencegah terjadinya penyakit infeksi seperti gangguan pernapasan sehingga tidak mudah menjadi parah (Anonim, 2007).
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kejadian ISPA, yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian akibat pneumonia. Hal inilah yang mendasari penulis untuk meneliti faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten .

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimanakah faktor resiko kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Tahun ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor resiko kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan asap dapur dengan kejadian ISPA pada balita.
b. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita.
c. Untuk mengetahui hubungan ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA pada balita.
d. Untuk mengetahui hubungan status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita.
e. Untuk mengetahui hubungan BBLR dengan kejadian ISPA pada balita.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.232

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor Risiko Kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Tinjau Dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu dan Penyakit Infeksi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan di bidang kesehatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan kesejahteraan bangsa secara berkesinambungan, terus menerus dilakukan bangsa Indonesia untuk menggapai cita-cita luhur, yakni terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, baik spiritual maupun material. GBHN 1999 mengamanatkan perlunya meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung melalui pendekatan paradigma sehat, dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan , pemulihan, dan rehabilitasi (Aditama dan Hastuti, 2006).
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik. Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007 ).
Kesepakatan global berupa Millenium Development Goals (MDGS) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa pada tahun 2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Untuk Indonesia, indikator yang digunakan adalah peresentase anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (severe underweight) dan persentase anak-anak berusia 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang (moderate underweight) (Ariani, 2007).
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang giuzi dan juga kekurangan zat makanan. Penyakit gizi kurang banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2005).
Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.
Kurang gizi atau gizi buruk dinyatakan sebagai penyebab tewasnya 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) di dunia. Mayoritas kasus fatal gizi buruk berada di 20 negara, yang merupakan negara target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi. Negara tersebut meliputi wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris The Lanchet ini mengungkapkan, kebanyakan kasus fatal tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin yang tidak mampu atau lambat untuk berobat, kekurangan vitamin A dan Zinc selama ibu mengandung balita, serta menimpa anak pada usia dua tahun pertama. Angka kematian balita karena gizi buruk ini terhitung lebih dari sepertiga kasus kematian anak di seluruh dunia (Malik, 2008).
Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab tingginya kematian pada bayi dan anak. Apabila anak kekurangan gizi dalam hal zat karbohidrat (zat tenaga) dan protein (zat pembangun) akan berakibat anak menderita kekurangan gizi yang disebut KEP tingkat ringan dan sedang, apabila hal ini berlanjut lama maka akan berakibat terganggunya pertumbuhan, terganggunya perkembangan mental, menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh, hingga menjadikan penderita KEP tingkat berat sehingga sangat mudah terserang penyakit dan dapat berakibat kematian (Syahmien Moehji, 2005).
Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Risiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Irwandy, 2007).
Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (I Dewa Nyoman Supariasa, 2007).
Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status gizi anak (I Dewa Nyoman Supariasa, 2007).
Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5,4%, dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13,0%. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%), maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18,5%) telah tercapai pada 2007. Namun demikian, sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, , Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008).
Masalah kurang gizi merupakan akibat dari interaksi antara berbagai faktor, akan tetapi yang paling utama adalah dua faktor yaitu konsumsi pangan dan infeksi, adanya ketidakseimbangan antara konsumsi zat energi dan zat protein melalui makanan, baik dari segi kuantitatif dan kualitatif. Dideritanya panyakit infeksi, yang umumnya infeksi saluran pernafasan dan infeksi saluran pencernaan, maka keadaan kurang gizi akan bertambah parah. Namun sebaliknya penyakit-penyakit tersebut dapat bertindak sebagai pemula terjadinya kurang gizi sebagai akibat menurunnya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan dalam saluran pencernaan serta meningkatnya kebutuhan gizi akibat adanya penyakit (Syahmien Moehji, 2005).
Selain dari penyebab utama tersebut banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya masalah kurang gizi yaitu ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, pola pengasuhan anak, kondisi lingkungan atau penyediaan air bersih serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai serta faktor sosial budaya dan ekonomi seperti tingkat pendapatan keluarga, besar anggota keluarga, pantangan atau tabu dalam hal makanan dan adat kebiasaan yang merugikan (Syahmien Moehji, 2005).
Di provinsi angka penderita gizi kurang yaitu sebesar 12,75% dari 336.111 balita yang di ukur menurut dinas kesehatan tahun 2008.
Berdasarkan data yang diperoleh dari survey Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2008 bahwa jumlah balita di kabupaten yaitu 11.657 jiwa, dimana penderita gizi buruk sebanyak 628 (5,4 %) jiwa dan jumlah penderita gizi kurang sebanyak 2.493 (21,4 %) jiwa.
Data mengenai status gizi balita di Puskesmas Kecamatan tahun menunjukkan dari sejumlah 823 balita terdapat 426 balita gizi baik, 136 balita gizi kurang (16,16%) dan 11 balita gizi buruk (1,33%). Dari data di atas dapat dilihat bahwa masih tingginya jumlah kasus, baik kasus gizi kurang maupun kasus gizi buruk pada tahun di wilayah kerja Puskesmas . Dari jumlah penderita gizi buruk diatas, dapat dikategorikan masih tinggi dibanding jumlah standar nasional yang ditetapkan yaitu <1% dan untuk kejadian gizi kurang <15%. Penyebab gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia sesuai hasil penelitian bermula dari krisis ekonomi, politik dan sosial menimbulkan dampak negatif seperti kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan rendah, kesempatan kerja kurang, pola makan, ketersediaan bahan pangan pada tingkat rumah tangga rendah, pola asuh anak yang tidak memadai, pendapatan keluarga yang rendah, sanitasi dan air bersih serta pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai (Unicef, 1999 dalam Khomsan, dkk 2005). Dari latar belakang inilah maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor Risiko kejadian Gizi Kurang Pada Balita Di Tinjau Dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Dan Penyakit Infeksi. Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Kabupaten tahun . B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut: 1. Berapa besar faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun ? 2. Berapa besar faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun ? 3. Berapa besar faktor risiko tingkat penyakit infeksi dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun ? 4. Berapa besar faktor risiko tingkat pekerjaan orang tua dengan kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun ? 5. Berapa besar faktor risiko tingkat pendapatan dengan kejadian gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun ? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor risiko kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kabupaten tahun . 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun . b. Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun . c. Untuk mengetahui faktor risiko penyakit infeksi terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun . d. Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pekerjaan orang tua terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun . e. Untuk mengetahui faktor risiko pendapatan terhadap kejadian gizi kurang pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun . D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Ilmiah Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber bacaan bagi para peneliti dimasa yang akan datang. 2. Manfaat Institusi Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan khususnya bagi Puskesmas serta pihak lain dalam menentukan kebijakan untuk menekan dan menangani kasus gizi buruk dan gizi kurang pada bayi/anak balita. 3. Manfaat Praktis Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian khususnya mengenai beberapa faktor risiko kejadian gizi kurang pada balita.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.231

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus di Rumah Sakit Umum Daerah

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakit degeneratif, yang merupakan salah satu penyakit di dalam sepuluh besar penyakit di Indonesia. Diabetes Mellitus (DM) yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit metabolik yang ditandai hiperglikemia kronik, dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang berkaitan dengan gangguan fungsi insulin. Gangguan fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin. Penyakit ini timbul secara perlahan-lahan, sehingga seseorang tidak menyadari adanya berbagai perubahan dalam dirinya. Perubahan seperti sering buang air kecil (poliuria), sering haus (polidipsia), banyak makan/mudah lapar (polifagia) dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
Diabetes merupakan penyakit yang dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistim tubuh yang lain, kondisi ini meliputi resistensi insulin, kadar kolesterol yang tinggi dan tekanan darah tinggi. Mereka yang memiliki tekanan darah yang lebih tinggi 3 kali lebih besar ditemukan pada penderita DM. Hipertensi berkembang dengan luas dan diderita oleh 63% - 70 % penderita diabetes mellitus.
Usia diatas 40 tahun, adanya riwayat keturunan diabetes mellitus dan badan terlalu gemuk merupakan faktor risiko utama seorang terkena diabetes.
Laporan statistik dari International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan, bahwa sekarang sudah ada sekitar 230 juta penederita diabetes. Angka ini terus bertambah hingga 3% atau sekitar 7 juta orang setiap tahunya, dengan demikian jumlah penderita diabeytes diperkirakan akan mencapai 350 juta pada tahun 2005 dan setengah dari angkatersebut berada diAsia, terutama Cina, India Pakistan dan Indonesia. Diabetes merupakan penyebab kematian terbesar keempat diDunia. Setiap tahun ada 3,2 juta kematian yang disebabakan langsung oleh diabetes. Itu berarti ada 1 orang per 10 detik atau 60 orang permenit yang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan diabetes. Di Amerika yang sudfah maju sekalipun, angka kematian akibat diabetes bisa mencapai 200.000 orang pertahun (Tandra, 2008).
Diabetes mellitus masuk dalam penyakit terbanyak di Asia, tahun 2003 diperkirakan 89 juta penduduk Asia menderitaDiabetes.
Dikawasan ASEAN jumlah penderita diabetes mellitus juga mengalami peningkatan, pada tahun 2000 sebesar 12,3 juta dan diperkirakan akan meningkat menjadi 19,4 juta pada tahun
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus di Dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Namun, pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat menjadi 14 Juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidap diabetes dan diantara mereka baru sekitar 30 persen yang berobat teratur (Maulana, 2008).
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya pengetahuan dan informasi di masyarakat tentang diabetes mellitus terutama gejala-gejalanya. Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan, tetapi faktor riwayat keluarga saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang kurang sehat.
Diabetes Mellitus masuk dalam penyakit terbanyak di Asia, tahun 2003 diperkirakan 89 juta penduduk Asia menderita Diabetes.
Meningkatanya data penderita diabetes melitus setiapa tahun dengan komplikasi akut dan kronis di setiap negara di dunia jelas memberi beban ekonomi yang tidak sedikit. Tanpa pengonatan yang baik, diabetes akan menyerang banyak organ penting dalam tubuh, bahkan bisa berakibat fatal. Dari penelitian yang dilakukan WHO di India pada tahun 2006, seorang penderita diabetes dewasa menambah pengeluaran rumah tangga sampai 25 %. Demikian pula di negara=-negara psifik barat (termasuk Indonesia), 16% biaya perawatan di Rumah Sakit dikeluarkan oleh pasien diabetes. Biaya ini belum termasuk dampak sosial dan ekonomi karena penderita tidak mampu bekerja. Semua ini menimbulkan beban yang sangat besar dan harus menjadi perhatian semua orang.
Rumah Sakit merupakan salah satu Rumah Sakit rujukan yang dalam beberapa tahun terakhir ditemukan kasus diabetes mellitus sebagai berikut : tahun 2008 sebanyak 90 penderita, tahun  sebanyak 93 penderita, dan tahun sebanyak 25 penderita (RSU)
Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat bahwa telah terjadi peningkatan jumlah kasus diabetes mellitus yang berobat di Rumah sakit Umum Daerah Kabupaten Melihat terjadi peningkatan kasus diabetes mellitus di RSUD tersebut, maka peneliti tertarik untuk melihat besarnya risiko beberapa faktor terhadap kejadian diabetes mellitus di RSUD Kabupaten tahun

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dibuatlah rumusan masalah sebagai berikut :
1. Berapa besar risiko hipertensi terhadap kejadian diabetes Mellitus?
2. Berapa besar risiko obesitas terhadap kejadian diabetes Mellitus?
3. Berapa besar risiko riwayat keluarga (keturunan) terhadap kejadian diabetes Mellitus?
4. Berapa besar risiko Jenis Kelamin terhadap kejadian diabetes Mellitus?
5. Berapa besar risiko Umur terhadap kejadian diabetes Mellitus?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui risiko kejadian diabetes mellitus di RSUD Kabupaten tahun
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui besar risiko kejadian diabetes mellitus berdasarkan hipertensi.
b. Untuk mengetahui besar risiko kejadian diabetes mellitus berdasarkan obesitas.
c. Untuk mengetahui besar risiko kejadian diabetes mellitus berdasarkan riwayat keluarga (keturunan).
d. Untuk mengetahui besar risiko kejadian diabetes mellitus berdasarkan Jenis Kelamin.
e. Untuk mengetahui besar risiko kejadian diabetes mellitus berdasarkan Umur

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Ilmiah
Sebagai bahan bacaan yang bermanfaat bagi peneliti lain, khususnya yang berhubungan dengan faktor risiko kejadian Diabetes Mellitus.
2. Manfaat Institusi
Merupakan informasi berharga dan dapat diharapkan bermanfaat bagi instansi di RSUD .......... Kabupaten ..........
3. Manfaat Praktis
Bagi peneliti merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam upaya menerapakan ilmu yang diperoleh selama mengikuti pendidikan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.230

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas

BAB I
PEDAHULUAN


A. Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Penyakit DBD ini ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di negara–negara tropik dan subtropik, baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik. Hasil studi epidemiologik menunjukkan bahwa DBD menyerang kelompok umur balita sampai dengan umur sekitar 15tahun.Kejadian Luar Biasa (KLB) dengue biasanya terjadi di daerah endemik dan berkaitan dengan datangnya musim hujan, sehingga terjadi peningkatan aktifitas vektor dengue pada musim hujan yang dapat menyebabkan terjadinya penularan penyakit DBD pada manusia melalui vektor Aedes.Sehubungan dengan morbiditas dan mortalitasnya, DBD disebut the most mosquito transmitted disease (Djunaedi, 2006).
Penyakit DBD di Indonesia pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, dan di Jakarta dilaporkan pada tahun 1969. Pada tahun 1994 kasus DBD menyebar ke 27 provinsi di Indonesia. Sejak tahun 1968 angka kesakitan kasus DBD di Indonesia terus meningkat, tahun 1968 jumlah kasus DBD sebanyak 53 orang (Incidence Rate (IR) 0.05/100.000 penduduk) meninggal 24 orang (42,8%). Pada tahun 1988 terjadi peningkatan kasus sebanyak 47.573 orang (IR 27,09/100.000 penduduk) dengan kematian 1.527 orang (3,2%) (Hadinegoro dan Satari, 2006).
Jumlah kasus DBD cenderung menunjukkan peningkatan baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit, dan secara sporadis selalu terjadi KLB. KLB terbesar terjadi pada tahun 1988 dengan IR 27,09/100.000 penduduk, tahun 1998 dengan IR 35,19/100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) 2 %, pada tahun 1999 IR menurun sebesar 10,17/100.000 penduduk (tahun 2002), 23,87/100.000 penduduk (tahun 2003) (Kusriastusi, 2005).
Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi baik di perkotaan maupun di pedesaan. Pada beberapa tahun terakhir, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk cenderung mengalami peningkatan jumlah kasus maupun kematiannya. Seperti KLB, DBD secara nasional juga menyebar di Kota .Penyebaran kasus DBD di terdapat di 6 kabupaten/kota (semua kabupaten/kota) dan juga di kecamatan atau desa yang ada di wilayah perkotaan maupun di pedesaan.Jumlah kasus dan kematian akibat penyakit DBD di selama 5 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan (Profil Dikes Provinsi ,2008).
Pada tahun 2008 dan 2009 terjadi lonjakan kasus yang cukup drastis, yaitu tahun 2008 sebanyak 93 kasus, dan tahun 2009 sebanyak 172 kasus.. Berdasarkan penyebaran kasus DBD di Propvinsi , Kota termasuk salah satu daerah penyebaran kasus (Profil Dikes Kota ,2008).
Berdasarkan profil Kesehatan Kota tahun 2007 kasus DBD di daerah tersebut dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 KLB DBD terjadi di semua Kecamatan yang ada di wilayah Kota , dan kasus terbanyak terjadi di Kecamatan kota Tengah kota pada wilayah kerja Puskesmas (Profil Dikes Kota ,2008).
Dalam profil dinas kesehatan disebutkan jumlah kasus DBD dalam 3 tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 ditemukan 93 kasus, tahun 2009 ditemukan 172 kasus, Pada tahun 2007 jumlah kematian akibat penyakit DBD ditemukan sebanyak 2 orang, attack rate 0,07%, CFR 0,55% dan pada tahun 2008 jumlah kematian ditemukan sebanyak 4 orang, attack rate 0,083% dan CFR 0,75%.Dari standar WHO, sebuah daerah dapat dikatakan baik penanganan kasus DBD bila nilai CFR-nya di bawah 1%. Jadi penanganan kasus DBD di Kota dapat dikatakan baik. (Profil Dinkes Kota , 2008).
Sesuai dengan indikator keberhasilan propinsi untuk angka kesakitan DBD per-100.000 penduduk adalah 5 (Dinkes Provinsi , 2008). Berdasarkan data penyebaran kasus DBD per desa dari Dinas Kesehatan Kota selama 3 tahun terakhir jumlah kasus DBD di Puskesmas terus mengalami peningkatan, mulai dari tahun 2007 ditemukan sebanyak 19 kasus, tahun 2008 sebanyak 25 kasus dan tahun 2009 ditemukan kasus DBD sebanyak 28 kasus. (Profil Puskesmas ) Wilayah kerja Puskesmas yang melayani 6 kelurahan merupakan daerah dengan jumlah kasus DBD terbanyak tiap tahunnya. Dari 6 kelurahan terdapat 3 kelurahan yang selama 3 tahun terakhir mengalami peningkatan jumlah kasus DBD nya yaitu Kelurahan Pulubala pada tahun 2006 ditemukan 1 kasus, tahun 2007 ditemukan 25 kasus, tahun 2008 ditemukan 22 kasus dan tahun 2009 ditemukan 14 kasus, kelurahan liluwo pada tahun 2006 ditemukan 1 kasus, tahun 2007 ditemukan 5 kasus, tahun 2008 ditemukan 19 kasus dan tahun 2009 ditemukan 45 kasus dan Kelurahan Wumialo tahun 2006 tidak ada kasus, tahun 2007 ditemukan 10 kasus, tahun 2008 ditemukan 32 kasus dan tahun 2009 ditemukan 37 kasus. (Profil Dinkes Kota , 2008).
Melihat jumlah kasus DBD 3 tahun terakhir di Puskesmas yang selalu meningkat, hal ini disebabkan karena lokasi rumah berdekatan dengan aliran limbah dan juga lokasi rumah yang terlalu berdekatan , lingkungan sekitar rumah yang dekat dengan kebun, masyarakat masih terlihat membuang sampah sembarangan, peran serta masyarakat dalam pelaksanaan PSN kurang, kurangnya penyuluhan tentang DBD.Sehingga dapat digambarkan bahwa perilaku masyarakat di wilayah kerja Puskesmas kurang memperhatikan kebersihan lingkungan dan belum melakukan pencegahan serta pemberantasan sarang nyamuk (PSNDBD) dengan mengendalikan nyamuk vektor Aedes aegypti.((Profil Puskesmas , 2008)
Dari beberapa faktor lingkungan yang ada di wilayah kerja Puskesmas peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai beberapa faktor lain yang berhubungan dengan kejadian DBD di wilayah kerja puskesmas yang meliputi keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer, kebiasaan menggantung pakaian, ketersediaan tutup pada kontainer dan pengetahuan responden tentang DBD, sehingga dapat membantu dalam menurunkan jumlah kesakitan dan kematian akibat penyakit DBD serta membantu masyarakat untuk lebih memperhatikan faktor-faktor apa saja yang bias menjadi penyebab penularan penyakit DBD.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah ada hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota ?
2. Apakah ada hubungan kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota ?
3. Apakah ada hubungan ketersediaan tutup pada kontainer dengan kejadian DBD di di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota
4. Apakah ada hubungan pengetahuan responden tentang DBD dengan kejadian DBD di di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota ?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui hubungan antara keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer dengan kejadian DBD di Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota
2. Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota
3. Untuk mengetahui hubungan antara ketersediaan tutup pada kontainer dengan kejadian DBD di Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota
4. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan responden tentang DBD dengan kejadian DBD di Puskesmas Kecamatan Kota Tengah Kota .

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Instansi Puskesmas dan Dinas Kesehatan
Sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam pemecahan masalah pada program kesehatan bidang penyakit menular, khususnya masalah pencegah penyakit DBD agar dapat dijadikan sebagai monitoring dan evaluasi program pemberantasan penyakit menular (P2M).
2. Bagi Masyarakat
Sebagai dasar pengetahuan dan pemikiran serta menjadi informasi dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD.
3. Bagi Peneliti lain
Menambah pengetahuan dan pengalaman khusus dalam melakukan penelitian ilmiah terhadap beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan kasus DBD.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.229

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Beberapa Faktor Risiko Kematian Perinatal di wilayah Kerja Puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional, diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan hidup sehat bagi dirinya sendiri dalam bidang kesehatan. Dalam visi pembangunan Indonesia sehat 2010 adalah agar masyarakat hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi – tingginya sehingga dirumuskan dalam Visi Indonesia Sehat 2010 (Prawiroharjo, 2002).
Dalam bidang kesehatan masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagai inti sentral pembangunan peranan bidan dalam proses pembangunan khususnya menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu dan kematian bayi sangat penting dipedesaan (Astina, 2001).
AKI di Indonesia masih cukup tinggi dan penurunannya masih sangat lambat, yaitu pada tahun 1992, AKI adalah 425 per 100.000 kelahiran hidup, menurun menjadi 384 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Masih sangat jauh dari Angka Kematian Ibu di negara Singapura dan Malaysia, yang tingkat kematiannya 5 dan 70 orang per seratus ribu kelahiran (Gloriant.org, 2000).
Di Sulawesi Selatan AKI pada tahun 1996 sebesar 170 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1997 sebesar 160 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1998 sebesar 192 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 1999 sebesar 176 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2000).
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia pun Masih sangat tinggi bahkan di seluruh dunia, pada tahun 2008 Indonesia menduduki rangking ke enam dengan angka sekitar 6 juta bayi yang mati. Akhir Oktober 2000 diperoleh data bahwa angka kematian bayi sampai umur 1 tahun berkisar 40/1000 kelahiran hidup atau sekitar 186.500 bayi tiap 2-3 menit sampai umur 1 tahun mengalami kematian. Penyebab langsung kematian bayi tersebut 30,3% diantaranya akibat gangguan pada masa baru lahir/perinatal (Widyakusuma, 2005).
Penelitian kematian perinatal dibeberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi kematian perinatal yaitu faktor ibu yang memperbesar risiko kematian perinatal (high risk mother). faktor ibu yang memperbesar risiko kematian perinatal adalah umur ibu yang melebihi 35 tahun atau kurang dari 20 tahun; paritas pertama atau lebih dari tiga kali; status gizi ibu pada saat hamil; status ekonomi dan pendidikan yang rendah; tinggi badan ibu; berat badan ibu; jarak kehamilan kurang dari 2 tahun; gangguan gizi; ibu dengan problema social misalnya perceraian, perkawinan lebih dari satu isteri atau perkawinan tidak sah (Alisyahbana, 2001).
Di negara-negara berkembang kematian ibu disebabkan oleh kehamilan dan persalinan yang terlantar dan kehamilan yang tidak diinginkan, dan terbanyak disebabkan oleh eklampsia, pendarahan, infeksi, keguguran kandungan oleh sikap percobaan abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak profesional, tetapi dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih termasuk di bidang kedokteran, persalinan ibu yang mengalami komplikasi dapat di bantu dengan operasi caesar dalam pelayanan obsestri selain angka kematian bayi terdapat juga angka kematian perinatal yang dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan pelayanan. Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur dengan tinggi rendahnya angka kematian perinatal dan angka kematian ibu dalam 100.000 persalinan hidup, sedangkan tingkat kesejahteraan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa jauh gerakan keluarga berencana dapat diterima masyarakat (Widyakusuma, 2005).
Penyebab utama kematian maternal antara lain pendarahan postpartum eklampsia, dan penyakit infeksi dan plasenta previa yang kesemuanya bersumber pada anemia defisiensi. Selain itu, hal yang memicu tingginya angka kematian bayi akibat adalah perilaku ibu hamil itu sendiri yang masih sangat kurang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Hal ini bisa dipicu oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah, keadaan ekonomi bahkan sosial budaya yang ada masing-masing daerah dimana ibu hamil itu tinggal (Damayanti, dkk, 2007).
Selain itu, faktor bayi yang mempertinggi angka kematian perinatal adalah bayi yang lahir dari kehamilan yang bersifat high risk; berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau lebih dari 4000 gram; bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu atau lebih dari 42 minggu.
Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan disuatu negara. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, yaitu sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab tidak langsung kematian ibu adalah penyakit yang mungkin telah terjadi sebelum kehamilan dan diperburuk oleh kehamilan ibu sendiri. Penyakit itu antara lain adalah anemia dan sebagainya. Untuk Indonesia, masih tinggi angka kematian bayi yakni berkisar sebanyak 67 % dari beberapa daerah yang menunjang menurunnya angka kelahiran pada daerah tersebut yakni contohnya di daerah Jogja, Aceh dan Semarang yakni berkisar sebanyak 65 % daerah yang angka kematian bayinya meningkat.
Di negara berkembang seperti Indonesia kemungkinan terjadinya infeksi pasca salin yang tinggi adalah pada kasus persalinan, karena pada umumnya di lakukan pada ibu dan anak dalam keadaan gawat darurat, seperti pada penelitian yang di lakukan oleh Linus tahun 1998, bahwa Rumah Bersalin Mariem, dari 39 kematian perinatal terdapat 30 kasus (76,9 %) dengan komplikasi antenatal, sehingga angka kesakitan ibu setelah persalinan lebih sering dan lebih berat di banding pasca persalinan pervagina (Prawirohardjo, 2006).
Angka kematian bayi di Provinsi berdasarkan data Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2008 sebesar 273/100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian tersebut antara lain karena asfiksia neonatorum dan infeksi (Profil kesehatan , 2008).
Mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan, maka menghindari persalinan adalah penting, untuk itu perlu diperhatikan secara saksama faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kematian bayi tersebut, sehingga dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut diharapkan ibu yang sedang hamil dan terutama yang memiliki risiko untuk persalinan dapat lebih menjaga dan memelihara kesehatan dirinya dan kandungannya melalui pelayanan kesehatan yang optimal.
Derajat kesehatan masyarakat ditunjang keberhasilannya oleh karena pengaruh adanya kematian dan kelahiran hidup. Angka kematian bayi dan angka kematian ibu merupakan indikator keberhasilan AKI dan AKB dalam suatu wilayah tertentu.
Jika dilihat berdasarkan profil puskesmas itu bahwa pada tahun – didapatkan jumlah kasus kematiaan perinatal pada tahun berjumlah 45 kasus atau bisa diperkirakan kira – kira sekitar 22 kasus pertahun (Puskesmas , ).
Tingginya angka kematian perinatal mempunyai dampak yang besar dalam suatu negara mengingat angka kematian bayi merupakan indikator utama derajat kesehatan masyarakat, maka penelitian ini akan membahas tentang beberapa faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten tahun .

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang permasalahan, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah umur ibu merupakan faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
2. Apakah paritas merupakan faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
3. Apakah berat badan lahir merupakan faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
4. Apakah status gizi ibu berdasarkan LILA merupakan faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?
5. Apakah antenatal care merupakan faktor risiko kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian kematian perinatal di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten tahun .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui berapa besar risiko umur ibu terhadap kejadian kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun
b. Untuk mengetahui berapa besar risiko paritas terhadap kejadian kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun
c. Untuk mengetahui berapa besar risiko berat badan bayi terhadap kejadian kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun
d. Untuk mengetahui berapa besar risiko status gizi ibu berdasarkan LILA terhadap kejadian kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun
e. Untuk mengetahui berapa besar risiko Antenatal Care (ANC) terhadap kejadian kematian perinatal di Puskesmas Kabupaten Tahun

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini sebagai sumber informasi bagi Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka penentuan arah kebijakan dan pengembangan program penyuluhan/promosi kesehatan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) pada masa mendatang dan bagi Puskesmas Kabupaten merupakan informasi yang berharga dalam perbaikan pelayanan.
2. Manfaat Keilmuan
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu bahan bacaan bagi peneliti berikutnya.
3. Manfaat bagi peneliti
Merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti dalam memperluas wawasan dan pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan Kematian perinatal melalui penelitian lapangan.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.228

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Analisis Beberapa Faktor Risiko Terjadinya Diabetes Mellitus Pada RSUD

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Perkembangan sebagai integral pembangunan nasional yang di lakukan secara relasi dengan pembangunan di sector lain,upaya tersebut merupakan teka bangsa Indonesia untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal menuju Indonesia sehat.
Derajat kesehatan di Indonesia mulai meningkat yang di tandai berkurangnya kejadian berbagai penyakit menular serta peningkatan umur harapan hidup, namun perubahan tingkat kesehatan juga memicu transisi Epidemiologi penyakit yakni bertambahnya penyakit degeneratif dan metabolic termasuk di dalamnya penyakit Diabetes Mellitus.Kecenderungan itu juga di pengaruhi oleh perubahannya gaya hidup akibat urbanisasi, moderisasi dan globalisasi. Transmisi demografi berubah peningkatan proporsi kelompok usia lanjut juga berklaborasi dengan berbagai penyakit degeneratif dan metabolic.
World Health Organization (WHO ) memperkirakan bahwa 177 juta penduduk dunia mengidap Diabetes.Jumlah ini akan meningkat hingga melebihi 300 juta pada tahun 2025.Diabetes juga termasuk dalam daftar penyakit asia.Tahun 2003 di perkirakan 89 juta penduduk asia menderita Diabetes.Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada tahun 2000 Indonesia menempati peringkat ke 4 setelah Amerika Serikat dengan jumlah penderita 8400 dan di perkirakan kasus akan meningkat pada tahun 2030 dengan jumlah penderita 21300 penderita.
Berdasarkan kriteria Amerika Diabetes Association ( ADA ) sekitar 10.2 juta orang amerika Serikat menderita DM dan yang tidak terdiagnosa sekitar 5,4 juta.Dengan demikian di perkirakan lebih dari 15 juta orang di AS menderita DM.Sementara itu di Indonesia prevalensi DM sebesar 1,5-2,3 % penduduk usia >15 tahun. tahun.
Sementara di RSUD kabupaten .diperoleh data penderita DM pada tahun jumlah penderita sebanyak 413 orang. Pada tahun sebanyak 1178 orang. Pada tahun sebanyak 749 orang penderita DM. Sedangkan prevalensi DM dari bulan januari s/d oktober 2011 terdapat 800 penderita.
Berdasarkan data yang di peroleh dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan jumlah penderita DM. Dengan melihat peningkatan kasus tersebut perlu dilakukan penelitian mengenai factor risiko terjadinya Diabetes Mellitus.

B. Rumusan Masalah
Dari beberapa factor risiko terjadinya Diabetes Mellitus maka perumusan masalah sebagai berikut.
1. Apakah Jenis kelamin sebagai factor risiko terjadinya diabetes mellitus
2. Apakah keturunan sebagai faktor risiko terjadinya Diabetes Mellitus
3. Apakah Perubahan gaya hidup sebagai faktor terjadinya DM

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor risiko terjadinya Diabetes Mellitus
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui risiko jenis kelamin terhadap kejadian hipertensi
b. Untuk mengetahui risiko keturunan terhadap kejadian Diabetes Mellitus
c. Untuk mengetahui risiko Perubahan gaya hidup terhadap kejadian diabetes mellitus

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang di harapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat alamiah
Hasil penelitia ini di harapkan sebagai sumbangan ilmiah dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat
2. Manfaat Institusi
Hasil penelitia ini di harapkan menjadi salah satu bahan informasi dan masukan bagi pengelola bagi RS serta instansi terkait untuk mengetahui faktor-faktor risiko lain terhadap kejadian Diabetes Mellitus
3. Manfaat peneliti
Hasil penelitian ini merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam memperluas wawasan keilmuan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.227

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara Rooming In Dengan Kemandirian Ibu Dalam Menyusui Bayinya

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta kualitas hidup yang ditandai dengan meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH), menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI), menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) serta meningkatnya kesejahteraan keluarga dan masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, AKI di Indonesia berada pada angka 248/100.000 kelahiran hidup dan AKB masih berada pada kisaran 34/1.000 kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007, AKI dan AKB di Jawa Barat masih berada pada level yang cukup tinggi. Hingga saat ini, AKI di Jawa Barat 250 per 100.000 kelahiran dan AKB di Jawa Barat sebesar 40,26 per 1.000 kelahiran hidup (Badan Pusat Statistik, 2007).
AKI di Kabupaten pada tahun sebesar 199,62 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 19,30 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kabupaten , ).
Menurut Lubis (2003), tingginya Angka Kematian Bayi di Indonesia maupun di dunia sebenarnya dapat diminimalisir dengan salah satunya melakukan rawat gabung (Rooming In).
Rawat gabung merupakan satu cara perawatan ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan, kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya agar bayi segera mendapatkan kolostrum atau air susu ibu (Maryunani A, 2009:107-108).
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan paling ideal bagi bayi. Rooming in akan membantu memperlancar pemberian asi, karena dalam tubuh ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada keadaan emosi ibu. Jika ibu mandiri bisa tenang dan bahagia karena dapat mendekap bayinya, maka hormon ini akan meningkat dan asi pun cepat keluar sehingga bayi lebih puas mendapatkan air susu ibu (Mappiwali, 2008:3).
Berdasarkan survey pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti di RSUD Kabupaten didapatkan data-data ibu nifas normal yang dilakukan rooming in pada tahun 2008 yaitu berjumlah 200 orang (18,08%) dari 1.106 orang, sementara pada tahun berjumlah 284 orang (33,02%) dari 860 orang, jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008. Sementara dari hasil survey pendahuluan yang dilakukan penulis terhadap 10 ibu nifas di RSUD Kabupaten terdapat 3 (30%) ibu nifas yang mandiri dalam memberikan asi pada bayinya, masih sangat rendah. Salah satu indikator kemandirian ibu dalam memberikan asi pada bayinya adalah ibu dapat memberikan asi pada bayi sesuai dengan petunjuk petugas kesehatan. Peningkatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ibu dalam menyusui bayinya, karena salah satu faktor keberhasilan dalam menyusui adalah komitmen ibu untuk menyusui bayinya (Manuaba,1998).
Berdasarkan paparan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang "Hubungan antara Rooming In dengan Kemandirian Ibu dalam Menyusui Bayinya di RSUD Tahun periode Maret-Mei ”.

1.2 Rumusan Masalah
Rooming in akan membantu memperlancar pemberian asi. Karena dalam tubuh ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada keadaan emosi ibu. Kemandirian ibu dalam upaya mendekap bayinya dalam rooming dapat meningkatkan asi dan cepat keluar. Dari hasil survey yang dilakukan penulis terhadap 10 ibu nifas di RSUD Kabupaten terdapat 3 (30%) ibu nifas yang mandiri dalam memberikan asi pada bayinya. Kemandirian ibu dalam memberikan asi pada bayinya dapat dilaksanakan dengan baik jika ibu dan bayi dilakukan rooming in.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara Rooming In dengan kemandirian ibu dalam menyusui bayinya di RSUD Tahun periode Maret-Mei .
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran rooming in di RSUD periode Maret- Mei Tahun .
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran kemandirian ibu dalam menyusui bayinya di RSUD periode Maret- Mei Tahun .
1.3.2.3 Diketahuinya hubungan antara rooming in dengan kemandirian ibu dalam menyusui bayinya di RSUD periode Maret- Mei Tahun .


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dari pendidikan serta memberikan pengalaman dalam menerapkan ilmu yang didapat dari pendidikan ke dalam kondisi di lapangan.
1.4.2 Bagi Pendidikan/Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan dalam melakukan penelitian berikutnya.
1.4.3 Bagi Rumah Sakit
Hasiil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai data perbandingan yang bisa digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dalam rooming in.
1.4.4 Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sebagai wawasan dan motivasi agar masyarakat dapat memperhatikan pentingnya pelaksanaan rawat gabung sehingga melatih kemandirian ibu dalam menyusui bayinya.

1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi untuk mengetahui hubungan rooming in dengan dengan kemandirian ibu dalam menyusui bayinya di RSUD Periode Maret-Mei Tahun . Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas yaitu rooming in, sedangkan variabel terikatnya yaitu kemandirian ibu.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.226

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat membentuk SDM yang sehat, cerdas dan produktif.
Djuanda (2009) menuturkan pembangunan nasional dalam bidang kesehatan khususnya yang terkait dengan kesehatan balita adalah menurunkan angka kematian bayi dan angka kematian balita. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKBAL) merupakan indikator sensitif yang berkaitan dengan ketersediaan, pemanfaatan, dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan anak.
Menurut data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKB di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 34/1000 Kelahiran Hidup sedangkan AKBAL pada tahun 2007 sebesar 44/1000 Kelahiran Hidup. Bila dibandingkan dengan data SDKI tahun 2003 yaitu AKB sebesar 35/1000 Kelahiran Hidup dan AKBAL sebesar 46/1000 Kelahiran Hidup, berarti telah terjadi penurunan dalam kurun 5 tahun (2003-2009) namun penurunannya sangat kecil (Wijaya, 2009).
Harismayana (2009) mengatakan bahwa setelah diteliti lebih mendalam ternyata faktor penyebab utama terjadinya kematian pada bayi baru lahir dan balita adalah penurunan angka pemberian air susu ibu eksklusif atau ASI Eksklusif.
Siregar (2004) menuturkan ASI selalu merupakan makanan terbaik untuk bayi walaupun ibu sedang sakit, hamil, haid atau kurang gizi. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan usia sekitar enam bulan pertama kehidupan, dianjurkan agar pada masa ini bayi hanya diberikan ASI.
Rahmawati (2005) dan Harismayana (2009) menuturkan air susu ibu merupakan nutrisi terbaik pada awal usia kehidupan bayi. Air susu ibu ibarat emas yang diberikan gratis oleh Tuhan karena air susu ibu adalah cairan hidup yang dapat menyesuaikan kandungan zatnya yang dapat memenuhi kebutuhan bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Rahayuningsih (2005) menuturkan bahwa untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pemberian ASI harus benar dan tepat. Praktek pemberian ASI yang tepat dan sesuai dengan perkembangan fisiologis bayi adalah dengan pemberian ASI Aksklusif pada bayi sampai usia 4 bulan dan yang paling bagus sampai 6 bulan.
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dalam Media Indonesia (2008) menunjukkan penurunan jumlah bayi yang mendapat ASI Eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula dari 16,7% pada tahun 2002 dan menjadi 27,9% pada tahun 2007. Sementara The United Nations Children's Fund (UNICEF) dalam Nuryati (2008) menyimpulkan cakupan ASI Eksklusif 6 bulan di Indonesia masih jauh dari rata-rata dunia yaitu 38%.
Berdasarkan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2008, cakupan ASI Eksklusif di Jawa Barat mencapai 42,35% (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2008). Suganda (2009) mengemukakan jumlah balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2009 sebesar 3.817.303 dengan persentase balita yang disusui lebih dari 24 bulan sebesar 34,12%, 12-23 bulan sebesar 39,80 dan kurang dari 12 bulan sebesar 26,08%.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten , cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten pada tahun masih rendah yaitu sebesar 29,77%. Cakupan ASI Eksklusif tertinggi di Kabupaten pada tahun yaitu Puskesmas Banjaran sebesar 293 bayi (84,7%) yang diberi ASI Eksklusif dengan jumlah bayi sebesar 346 bayi dan cakupan ASI Eksklusif terendah di Puskesmas sebesar 14 bayi (3,3%) yang diberi ASI Eksklusif dengan jumlah bayi sebesar 419 bayi.
Cakupan ASI Eksklusif masing-masing puskesmas di Kabupaten tahun adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1 Cakupan ASI Eksklusif Masing-masing Puskesmas di Kabupaten Tahun
NO Nama Puskesmas Jumlah Bayi Pemberian ASI Eksklusif Persentase
(%)
1. 313 111 35,5
2. 664 156 23,5
3. 346 293 84,7
4. 864 278 32,2
5. 574 237 41,3
6. 669 195 29,1
7. 568 79 13,9
8. 728 88 12,1
9. 422 214 50,7
10. 800 633 13,0
11. 756 147 19,4
12. 419 14 3,3
13. 1006 633 62,9
14. 1059 454 42,9
15. 722 298 41,3
16. 656 134 20,4
17. 826 497 60,2
18. 588 28 4,8
19. 830 206 24,8
20. 300 234 78,0
21. 377 177 46,9
22. 511 190 39,5
23. 598 190 31,8
24. 401 112 27,9
25. 533 72 13,5
26. 502 400 79,7
27. 357 34 9,5
28. 1034 141 13,6
29. 779 313 40,2
30. 817 378 46,3
19.019 6.419 33,8
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun
Adapun cakupan ASI Eksklusif untuk masing-masing desa di Puskesmas adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2 Cakupan ASI Eksklusif Masing-masing Desa di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Tahun
NO Nama Desa Jumlah Bayi Pemberian
ASI Eksklusif Persentase
(%)
1. 84 4 4,7
2. 37 2 5,5
3. 87 5 5,7
4. 44 1 2,2
5. 78 3 3,8
6. 56 3 5,3
7. 49 3 6,1
Jumlah 435 21 4,8
Sumber : Puskesmas Tahun
Siregar (2004) dan Widowati (2009) yang mengemukakan bahwa salah satu kondisi yang menyebabkan pemberian ASI Eksklusif rendah adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat di bidang kesehatan, khususnya ibu-ibu yang mempunyai bayi dan tidak menyusui bayi secara eksklusif.
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 900 ibu di sekitar JABOTABEK (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) diperoleh fakta bahwa yang dapat memberi ASI Eksklusif selama 4 bulan hanya 5%, padahal 98% ibu-ibu tersebut menyusui. Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 37,9% dari ibu-ibu tersebut tidak pernah mendapatkan informasi khusus tentang ASI, sedangkan 70,4% ibu tidak pernah mendengar informasi tentang ASI eksklusif (Roesli, 2000).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayunigsih (2005) menyatakan bahwa ada hubungan yang kuat antara pengetahuan ibu tentang ASI dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Hubungan antara pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian ASI Eksklusif menunjukan tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang mempengaruhi prakteknya sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Green, bahwa pengetahuan seseorang merupakan faktor predisposisi untuk bertindak.
Pemberian ASI Eksklusif merupakan salah satu bentuk perilaku kesehatan masyarakat. Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003) perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu; 1) Faktor predisposisi, seperti pengetahuan, individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial, dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat, 2) Faktor pendukung, seperti tersedianya sarana pelayanan kesehatan dan kemudahan untuk mencapainya, 3) Faktor-faktor pendorong, seperti sikap dan perilaku petugas kesehatan.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan penulis di tempat penelitian dari 10 responden sebagian besar responden tidak memberikan ASI Eksklusif (6 orang) kepada bayinya sampai usia 6 bulan. Banyaknya jumlah responden yang tidak memberikan ASI Eksklusif disebabkan responden memang benar-benar tidak tahu arti pentingnya ASI Eksklusif bagi kesehatan bayi. Ketidaktahuan ibu tentang ASI Eksklusif menyebabkan ibu lebih memilih susu formula bagi bayinya. Melihat fenomena tersebut maka perlu upaya meningkatkan promosi keshatan tentang pemberian ASI Eksklusif oleh petugas kesehatan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas tahun ”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan pada latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas ?”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas tahun .
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas tahun .
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas tahun .
1.3.2.3 Diketahuinya hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas tahun .


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat bagi Peneliti
Sebagai wawasan dan pengetahuan mengenai hubungan pengetahuan ASI Eksklusif dengan pemberian ASI Eksklusif, sehingga mahasiswa keperawatan dapat memahami fenomena yang berkembang di masyarakat mengenai faktor yang menyebabkan rendahnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan, serta menjadi bahan masukan bagi peneliti lain yang mengambil tema penelitian yang sama.
1.4.2 Manfaat bagi Institusi
Sebagai masukan khususnya bagi di UPTD Puskesmas dalam memberikan kegiatan pendidikan kesehatan atau penyuluhan terhadap masyarakat mengenai ASI Eksklusif sehingga upaya peningkatan jumlah ibu yang memberikan ASI Eksklusif pada bayi baru lahir dapat meningkat dari tahun ke tahun dan semakin banyak pula ibu bayi memahami pentingnya ASI Eksklusif diberikan pada bayi selama 6 bulan.
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat
Sebagai informasi dan motivasi khususnya bagi ibu yang memiliki bayi baru lahir agar dapat memberikan ASI Eksklusifnya pada sang bayi agar kebutuhan ASI-nya terpenuhi minimal sampai usia 6 bulan, dan ibu bayi memahami secara tepat tentang pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan.

1.5 Definisi Konseptual dan Operasional
1.5.1 Definisi Konseptual
1.5.1.1 Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2003).
1.5.1.2 Pemberian ASI Eksklusif adalah pemberian ASI, tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk , madu, air teh, bahkan air putih dan juga makanan padat lain seperti; pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur tim, dan lain-lain untuk jangka waktu minimal empat bulan dan akan lebih baik lagi apabila diberikan sampai bayi berusia enam bulan (Roesli, 2001).


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.225

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara Pengetahuan Akseptor KB Pil Dengan Kepatuhan Akseptor Dalam Mengkomsumsi Pil KB

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam paradigma baru progam keluarga berencana ini misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi sebagai upaya intergral dalam meningkatkan kualitas keluarga dalam hal ini dijabarkan sebagai berikut: memberdayakan masyarakat untuk membangun keluarga kecil berkualitas, menggalang kemitraan dalam meningkatkan kesejahteraan, kemandirian dan ketahanan keluarga, meningkatkan dan upaya mewujudkan hak-hak reproduksi, meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan untuk untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui progam keluarga berencana, dan mempersiapakan sumber daya manusia berkualitas sejak pembuahan dalam kandungan sampai dengan lanjut usia (Saifuddin, BA, 2003 : 16).
Banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya terbatasnya metode yang tersedia tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut. Berbagai potensi, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan (Saifuddin, BA, 2003 : 34).
Sesuai dengan keterangan di atas, maka prioritas pertama kontrasepsi yang disarankan adalah pil KB, karena pil KB termasuk metode yang efektif untuk mencegah kehamilan dan salah satu metode yang paling disukai karena kesuburan langsung kembali bila penggunaan dihentikan, serta pil KB dapat mengurangi resiko infertilitas primer hingga 40%. Ada 2 macam kontrasepsi pil, yaitu: pil kombinasi dan pil progestin. Mengingat kerja kontrasepsi oral yang multipel sulit untuk memahami bagaimana kelalaian tidak mengkonsumsi satu atau dua pil dapat menyebabkan kehamilan (Iswarawati, S.U. 2009).
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2008 - 2009 tingkat pengetahuan kontrasepsi terdiri dari suntik 46,1%; pil 21,9%; IUD 10,3%; susuk 7,1%; tubektomi 3,70%; vasektomi 0,40%. Dan pemakaian alat kontrasepsi aktif di pada tahun 2003 adalah KB suntik sebesar 64,60%; KB pil 17,20%; IUD 8,30%; KB susuk 5,20%; MOW 3,80%; MOP 0,20%; lain-lain 0,70%; (Iswarawati. S.U, 2009).
Kelebihan pil kombinasi, antara lain: efektifitasnya tinggi, frekuensi koitus tidak perlu diatur, siklus haid menjadi teratur, dan keluhan-keluhan disminore yang primer menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Sedangkan, kekurangan dari pil kombinasi antara lain: pil harus diminum setiap hari, motivasi harus kuat, dan adanya efek samping walaupun sifatnya sementara, misalkan mual, sakit kepala, muntah, buah dada nyeri, dan lain-lain (Prawirohardjo. S, 1999: 56).
Walaupun banyaknya efek samping yang ditimbulkan oleh kontrasepsi pil, ternyata masih banyak akseptor KB yang memilih kontrasepsi pil. Data yang diperoleh dari BPS Ny. Desa – didapatkan jumlah akseptor KB pada bulan April – Mei tahun 2009 sebanyak 159 akseptor dengan data sebagai berikut: KB pil 19,49%; KB suntik 78,61%; KB implant 0,62%; KB IUD 1,26%.
Kegagalan kontrasepsi pil ini akibat dari ketidaksiplinan akseptor, pengetahuan akseptor KB pil yang berpengetahuan baik dengan kepatuhan akseptor dalam mengkomsumsi pil KB yang patuh ada 80%, sedangkan yang tidak patuh ada 20% berdasarkan data primer tahun 2008 BPS Ny. Desa - . Solusi dari kegagalan adalah informasi yang efektif hal ini sebagai satu cara untuk memperbaiki kepatuhan akseptor, informasi tersebut antara lain: dijelaskan bagaimana kontrasepsi oral bekerja, diperlihatkan, dan ditunjukkan kepada pasien kemasan pil yang akan digunakan, dan diberitahu bagaimana cara mengkonsumsi pil, jelaskan efek samping yang mungkin terjadi, meminta pasien mengulangi informasi yang penting, untuk menyakinkan bahwa ia mengerti apa yang telah dibicarakan (Speroff. L & Darney. P, 2003: 76).
Dari latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan akseptor KB pil dengan kepatuhan akseptor dalam mengkonsumsi pil KB.

Pembatasan dan Rumusan Masalah
“Apakah ada hubungan antara pengetahuan akseptor KB pil dengan kepatuhan akseptor dalam mengkomsumsi pil KB?”. Di BPS Desa Kecamatan Kabupaten .


Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Menganalisis hubungan antara pengetahuan akseptor KB pil dengan kepatuhan akseptor dalam mengkonsumsi pil KB di BPS Ny. Desa Kecamatan Kabupaten .
Tujuan Khusus
Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan umur.
Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan pendidikan.
Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan paritas.
Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan pekerjaan.
Mengidentifikasi seberapa besar pengetahuan akseptor KB pil dan kepatuhan dalam mengkonsumsi pil KB.

Manfaat Penelitian
Secara Teoritis
Sangat bermanfaat untuk mengetahui secara spesifik mengenai pengetahuan akseptor KB pil dengan kepatuhan dalam mengkonsumsi pil KB.
2. Praktisi
Meningkatkan kwalitas pengetahuan kesehatan khususnya tentang kontarasepsi KB pil.
3. Bagi peniliti
Menabah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ilmu pada bidang Asuhan kebidanan kontrasepsi KB pil.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.224

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara Pendampingan Suami Pada Saat Persalinan Dengan Kelancaran Proses Persalinan Kala I

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan menuju “Indonesia Sehat 2010” mengisyaratkan bahwa seluruh pembangunan kesehatan bangsa ditujukan kepada upaya menyehatkan bangsa. Indikator keberhasilan penyehatan bangsa antara lain adalah angka mortalitas dan morbilitas (Manuaba, 2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan barometer pelayanan kesehatan suatu negara. Berdasarkan pengamatan World Health Organization (WHO), AKI adalah sebesar 500.000 jiwa dan AKB sebesar 10.000.000 jiwa setiap tahunnya. Jumlah tersebut sebenarnya masih diragukan karena besar kemungkinan kematian ibu dan bayi yang tidak dilaporkan (Prawirohardjo, 2002).
Kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan, antara lain ditandai dengan masih tingginya AKI dan AKB. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 di Indonesia AKI mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB mencapai 34 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh dari target yang harus dicapai dalam Millenium Development Goals (MDG’s) 2015 yaitu untuk AKI sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup dan untuk AKB sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup (Sulistyo, 2009).
Penyebab utama kematian ibu di Indonesia menurut Departemen Kesehatan RI (2003) adalah perdarahan, infeksi, eklampsia, partus lama dan komplikasi abortus. Sementara penyebab utama kematian pada bayi yaitu infeksi saluran pernapasan, komplikasi perinatal dan diare.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat tahun 2007, AKI di Jawa Barat sebesar 250 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 40,26 per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2007).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten tahun , AKI di Kabupaten mencapai 148,36 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB di Kabupaten mencapai 27,44 per 1000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kabupaten , ).
Pada tahun 2009 AKI di Kabupaten mengalami kenaikan menjadi 199,46 per 100.000 kelahiran hidup, dengan penyebabnya adalah perdarahan 11 kasus, hipertensi dalam kehamilan 9 kasus, infeksi 2 kasus, dan lain-lain 20 kasus. Sementara AKB di Kabupaten tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 19,28 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian bayi diantaranya adalah BBLR 92 kasus, asfiksia 43 kasus, kelainan konginetal 24 kasus, infeksi 20 kasus, pneumonia 15 kasus, aspirasi 10 kasus, diare 1 kasus dan lain-lain 50 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten , 2009). Melihat penyebab kematian baik pada ibu maupun pada bayi sesungguhnya hal ini dapat dicegah atau ditanggulangi, salah satunya dengan pelayanan kesehatan yang memenuhi standar pada saat ibu bersalin.
Persalinan merupakan tugas berat yang harus dilakukan oleh seorang ibu hamil. Mudah atau sulitnya suatu proses persalinan tergantung oleh banyak faktor, salah satunya adalah dukungan yang cukup dari pihak suami dan keluarga, serta adanya perasaan nyaman saat melahirkan (Susilawati, 2009).
Kebutuhan dasar selama persalinan tidak terlepas dengan asuhan yang diberikan bidan. Asuhan kebidanan yang diberikan, hendaknya asuhan yang sayang ibu dan bayi. Salah satu upaya penerapan asuhan sayang ibu selama proses persalinan adalah menganjurkan suami dan keluarga untuk mendampingi ibu dan mendukung ibu selama proses persalinan dan kelahiran bayi (Pusdiknakes, 2003).
Persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Tahapan persalinan diawali dengan kala I yaitu kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap (10 cm). Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan Kurve Friedmen, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam (Bonny dan Meilasari, 2008).
Menurut Nursalam (2008) keterlambatan pembukaan pada kala I sering ditemukan pada proses persalinan. Percepatan kala I merupakan unsur utama dalam proses persalinan pada ibu inpartu. Keterlambatan dalam pembukaan merupakan ancaman bagi nyawa ibu maupun bayinya. Wanita yang mengalami keterlambatan pembukaan pada kala I berdampak juga terhadap psikologisnya. Beberapa sumber telah menetapkan bahwa kehadiran suami berpengaruh terhadap percepatan kala I.
Penelitian yang dilakukan oleh Khoiruddin dalam Susilawati (2009) mengungkapkan bahwa terdapat 13,6% ibu mengalami keguguran dan 4,6% mengalami proses persalinan yang sulit. Hal ini dikarenakan ibu mengalami cemas berat saat persalinan.
Penelitian yang dilakukan oleh Handonowati (2009) dan Puspitasari (2009) pendampingan suami berpengaruh terhadap kelancaran proses persalinan. Respon psikologis pada ibu bersalin yaitu kecemasan yang disebabkan adanya nyeri selama persalinan dan dapat mengakibatkan persalinan berlangsung lama. Kecemasan dan nyeri pada ibu bersalin membutuhkan dukungan dari suami selama persalinan untuk memberikan rasa aman dan nyaman.
Berdasarkan data Puskesmas tahun , jumlah persalinan di Puskesmas sebanyak 1.038 dengan jumlah ibu bersalin resiko tinggi sebesar 226 (21,77%) dan jumlah ibu bersalin yang dirujuk sebesar 78 (7,5%) (Puskesmas , ). Melihat data tersebut Puskesmas merupakan puskesmas yang perlu mendapatkan penanganan yang baik pada ibu bersalin.
Berdasarkan data Bidan Praktek Swasta (BPS) Hj. Desa Kecamatan tahun , terdapat 175 kelahiran hidup dengan jenis persalinan 12 (6,85%) sectio caesarea, 5 (2,85%) vakum ekstraksi dan 158 (90,28%) persalinan spontan. Adapun jumlah ibu bersalin yang dirujuk karena adanya penyulit dan lamanya pembukaan pada kala I (lebih dari 24 jam) terdapat 17 ibu bersalin dengan jumlah suami yang mendampingi terdapat 7 (41,17%) orang.
Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara pendampingan suami pada saat persalinan dengan kelancaran proses persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April-Juni tahun ”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan penelitian ini adalah belum diketahuinya hubungan pendampingan suami dengan kelancaran proses persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April – Juni tahun . Sehingga yang menjadi pertanyaan peneliti adalah “Apakah ada hubungan antara pendampingan suami dengan kelancaran proses persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April – Juni tahun ?”.

1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada masalah kelancaran proses persalinan kala I dilihat dari pendampingan persalinan. Variabel independen dalam penelitian yaitu pendampingan suami pada saat persalinan dan variabel dependennya yaitu kelancaran proses persalinan kala I. Penelitian ini secara langsung akan meneliti pendampingan persalinan dan kelancaran proses persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April-Juni tahun .

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan antara pendampingan suami pada saat persalinan dengan kelancaran proses persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April-Juni tahun .
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran pendampingan suami saat proses persalinan kala I di BPS Desa - Kabupaten periode April-Juni tahun .
1.4.1.2 Diketahuinya gambaran kelancaran persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April-Juni tahun .
1.4.1.3 Diketahuinya hubungan antara pendampingan suami dengan kelancaran persalinan kala I di BPS Hj. Desa - Kabupaten periode April-Juni tahun .

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi perpustakaan dan mahasiswa kebidanan khususnya mengenai hubungan pendampingan suami saat persalinan dengan kelancaran persalinan kala I.
1.5.2 Bagi Tempat Penelitian
Dapat memberikan gambaran secara objektif bagi bidan tentang hubungan pendampingan suami dengan kelancaran proses kala I sehingga menjadi pedoman dalam memberikan penyuluhan kepada suami saat pendampingan saat persalinan.
1.5.3 Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman dalam menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam kondisi nyata di lapangan dalam asuhan kebidanan pada ibu bersalin.
1.5.4 Bagi Masyarakat
Memberikan masukan dan motivasi bagi ibu bersalin dan keluarganya terutama suami sebagai pendamping ibu saat bersalin agar dapat memberikan dukungan pada ibu saat bersalin sehingga proses yang dilalui ibu dapat berlangsung dengan lancar.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.223

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara Jenis Persalinan Dengan Kejadian Asfiksia

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pembangunan bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Anonim, 1992).
Keberhasilan pembangunan bidang kesehatan salah satunya dapat dinilai dari indikator derajat kesehatan masyarakat antara lain Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Masalah kematian ibu dan bayi di Indonesia merupakan masalah yang harus mendapat perhatian lebih dan serius. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang masih tinggi telah mengundang perhatian dan hal ini menjadi penomena dibanyak negara berkembang. Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan millenium. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2002-2003. Angka kematian Bayi (AKB) di Indonesia mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2005).
Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat pada tahun Angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Barat masih berada pada level yang sangat tinggi. Hingga saat ini, AKB di Jawa Barat masih di atas 40 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten pada tahun jumlah kematian bayi di Kabupaten sebanyak 241 bayi dari 20924 bayi yang lahir. Penyebab kematian bayi adalah terbesar pertama adalah BBLR yaitu 123 bayi (51 %) dan ke dua adalah Asfiksia yaitu 69 bayi (28,63 %) dari 241 bayi yang meninggal.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor resiko terjadinya Asfiksia ini salah satunya karena jenis persalinan. Pada tahun 2005 pernah dilakukan penelitian di RS Putri Surabaya terdapat 39 bayi yang Asfiksia terjadi akibat jenis persalinan. Pada tahun dilakukan penelitian di RS. Sardjito, terdapat 67 bayi yang Asfiksia terjadi akibat jenis persalinan. (Wikandari, 2008, http://www.obgyn.ugm.com).
Menurut Data Rekam Medik di RSUD tahun jumlah seluruh bayi baru lahir tahun yang dirawat di Ruang Perinatologi yaitu 1077 bayi. Ada 180 bayi yang Asfiksia di RSUD pada tahun Sedangkan seluruh Angka Kematian Bayi tahun di RSUD adalah 102 bayi.
Terdapat beberapa jenis persalinan, baik persalinan secara normal maupun persalinan secara patologis. Data dari hasil studi pendahuluan di RSUD bulan Januari - Desember tahun , terdapat 301 kasus persalinan secara normal dan 510 kasus persalinan secara patologis dari 811 Ibu yang melahirkan di RSUD Jumlah kelahiran hidup adalah 1053 kasus dan jumlah kelahiran mati adalah 24 kasus.
Sedangkan Data Rekam Medik di RSUD bulan Januari – Desember tahun 2008, jumlah bayi yang dirawat di Ruang Perinatologi adalah 1105 bayi. Dan angka kejadian Asfiksia yaitu 116 bayi.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah pokok yang diuraikan dalam latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut yaitu belum diketahuinya hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia di RSUD Kabupaten tahun
Bertitik tolak dari rumusan di atas, maka pertanyaan peneliti adalah apakah ada hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia di RSUD Kabupaten tahun

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten tahun
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran jenis persalinan di RSUD Kabupaten tahun
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran kejadian Asfiksia di RSUD Kabupaten tahun
1.3.2.3 Diketahui hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia di RSUD Kabupaten tahun

1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah secara khusus akan meneliti tentang hubungan jenis persalinan sebagai variabel bebas dan kejadian asfiksia sebagai variabel terikat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten tahun

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Untuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam melaksaanakan penelitian selanjutnya.
1.5.2 Manfaat Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat mengetahui hubungan jenis persalinan dengan kejadian asfiksia. Sehingga dapat mengantisipasi kejadian asfiksia akibat persalinan.
1.5.3 Manfaat Bagi Penulis
Sebagai aplikasi ilmu yang didapat dipendidikan dengan kondisi nyata dilapangan. Untuk menambah wawasan pola pikir, pengalaman dengan meningkatkan pengetahuan tentang hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.222

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Hubungan Antara BBLR Dengan Terjadinya Asfiksia

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Kesehatan No.29, 2004 bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Dalam upaya mencapai visi dan misi pemerintah daerah Kabupaten dengan melihat permasalahan dan pencapaian IPM khususnya sektor kesehatan, maka dibutuhkan masyarakat yang sehat dan memiliki kemampuan serta akses terhadap semua program pembangunan termasuk pembangunan kesehatan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), melalui pembangunan kesehatan Kabupaten diformulasikan dalam Visi Dinas Kesehatan Kabupaten yaitu “ SEHAT 2OO8 ” (Dinas Kesehatan Kabupaten , 2006 : 4).
Dengan visi Sehat tidak berarti bahwa pada tahun tidak ada lagi penduduk yang sakit, namun diartikan pada tahun diharapkan setiap penduduk/orang di Kabupaten sudah memiliki keterjangkauan/aksebilitas terhadap pelayanan kesehatan serta keterjangkauan terhadap berbagai peluang untuk mengembangkan kemampuan hidup sehat melalui kesadaran berperilaku hidup sehat (Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2006 : 5).
Di Indonesia Angka Kematian Baru Lahir (AKBBL) saat ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan millennium. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002 – 2003, jadi Angka Kematian Bayi Baru Lahir (AKBBL) di Indonesia mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup atau dua kali lebih besar dari target WHO sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup.
Menurut Menteri Kesehatan 2007, berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia diantaranya asfiksia 27%, BBLR 29%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologik 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Propinsi Jawa Barat masih tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional yaitu 321,15 per 100.000 kelahiran hidup (BPS, 2003). Penyebab langsung kematian bayi adalah asfiksia, komplikasi pada bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan infeksi. Penyebab tidak langsung AKB adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri (Retnasih, 2005).
Di Kabupaten Angka Kematian Bayi (AKB) tahun adalah 41,25 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini masih diatas target dalam indikator Sehat Tahun , yakni < 35 per 1000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kabupaten , ). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten pada tahun jumlah kematian bayi di Kabupaten sebanyak 346 kasus. Penyebabnya adalah BBLR, Asfiksia neonatorum, infeksi, tetanus neonatorum dan lain-lain. Dari data Dinas Kesehatan tahun bahwa penyebab kematian bayi terbesar kedua adalah asfiksia yaitu 69 kasus (19,94%) dari 346 bayi meninggal. Menurut data medis RSUD tahun jumlah seluruh bayi tahun yang dirawat di ruang Perinatologi yaitu 1.073 bayi, bahwa kejadian asfiksia di RSUD yaitu 215 bayi, angka BBLR tahun adalah 279 bayi. Jumlah BBLR dengan Asfiksia adalah 107 bayi. Sedangkan jumlah seluruh angka kematian bayi pada tahun yaitu 102 bayi. Penyebab utamanya ialah BBLR dengan asfiksia 23 kasus (22,55%), pneumonia 6 kasus (5,9%) dan lain-lain 73 kasus (71,6%). Dari data Rekam Medik RSUD tahun kejadian BBLR dan asfiksia masih tinggi, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara BBLR Dengan Terjadinya Asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah Tahun ”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan masalah pokok yang diuraikan dalam latar belakang di atas, maka dapat di ambil rumusan masalah sebagai berikut : Belum diketahuinya hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah Tahun . Bertitik tolak dari rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitian adalah “Apakah ada hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di SUD pada tahun ?”. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di Rumah Sakit Umum Daerah tahun . 1.3.2 Tujuan Khusus 1.3.2.1 Untuk mengetahui distribusi frekwensi kasus BBLR di RSUD tahun . 1.3.2.2 Untuk mengetahui distribusi frekwensi kasus asfiksia di RSUD tahun . 1.3.2.3 Untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia di RSUD tahun . 1.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini adalah secara khusus akan meneliti tentang BBLR sebagai variabel bebas dan Asfiksia sebagai variabel terikat di Rumah Sakit Umum Daerah tahun . 1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Untuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam melaksanakan penelitian selanjutnya. 1.5.2 Manfaat Bagi Institusi Rumah Sakit Dapat mengetahui hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia sehingga dapat mengantisipasi kejadian asfiksia akibat BBLR. 1.5.3 Manfaat Bagi Penulis Sebagai aplikasi antara ilmu yang didapat di pendidikan dengan kondisi nyata di lapangan. Untuk menambah wawasan, pola pikir, pengalaman dan meningkatkan pengetahuan tentang hubungan antara BBLR dengan terjadinya asfiksia.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.221

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI